28 Agustus 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: Lukas 10:25-37
PENGANTAR
Pagi ini kita akan merenungkan kisah Orang Samaria yang baik/murah hati, Orang samaria ini dilihat dari sudut pandang agama dan sejarah masa lalu Orang Yahudi bukanlah orang yang dapat diperhitungkan, atau orang yang dianggap “tidak mendapat tempat”. Oleh karena itu seorang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria, yang dianggap hina oleh mereka. Dalam kisah ini Tuhan Yesus memberikan perumpamaan, bahwa sikap orang Samaria justru lebih baik dari pada sikap para pemimpin agama (iman yahudi dan orang Lewi).
PEMBELAJARAN
MENEMUKAN (M1)
Kisah itu dimulai dari tergeletaknya seorang yang dirampok, ia kehilangan harta benda dalam keadaan sakit (terluka – wounded) dan setengah mati, dalam keadaan seperti itu ia tidak mampu menolong dirinya sendiri, ia membutuhkan pertolongan orang lain. Kebetulan lewatlah seorang Imam (priest), seorang imam adalah pemimpin agama, ia biasa memimpin upacara-upacara agama bahkan mengajar di rumah ibadat. Namun seorang Imam yang dikenal pemimpin agama itu lewat begitu saja, acuh dan pura-pura tidak mengetahui orang yang setengah mati itu. Kemudian lewatlah seorang Lewi. Seorang Lewi dikenal sebagai orang suci karena mereka adalah turunan golongan para pemimpin agama. Seorang Lewi inipun memiliki sikap yang sama dengan seorang Imam tadi, yaitu lewat begitu saja dan pura-pura tidak tahu. Keduanya-duanya adalah orang-orang yang dihormati dan disegani. Selanjutnya lewatlah seorang Samaria, golongan rendah dan hina, namun orang Samaria ini itu justru melakukan hal yang mulia, yaitu menolong mengobati dan merawat orang yang setengah mati itu.

MERENUNGKAN (M2)
Dari perumpamaan Tuhan Yesus itu kita dapat menarik pelajaran rohani yang indah. Hari-hari ini kita harus jujur, melalui media Tv dan online bahkan radio, mata kita menyaksikan secara langsung, banyak saudara-saudara kita yang dalam kesusahan dan kepedihan. Melalui bencana-bencana alam yang terjadi, krisis ekonomi (karena pandemi), krisis social, dan mereka yang banyak kehilangan orang yang mereka kasihi, kehilangan harta benda, bahkan mereka sendiri dalam keadaan setengah mati. Hal itu sama seperti keadaan orang yang dirampok antara Yerusalem dan Yerikho. Kita (jemaat) adalah orang yang lewat dan melihatnya (tidak simpati bahkan empati).
MELAKUKAN (M3)
Saudara terkasih, setelah kita merenung kisah orang samaria ini, marilah kita mengambil sikap yang tepat seperti orang Samaria yang murah hati. Melalui kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita (sesama manusia) yang ada disekitar kita dan jemaat di daerah (jemaat pengayoman), untuk dapat membantu baik melalui dana dan doa untuk mereka. agar saudara-saudara kita yang tertimpa bencana maupun tekanan ekonomi dapat ditolong. Tuhan tidak menilai siapa kita, tetapi sikap kitalah yang dinilai Tuhan. Injil Tuhan selalu berada bersama-sama orang yang berkesusahan, untuk itulah hati kita yang berpusat pada injil harus selalu ada di hati mereka (saudara) yang tidak seberuntung kita.

MEMBAGIKAN (M4)
Ekspresikan renungan ini melalui doa dan tindakan nyata, seperti melalui janji dana misi jemaat, janji dana POTA (anak asuh) dan janji diakonia, ingatlah kekuatan injil adalah keselamatan bagi banyak orang, bukan saja keselamatan Rohani tetapi juga jasmani. Yuk kita mulai sikap hati kebaikan dri mulai hal yang kecil.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

