SELASA – PAULUS MENGUCAP SYUKUR DALAM PENJARA

26 September 2023

Penerbit: Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Kolose 4:10
A. PENGANTAR

Orang umumnya mudah bersyukur jika segala perencanaan berjalan dengan baik/lancar. Kondisi hidup sesuai dengan apa yang diperkirakan (harapkan) dan situasi masih ada dalam kendalinya. Ini hal yang umum. Begitu juga sebaliknya. Orang umumnya sulit bersyukur ketika situasi menjadi tidak pasti, bahkan berlawanan dari apa yang direncanakan. Tetapi tidak demikian dengan rasul Paulus. Ia tetap bersyukur kepada Allah, bahkan ketika ia sedang berada di penjara (Surat Kolose 4: 10 & 14 dan Filipi 1:12-14). Kepada jemaat Kolose dan Filipi, Rasul Paulus menulis betapa ia bersyukur kepada Allah sekalipun hukuman yang menimpanya membatasi kebebasannya dalam memberitakan Injil Kristus.
Khusus untuk Jemaat Filipi, Rasul Paulus memberikan dua alasan mengapa ia bersyukur dalam perikop in
Pertama, Rasul Paulus bersyukur setiap kali ia mengingat jemaat Filipi dan persekutuan mereka dalam berita Injil (ay.3-5). Jemaat Filipi tumbuh dan berkembang melalui pelayanan misi yang rasul Paulus lakukan bersama dengan Silas, dimana Timotius turut serta bersama mereka (Kisah.16:1-5,13-18). Orang pertama yang bertobat di sana ialah seorang perempuan bernama Lidia, penjual kain ungu. Mereka diundang untuk menumpang di rumahnya (ay.15). Paulus juga mengusir roh tenung dari seorang hamba perempuan (ay.16-18). Singkat cerita, rasul Paulus dan Silas dijebloskan ke dalam penjara dan tubuh mereka didera berkali-kali (ay.22-23). Tetapi justru di dalam penjara ini kuasa Allah akan dinyatakan! Melalui peristiwa ajaib dalam penjara, kepala penjara dan keluarganya bertobat dan memberi diri mereka dibaptis (ay.30-33). Setelah rasul Paulus kembali ke rumah Lidia, mereka melanjutkan perjalanan misi ke kota Tesalonika. Inilah cikal bakal jemaat Filipi. Di tengah pergumulannya dalam penjara, ia bersyukur karena benih Injil yang telah ditaburkan tumbuh dihati jemaat Filipi. Fokus rasul Paulus dalam bersyukur bukan pada hal baik yang terjadi pada dirinya, tetapi pada kebaikan yang terjadi dalam diri orang lain dan pada penggenapan kehendak Allah atas diri mereka, dalam hal ini jemaat Filipi.
Kedua, rasul Paulus dapat bersyukur walau di tengah situasi sulit dan terbatas karena ia yakin kepada pemeliharaan Allah (Filipi 1:6). Sekalipun ia tidak dapat berbuat banyak pada saat itu, selain menulis surat, rasul Paulus tahu bahwa Allah “yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (ay.6). Jika Paulus berfokus pada diri yang terbatas, sangat mungkin ia mengeluh dan merasa gagal. Tetapi ia mengarahkan pandangannya pada Allah yang tidak terbatas dan yang setia. Allah yang telah memulai dan memelihara segala pelayanan di Filipi sampai akhir.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1).


“Kemanakah kita sebagai umat Tuhan mengarahkan pandangan kita di tengah situasi yang tidak pasti? Ke arah manusia? Atau ke Diri sendiri? Ataukah kepada Allah yang akan memelihara kita dan segala yang telah kita kerjakan di dalam Dia sampai akhir? Jika kita mengarahkan pandangan kepada Allah yang memelihara, kita punya 1001 alasan untuk selalu bersyukur, walau di dalam “penjara”sekalipun..

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Dengan pemahaman ini, seharusnya kita sebagai orang Kristen harus tetap bersyukur dengan apapun persoalan dan tantangan yang kita alami, sebab mata kita senantiasa memandang pada salib Kristus dan melihat benih-benih injil yang tertanam.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Tetaplah setia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan iman dan pemberitaan injil, karena kita tahu setiap benih yang ditanam/tabur akan bertumbuh dan berbuah.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Mari kita berfokus pada karya Injil (karya keselamatan Yesus) maka apa pun yang kita alami sekalipun sulit dan berat, akan menjadi kesaksian bagi banyak orang percaya.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47