Renungan firman

RABU – MENGAPA ORANG YAHUDI MEMBENCI ORANG SAMARIA?

30 Agustus 2023

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: Yohanes 4:1-42

PENGANTAR

Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, Yohanes 4:9 memberikan catatan, “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.” Ternyata perseteruan mereka ini punya sejarah yang panjang.
Orang Samaria menghuni negeri (di bagian utara Israel) yang dulunya milik suku Efraim dan separuh dari suku Manasye. Samaria ialah ibu kota negeri tersebut, yang dulunya sebuah kota besar dan megah. Ketika sepuluh suku Israel dibawa menjadi tawanan ke Asyur, raja Asyur mengirim orang asing dari Babel, Kuta, Awa, Hamat, dan Sefarwaim untuk mendiami Samaria (2 Raj 17:24; Ezr 4:2-11). Orang asing ini kemudian menikah campur dengan penduduk Israel yang masih tinggal di atau sekitar Samaria. “Orang Samaria” ini awalnya menyembah berhala. Orang Samaria umumnya beragama Yahudi dengan beberapa perbedaan. Oleh karena itu, seorang imam Yahudi dikirim dari Asyur untuk mengajari mereka tentang agama Yahudi. Mereka diajari dari kitab Musa (taurat), tetapi masih mempertahankan banyak ritual penyembahan berhala. Orang Samaria memeluk agama yang merupakan campuran dari Yahudi (Yudaisme) dan penyembahan berhala (2 Raj 17:26-28). Karena orang Israel di Samaria telah menikah dengan orang asing dan memeluk agama penyembahan berhala mereka, orang Samaria umumnya dianggap “orang-orang berdarah campuran.” Mereka dibenci oleh seluruh orang Yahudi bahkan tidak bergaul. Orang Yahudi menganggap diri mereka murni, sementara Samaria orang yang cemar.

PEMBELAJARAN

MENEMUKAN (M1)

Alasan lain yang menyebabkan timbulnya permusuhan antara orang Israel dengan orang Samaria adalah: 1. Orang Yahudi, setelah kembali dari pembuangan di Babilonia, mulai membangun kembali bait mereka. Ketika Nehemia sedang membangun tembok Yerusalem, orang Samaria berusaha keras menghentikan pembangunan tersebut (Nehemia 6:1-14).

  1. Orang Samaria membangun bait mereka sendiri di “Gunung Gerizim.” Mereka bersikeras menganggap Musa yang menentukan tempat itu sebagai tempat penyembahan bagi mereka. Sanbalat, pemimpin orang Samaria, menetapkan menantu laki-lakinya, Manasses, sebagai imam tinggi. Agama penyembah berhala orang Samaria terus berlangsung. 3. Samaria menjadi tempat pengungsian bagi para pelanggar hukum dari Yudea (Yos 20:7; 21:21). Orang Samaria bersedia menerima para penjahat orang Yahudi dan orang yang diusir. Para pelanggar hukum Yahudi dan mereka yang dikucilkan menemukan tempat perlindungan di Samaria, sehingga semakin menambah kebencian di antara kedua bangsa ini. 4. Orang Samaria hanya bersedia menerima lima kitab Musa. Mereka menolak semua tulisan para nabi dan tradisi Yahudi.

MERENUNGKAN (M2)

Dari alasan inilah muncul perselisihan yang tidak dapat atau sulit untuk didamaikan di antara mereka (musuh bubuyutan). Orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai ras manusia terburuk (Yoh 8:48) dan tidak mau berurusan dengan mereka (Yoh 4:9).

MELAKUKAN (M3)

Meskipun orang Yahudi dan Samaria saling membenci, Yesus menghancurkan penghalang di antara mereka. Yesus mengajarkan injil damai sejahtera dan injil bagi semua manusia kepada orang Samaria (Yoh 4:6-26). Para rasul kemudian mengikuti teladan-Nya (Kis 8:25) dalam pengabaran injil Allah. Yesus mengatakan sebuah nubuatan ‘tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar (bisa orang orang Yahudi dan Samaria) akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran sebab Bapa menghendakI penyembah-penyembah demikian. Bukan menyembah digunung Gerizim ini (orang Samaria) dan bukan juga di Yerusalem (orang Yahudi)

MEMBAGIKAN (M4)

Semua lidah akan mengaku dan lutut akan bertelut, apapun suku bangsa dan latar belakangnya, mereka semua akan mengaku Yesus adalah Tuhan (Fil 2:10), tidak ada lagi tembok-tembok agama, tradisi, adat istiadat, perbedaan serta latar belakang apapun yang akan membatasi.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47