14 November 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Lukas 6:37-42
“Janganlah kamu menghakimi maka kamu pun tidak akan dihakimi” (Lukas 6:37)
Ungkapan “jangan menghakimi orang lain” sudah seringkali kita dengar. Ungkapan tersebut menjadi sesuatu yang sangat biasa bagi kita di lingkungan gereja atau Persekutuan orang percaya. Namun, yang dapat dipertanyakan,” Apakah ungkapan itu memang dilaksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari?”. Maka baiklah kita mencari tahu mengapa kita selalu mudah menghakimi, meskipun kita tidak ingin menghakimi.
Apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di dalam perikop ini, oleh para psikolog disebut sebagai “kompensasi”. Kompensasi muncul akibat ketidakberhasilan kita untuk mencapai ukuran-ukuran atau harapan yang kita anggap mulia dalam hidup kita. Seringkali ukuran-ukuran itu terlalu berat, melampaui apa yang dapat kita capai secara wajar dalam hidup kita sebagai manusia biasa.

Anak sekolah jaman sekarang misalnya, dituntut untuk menguasai banyak sekali keterampilan dan semua hasil perjuangannya dicatat sebagai penentu peringkat atau “ranking”. Kalau dia berhasil, maka dia masuk peringkat, kalau gagal peringkatnya akan turun. Oleh karena turun nya peringkat ini besar dampaknya bagi si anak, maka biasanya dia bereaksi secara ”kompensatif”. Dia mulai menyalahkan semua orang lain, lingkungan/teman-temannya, orangtuanya bahkan gurunya sebagai penyebab mengapa dia gagal.
Kita warga jemaat Tuhan bukanlah seperti anak sekolah. Tetapi sistem yang ada dalam kehidupan kita bergereja dan bermasyarakat sering menuntut kita agar menguasai terlalu banyak hal supaya kita dapat dianggap sebagai orang yang berhasil atau hebat. Padahal sebagai manusia kita pasti memiliki kelemahan-kelemahan bahkan kekurangan. Itu sebenarnya wajar, namun sistem menyebabkan ketidaksukaan pada kesadaran bahwa kita mempunyai kelemahan-kelemahan. Maka yang sering terjadi adalah kompensasi: kelemahan-kelemahan kita pindahkan ke orang lain. Dia yang salah, dia yang payah!

Supaya kita tidak jatuh ke dalam hal menghakimi, baiklah kita menerima kelemahan-kelemahan kita yang wajar sebagai manusia. Kalau kita menerima kelemahan kita, maka tidak ada dorongan untuk mentransfer kelemahan itu ke orang lain. Jika terjadi kesalahan pun, malah kita bersama-sama untuk memperbaikinya.
DOA & REFLEKSI :
Berilah kami hati yang jujur untuk mengakui kekurangan diri kami bahkan mengakui kelebihan orang lain atau Saudara kami. Dan ketika kita saling melengkapi maka itulah yang sebenarnya disebut keluarga Allah.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4

