KAMIS : MENJAGA PIKIRAN, MENGALAMI PEMBAHARUAN AKAL BUDI

04 November 2022

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor

A. PENGANTAR

Selain roh kita, Allah juga rindu agar jiwa dan tubuh kita juga terpelihara sempurna, tetap terjaga atau tetap dipertahankan keadaannya sampai dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Kemarin kita sudah membahas mengenai menjaga roh kita agar selalu dipenuhi oleh Roh Kudus. Hari ini kita masuk dalam pembahasan mengenai menjaga jiwa kita.

Jiwa menurut Alkitab bukan hanya satu bagian saja dalam hidup kita, melainkan segenap hidup kita, segenap kepribadian dan watak kita karena didalam jiwalah terdapat pikiran, perasaan dan kehendak/keinginan kita. Hari ini kita akan fokus bagaimana menjaga pikiran kita. Jika pikiran kita diubahkan maka kita juga bisa mengendalikan keinginan kita.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mrk. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Rm. 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
2Kor. 11:3 Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Dari bacaan FT kita diatas, kita mengerti bahwa mengasihi Tuhan tidak cukup hanya dengan perasaan saja. Tapi juga harus dengan pikiran dan akal budi kita juga. Kenapa? karena tanpa akal budi yang dijamah, kita tidak akan memahami hal yang sedang Allah kerjakan buat kita. Dan kita biasanya tidak akan melakukan apa yang tidak kita pahami. Itu sebabnya memiliki pengalaman yang menyentuh perasaan itu penting, tapi itu tidak cukup karena kita akan mudah kehilangan hal tersebut. Perasaan itu mudah datang dan pergi. Tapi jika kita bisa menggabungkan antara pengalaman yang menyentuh perasaan tersebut dengan akal budi kita maka kita tidak akan kehilangan hal tersebut. Maksudnya apa? Maksudnya adalah kita harus terus memperbaharui pikiran kita. Karena itu penting sekali untuk kita terus belajar mengenai Alkitab, menggali kebenaran Firman Tuhan. Bukan hanya mengejar selesai membaca Alkitab, tapi yang lebih penting adalah bagaimana memahaminya. Tapi jangan salah mengerti, maksud dari memahami disini bukan hanya secara intelektual melainkan juga secara spiritual. 2 hal ketidakseimbangan yang sering terjadi adalah biasanya yang satu terlalu menitik beratkan kepada pengalaman spiritual saja tanpa mengejar juga pemahaman akan kebenaran FT atau pembaharuan akal budi, dan yang lainnya sebaliknya terlalu menitik beratkan kepada pemahaman isi Alkitab tetapi tidak berusaha mengalami isi Alkitab itu sendiri.

Sebagai orang Kristen, sangat penting untuk memahami apa yang kita yakini dan mengapa kita meyakini hal-hal tersebut. Bisakah kita mempertanggungjawabkan iman kita saat ditanya? Misalnya ketika kita berkata, “Aku sudah diselamatkan” lalu ada orang bertanya “Apa arti sudah diselamatkan?” maka kita harus bisa menjelaskannya dengan jelas. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita bertumbuh juga dalam pikiran dan akal budi kita.

Menjaga pikiran kita artinya tetap memenuhi pikiran kita dengan kebenaran FT. Ayat Alkitab hanya akan menjadi pengetahuan jika kita tidak memahami dan mengalaminya. Hanya dengan demikianlah, kita bisa terhindar dari kesesatan (2 Kor 11:3). Ingat, kejatuhan Adam dan Hawa dimulai dari pikiran mereka yang disesatkan oleh Iblis. Dan ini pastinya tidak terjadi dalam sekejap mereka disesatkan. Tidak mungkin mereka disesatkan hanya dalam sekali pertemuan dengan si Iblis. Mungkin cukup lama Adam dan Hawa tidak mengkonsumsi kebenaran FT, tidak memenuhi pikiran mereka dengan FT dan malah membiarkan pikiran mereka dipenuhi yang lain sehingga mereka disesatkan dan jatuh.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Untuk memahami kebenaran FT dan mengalami pembaharuan akal budi tentunya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita harus bergantung kepada Roh Kudus. Tapi sementara kita bergantung kepada Roh Kudus, kita juga berusaha maksimal untuk mempelajari FT. Contoh sederhana, ketika kita membaca FT kita berusaha memahaminya juga dari bahasa aslinya atau terjemahan lain yang lebih mudah dimengerti tapi juga tidak merusak esensi dari ayat tersebut. Penting juga kita membaca pengantar dari surat tersebut ditulis sehingga kita memahami latar belakang kejadian yang ada didalamnya. Ini bukan hanya bisa dilakukan mahasiswa teologia, apalagi dengan teknologi yang ada sekarang ini. Bisa juga kita belajar dari khotbah atau tulisan dari hamba-hamba Tuhan yang lain yang memang sudah teruji kehidupan dan pengajarannya. Yang terpenting adalah biarkan Alkitab menerjemahkan dirinya sendiri. Artinya jika ada pemahaman kita terhadap suatu ayat yang sedang kita pelajari bertentangan dengan ayat lain yang ada di Alkitab maka ada yang salah dengan pengertian/tafsiran kita. Karena ayat-ayat didalam Alkitab itu tidak bertentangan, sekalipun sekilas sepertinya ada.

Jadi mari kita punya keinginan untuk terus bertumbuh didalam pengenalan akan Tuhan lebih lagi. Dan pengenalan itu harus lengkap. Tidak hanya secara perasaan saja mengalami dijamah oleh Tuhan, bukan hanya secara spiritual atau adikodrati. Tapi juga secara kebenaran FT kita memahaminya dengan baik. Dengan demikian kita berusaha untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saling berbagi ceritalah dan saling menguatkan dengan rekan komsel/saudara seiman tentang topik renungan hari ini.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47