SELASA : MENTALITAS “PERGI DUDUK DITEMPAT YANG PALING RENDAH”

20 September 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Lukas 14:7-11

A. PENGANTAR

Sudah menjadi natur manusia, sangat senang untuk dipuji dan dihormati, diberikan tempat yang terhormat. Apalagi jika merasa ada sumbangsihnya terhadap sesuatu, maka seperti menjadi keharusan namanya disebut. Jika tidak, dia akan merasa terluka. Semakin besar sumbangsihnya, semakin keras namanya harus disebut atau minimal disebutkan dia berjasa.

Natur ini ada sejak manusia jatuh kedalam dosa. Dan kita tahu natur ini bukan berasal dari Allah melainkan dari si jahat yang berhasil “menularkan” natur ini kepada manusia.

Memang pada kenyataanya, tidak semua orang secara vulgar mengekspresikan sikap ingin dipuji, ingin dihormati, ingin dianggap berjasa. Ada juga yang hanya secara diam-diam atau tidak terlihat seperti orang yang ingin dipuji, tapi dalam hatinya menggebu-gebu untuk dihormati dan dianggap berjasa. Dua-duanya sama, memiliki mentalitas atau sikap yang sama.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Lukas 14:7-11
14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
14:8 “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Tuhan Yesus dalam Lukas 14:7-11 menceritakan sebuah perumpamaan karena terpicu oleh sikap orang-orang yang senang berebut tempat terhormat. Tidak tahan dengan mentalitas orang-orang tersebut, maka Tuhan Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan yang intinya mengajarkan untuk jangan suka meninggikan diri karena orang yang meninggikan diri akan direndahkan dan siapa merendahkan diri justru dia akan ditinggikan. Biarlah pujian itu datang bukan karena dicari-cari. Justru sebaliknya saat pujian dan kehormatan itu tidak dicari, maka itu akan datang kepada kita jika memang kita layak menerimanya. Ini sebuah prinsip ilahi. Allah menolak orang yang sombong dan menerima orang yang rendah hati. Ini bicara tentang sikap atau mentalitas kita dalam kehidupan. Jika kita berjuang mengejar status didalam dunia atau digereja, maka yang terjadi adalah pikiran kita akan dipenuhi perkara duniawi; dengan diri sendiri, dengan daging. Dengan demikian, Allah akan merendahkan kita. Dia akan menjatuhkan kita, jika kita tidak melepaskan hal-hal tersebut dan meninggalkan keduniawian serta kedagingan. Allah menolak orang-orang yang mempunyai mentalitas berebut tempat terhormat.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Mari kita refleksikan kedalam diri kita renungan hari ini. Apakah kita masih termasuk orang-orang yang haus akan pujian, ingin dihormati, ingin dianggap penting, ingin dianggap berjasa? Dimanapun entah itu didalam pekerjaan, di gereja, dilingkungan rumah kita. Jika ya, maka kita harus bersungguh-sungguh berdoa agar Tuhan menolong kita untuk kita berubah dan agar kita bisa meneladani hidup-Nya. Jangan sampai kita ditolak oleh Allah karena kita orang yang sombong ingin meninggikan diri. Tuhan ingin kita memiliki mentalitas yang benar, yaitu mentalitas pergi duduk ditempat yang paling rendah(Lukas 14:10) yang artinya tidak peduli seberapa besar jasa atau sumbangsih kita, seberapa tinggi pangkat kita, seberapa banyak kekayaan yang kita miliki, kita tidak mencari-cari pujian dan hormat dari manusia. Puji Tuhan, Jika Tuhan ijinkan kita mendapat pujian dari manusia, tapi jika tidak maka kita tidak perlu kecewa dan bersusah hati. Yang terpenting dimata Allah kita tidak menjadi orang yang sombong. Terdengar idealis, tapi inilah memang yang Tuhan ajarkan kepada kita anak-anak yang dikasihiNya.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Bagikan dan kuatkan saudara seiman yang merasa kecewa karena merasa tidak dianggap baik didalam pekerjaannya, dirumah bahkan mungkin digereja.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47