RABU – ETIKA SOPAN SANTUN

15 Mei 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Matius 8:1-4, Matius 6:10, Matius 26:39

“Memiliki etika dan sopan santun adalah sebuah sikap iman yang dihargai oleh Tuhan Yesus. Bentuk penghargaan Tuhan Yesus tergambar dalam cerita Injil Matius 8:1-4, dimana Tuhan Yesus tanpa lama-lama langsung menyembuhkan seorang yang sakit kusta”, Kisah ini dua arti penting, yang pertama soal iman si kusta kepada Tuhan dan kedua tentang sikap kesopanan si Kusta.

Dalam ayat 2 dikatakan „Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah (menghormati) Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“ . Bahasa Yunani yang dipakai disitu kata telo, artinya jika mau, jika ingin, jika berkenan. Selain, si kusta memiliki sikap iman, ia juga memiliki sikap sopan santun pada Tuhan, karena dia memohon dengan penuh kerendahan dan penuh kesopanan kepada kehendak Tuhan, bukan kepada kehendaknya sendiri. Ia memohon perkenanan Tuhan.

Perhatikan bahwa yang ditekankan “jika Tuhan mau, bukan jika Tuhan bisa”. Penekanannya terletak pada kemauan atau kehendak Tuhan, bukan kepada kebisaan Tuhan. Jika penekanan pada kata “bisa” seolah-olah meragukan entah Tuhan bisa atau tidak bisa. Ada unsur keraguan kepada kuasa Tuhan Yesus.

Itulah sebabnya si Kusta itu memohon dalam kerendahan. Bukannya ia mau memaksa Tuhan. Cocok dengan doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada para muridNya, bukan kehendakku tetapi kehendakMu yang jadi (Matius 6:10); atau Matius 26:39 “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”).

Nilai etika yang hendak diajarkan disini adalah bahwa jikalau kita mau minta tolong pada orang lain, maka hendaknya kita minta bantuan dengan sikap dan tutur kata kita yang sopan. Akan tetapi perlu ditekankan disini bahwa Tuhan Yesus mengabulkan permintaan si kusta itu bukan karena terutama soal etika sopan santun yang ditunjukkan saja, tetapi juga terutama iman dan keyakinan sungguh-sungguh yang ditunjukkan.

Iman si kusta ditunjukkan dari sikap bersujud dan menyembah Yesus, bukan sekedar etika sopan santun budaya Timur Tengah waktu itu (sekali lagi ditekan jika Tuan mau, bukan jika Tuan bisa).
Sopan Santun adalah kepribadian yang tahu menempatkan orang lain ditempat yang seharusnya (terbaik).

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo