SELASA – MIMPI UNTUK KELUARGA

24 Oktober 2023

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : 2 Timotius 1:5

A. PENGANTAR

Hellen Keller pernah mengatakan kalimat yang terkenal sampai sekarang, katanya : “Orang yang paling menyedihkan di dunia ini adalah orang yang mempunyai penglihatan namun tidak memiliki visi.”. Hellen Keller adalah seorang penulis, aktivis politik dan dosen Amerika. Ia menjadi pemenang dari Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom sebuah penghargaan tertinggi dari negara Amerika kepada orang sipil, The Lions Humanitarian Award, bahkan kisah hidupnya meraih 2 piala Oscar. Hidupnya sungguh menginspirasi banyak orang. Apa yang menjadi luar biasa dari Hellen Keller adalah, dia menderita tuli dan buta sejak usia 19 bulan. Jelas sekali bahwa hidupnya digerakkan oleh tujuan/impian.

Hal ini mengingatkan kembali kepada kita bahwa memiliki impian sangat penting bagi kita. Impian menentukan arah hidup kita. Jika kita tidak mempunyai impian, berarti kita tidak memiliki arah hidup.

Kemudian jika kita tanyakan kepada diri kita masing-masing saat ini, apakah yang terpenting dalam hidup kita? Tuhan sudah pasti, tidak bisa ditawar karena hanya dari Dia lah hidup kita berasal dan pada Dialah hidup kita bermuara. Lalu selain itu apalagi yang terpenting? Keluarga kita. Ya, keluarga adalah komunitas terkecil yang Tuhan percayakan pada kita entah itu keluarga asal kita dilahirkan dan dibesarkan ataupun keluarga dimana kelak kita menghabiskan hidup kita bersama pasangan dan anak-anak yang Tuhan percayakan. Keluarga seharusnya menjadi yang terpenting berikutnya setelah Tuhan. Nah, untuk sesuatu yang sepenting ini maka kita harus mempunyai tujuan/impian atasnya. Apa impian kita untuk keluarga kita?

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

2 Timotius 1:5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”
Kis 16:2 “Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium,”

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Bicara tentang tujuan adanya keluarga, mungkin tidak akan cukup hanya dengan menuliskannya dalam renungan yang terbatas ini. Sudah banyak juga buku-buku dan seminar-seminar yang membahas tentang keluarga. Tetapi hari ini, secara sederhana renungan ini ingin mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa kita harus memiliki mimpi atas keluarga yang Tuhan percayakan kepada kita. Adalah baik, jika seorang kepala keluarga bekerja dan mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan memastikan anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Memastikan keluarganya tidak kekurangan. Namun, sebagai seorang yang mengenal Tuhan Impian kita untuk keluarga kita haruslah lebih dari itu.

Dalam bacaan FT kita hari ini, ada fakta yang sangat indah yang dituliskan oleh Alkitab. Fakta itu bercerita tentang kehidupan iman 3 generasi. Generasi itu adalah Lois, Eunike dan anak dari Eunike. Siapakah anak itu? dia adalah Timotius yang diidentifikasi sebagai murid Paulus. Timotius ini masih muda waktu Paulus mengenalnya. Timotius ini dikenal memiliki karakter dan kehidupan yang baik (Kis 16:2). Paulus terkesan dengan iman dari Timotius ini yang mana rupanya iman itu adalah hasil dari didikan neneknya Lois dan ibunya Eunike. Lalu kemana ayah dari Timotius ini? Ayahnya adalah orang Yunani (Kis 16:1) sehingga belum mengenal Tuhan. Namun hal itu tidak menghalangi Lois dan Eunike untuk tetap mengajarkan tentang kehidupan iman kepada Timotius. Selain itu, mereka hidup di Listra dimana orang Yunani tinggal dan dikelilingi oleh kehidupan dalam penyembahan berhala. Jadi tentu tidak mudah mendidik Timotius ditengah-tengah lingkungan orang Yunani yang tidak percaya kepada Tuhan.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Sekarang, apa mimpi kita untuk keluarga kita? anak-anak bisa sekolah dengan baik, punya rumah yang layak dan kendaraan yang bagus? Itu baik tentu saja. Tapi lebih dari itu, harusnya kita meneladani Lois dan Eunike. Mimpi kita adalah untuk kita bisa mewariskan kehidupan iman kita kepada anak-anak kita, pasangan kita, bahkan kepada orang tua, kakak-adik, kerabat yang belum percaya kepada Tuhan. Kehidupan iman, adalah warisan terindah yang mungkin bisa kita tinggalkan kepada keluarga kita. Iman 3 generasi, bahkan bergenerasi-generasi.
Lalu bagaimana cara praktisnya? Ada 2 hal yang bisa kita lakukan :

  1. Ajari keluarga kita apa yang kita percayai. Keluarga kita tidak akan tahu atau mempelajari warisan iman kita kecuali kita mengajari mereka.
  2. Hidupi apa yang kita percayai itu. Sangat penting bahwa apa yang kita nyatakan dengan mulut kita, dapat diwujudkan didepan keluarga kita.

Warisan iman disini bukan hanya bicara tentang keluarga atau anak-anak kita tetap menjadi Kristen ketika kita meninggal, namun iman disini adalah sesuatu yang menyeluruh dan nyata. Kehidupan mereka, karakter mereka, pasangan mereka (untuk anak-anak kita), dan segala aspek kehidupan mereka, kita rindu dan kita bermimpi itu menggambarkan kehidupan yang dipenuhi keilahian. Sebuah mimpi yang layak dan harus dikejar. Kiranya Tuhan menolong dan memberikan kekuatan kepada kita semua. Amin

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Mari saling meneguhkan saudara seimanmu dengan membagikan kebenaran yang engkau dapatkan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4