26 Oktober 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Yeremia 29:7
A. PENGANTAR
Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Jika kita benar-benar berfungsi seperti garam dan terang maka tidak mungkin kita tidak berkontribusi yang positif terhadap orang lain. Sebagai garam berarti harus bisa dirasakan, dan sebagai terang berarti harus bisa dilihat. Apa yang dirasakan dan dilihat dari hidup kita? tentu saja perbuatan-perbuatan dan sikap yang baik yang memuliakan Bapa disurga. Bisa dirasakan dan dilihat pertama-tama oleh keluarga kita, lalu saudara seiman, dan lingkup yang lebih luas yaitu lingkungan sekitar kita, kota bahkan bangsa.
Jadi, kita memang dipanggil untuk menjadi berkat bagi lingkungan, kota dan bangsa kita dimana kita tinggal. Dan bagaimana kita bisa menjadi berkat, jika kita tidak memiliki mimpi/cita-cita/keinginan untuk lingkungan, kota dan bangsa kita?Nehemia bisa membangun kembali tembok Yerusalem yang runtuh, karena dia memiliki mimpi bahwa bangsanya akan kembali kokoh seperti semula dan tidak direndahkan oleh bangsa lain. Diawali dari dia medengarkan kabar dan kondisi bangsanya dari Hanani, dan kabar itu membuatnya miris dan menggumuli kabar itu sehingga akhirnya muncullah keinginan/cita-cita dia untuk kembali membangun tembok Yerusalem.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Yeremia 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
Yehezkiel 22:30 “Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.”
B.2. MERENUNGKAN (M2)
FT di Yeremia 29:7 juga mengaskan kembali bahwa menjadi berkat bagi lingkungan, kota dan bangsa adalah panggilan Tuhan bagi kita. Kita harus terlibat, berkontribusi dalam mengusahakan kesejahteraan kota dimana kita tinggal. Karena itu kita harus membuka hati dan mata kita, tanamkan dalam diri kita bahwa kita ditetapkan sebagai terang dunia, sebagai kota yang terletak diatas gunung dimana tidak mungkin orang tidak melihatnya (Mat 5:14).
Bahkan jika kita renungkan FT di Yehezkiel 22:30, kita bisa merasakan isi hati Allah. Kita merasakan kepedihan hatiNya karena Dia tidak menemukan satu orangpun dari antara orang Israel yang mau berdiri dicelah antara Allah dengan bangsa Israel yang membela bangsa itu dari murka Allah. Baiklah kita bisa menjadi orang yang Allah cari bagi bangsa kita, yaitu orang yang mau membela bangsanya.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Menjadi berkat bagi lingkungan, kota dan bangsa bukanlah tugas atau panggilan untuk orang-orang tertentu saja melainkan untuk semua anak-anak Tuhan. Kita dipanggil untuk memberikan kontribusi positif ditempat dimana kita tinggal, di kota dan bangsa kita. Tentu saja dengan apa yang kita miliki, bukan dengan apa yang tidak kita miliki. Sesuatu yang sepertinya sederhana tapi bermanfaat itu sudah cukup. Misalnya sebagai seorang guru, selain dia mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dia juga mengajarkan tentang budi pekerti yang baik, filosofi-filosofi Alkitabiah, dsb. Mungkin memberikan penyuluhan disekolah-sekolah tentang Internet sehat. Atau mungkin seperti yang dilakukan anak-anak muda di sebuah kota di jawa barat dimana mereka bergotong-royong membersihkan sampah di saluran air, mengecatnya dan membuatnya bersih, lalu menaburinya dengan benih ikan.
Mari mulai coba memikirkan ide-ide sederhana yang kira-kira bermanfaat. Temukan apa yang menjadi impian dan cita-cita kita bagi lingkungan, kota dan bangsa kita. Selain itu tentu saja tidak lupa juga seperti yang FT katakan di dalam Yeremia 29:7 “..dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan..”.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Mari saling meneguhkan saudara seimanmu dengan membagikan kebenaran yang engkau dapatkan.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4

