JUMAT- PENDERITAAN MENJADI KESELAMATAN, SESUATU YANG TIDAK MASUK AKAL?

19 Januari 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: Yesaya 38:17

Yesaya 38:17(TB) “Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan. Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu”
Pernyataan Yesaya ini agak sulit diterima akal manusia (make sense) Mana mungkin penderitaan menjadi keselamatan. Penderitaan itu membawa orang pada kesengsaraan. Itulah yang berlaku umum secara duniawi. Namun Yesaya memberikan jaminan bahwa ”di balik duka ada suka”. Allah memiliki suatu tujuan di balik segala penderitaan yang kita alami. Allah menggunakan keadaan-keadaan untuk mengembangkan karakter kita. Yesus memperingatkan kita bahwa kita akan menghadapi aneka masalah dan penderitaan di dunia “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap penderitaan atau terlindungi dari penderitaan, dan tidak seorang pun yang akan menjalani kehidupan ini tanpa masalah. Setiap kali kita berhasil memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Tidak semua masalah itu besar, tetapi semuanya berperan penting dalam proses pertumbuhan yang disiapkan Allah bagi kita.


Petrus meyakinkan kita, “Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu” (1 Petrus. 4:12). Allah memakai penderitaan untuk menarik kita lebih dekat kepada Diri-Nya. Kitab Suci mengatakan, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mzm. 34:18). Pengalaman-pengalaman penyembahan kita yang paling hebat dan mendalam mungkin terjadi ketika kita tengah mengalami masa-masa tergelap dalam hidup kita — ketika kita patah hati, merasa ditinggalkan, tidak dipilih, atau ketika mengalami penderitaan badani yang luar biasa — dan kita datang kepada Allah sendiri. Selama dalam penderitaan itulah kita belajar untuk menaikkan doa-doa kita yang paling murni, sepenuh hati, dan jujur kepada Allah.
Ketika kita berada di dalam penderitaan, kita tidak lagi memiliki tenaga untuk menaikkan doa-doa yang dangkal. Ketika hidup terasa menyenangkan, kita mungkin menikmatinya dengan kerinduan untuk mengetahui tentang Yesus, dengan meniru Dia dan mengutip perkataan-Nya serta membicarakan-Nya. Tetapi hanya dalam penderitaanlah kita akan benar- benar mengenal Yesus.
Allah mengizinkan penderitaan terjadi dalam hidup kita adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Tetapi justru melewati hal yang tidak masuk akal inilah kita didorong untuk memandang Allah dan bergantung sepenuhnya padaNya
Paulus memberikan kesaksian tentang hal ini: “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (2 Kor. 1:9).

REFLEKSI DIRI :

Kita tidak akan pernah menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya yang kita butuhkan sebelum kita merasakan Allah sebagai satu-satunya yang kita miliki. Apapun penyebabnya, tidak ada satu pun masalah yang bisa terjadi tanpa izin Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas seorang anak Allah sudah disaring oleh Bapa, dan Dia bermaksud menggunakannya untuk kebaikan meskipun Iblis dan yang lain memaksudkannya untuk keburukan.

HIKMAT HARI INI :

Karena setiap hari dari kehidupan kita sudah tertulis pada penanggalan Allah sebelum kita dilahirkan (Mzm. 139:16) maka “segala sesuatu” yang terjadi pada kita memiliki manfaat rohani. (Roma 8:28-29).

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4