26 Juni 2024
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : 1 Kor 13:1-3; 1 Kor 13:7
Kita sedang merenungkan bagian kalimat yang dituliskan dalam 1 Kor 13:7 yaitu “Kasih percaya segala sesuatu”. Untuk bisa memahami maksud dari kalimat ini, maka perlu kita baca perikopnya dengan utuh, kita juga harus merenungkan tujuan Paulus menuliskannya serta kondisi penerimanya pada saat itu yaitu Jemaat Korintus. Pertanyaan yang patut kita ajukan adalah “ada apa dengan jemaat Korintus” sehingga Paulus mengingatkan mereka tentang KASIH dalam hal ini Kasih percaya segala sesuatu.
Jemaat Korintus pada saat ini dengan berbagai karunia Roh yang berbeda-beda, mereka melakukan berbagai macam mujizat dan mereka melihat melihat tanda-tanda ajaib terjadi dalam jemaat. Disisi yang lain mereka juga hidup dalam kedagingan, percabulan, perseteruan, perselisihan, amoralitas terjadi di dalam jemaat. Tuhan memberikan karunia, tetapi mereka tidak dewasa untuk melakukan karunia tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jadi kita perlu belajar “karunia satu hal tetapi bagaimana kita hidup dalam karunia tersebut butuh kedewasaan”. Kasihlah yang membuat kita dewasa dalam mempergunakan atau hidup dalam karunia, mempergunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kalau kita baca 1 Kor 13:1-3, Paulus mencontohkan dirinya sendiri bahwa tanpa kasih apapun yang dia lakukan, kalau bukan karena “AGAPE”, kata-katanya sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing, dia sama sekali tidak berguna dan apapun yang dilakukannya sedikitpun tidak ada faedahnya. Apakah kita mau bahwa semua yang kita katakan dan lakukan tidak ada artinya? Sangat menyedihkan kalau hal ini terjadi dalam hidup kita.
Selanjutnya mulai 1 Kor 13:4 ada ada 15 item karakter kasih 11 karakter kita sudah pelajari, sekarang kita sedang merenungkan yang ke 12 “Kasih percaya segala sesuatu”. Kasih menolong kita untuk hidup berjemaat dengan paradigma, cara berpikir untuk memiliki karakter Kasih kita percaya segala sesuatu. Hal ini bukanlah membuat terjerumus dalam kompromi, kebohongan atau membiarkan orang hidup dalam dosa dan kesalahnya. Tetapi dalam jemaat kita harus bangun pola pikir “percaya oleh kasih” kepada jemaat yang lain.

Memang dalam jemaat ada berbagai macam tipikal orang, cara bicara atau ada juga perilaku negatif. Untuk hal ini kita harus belajar untuk menyadarinya dan percaya memang inilah jemaat yang butuh pemulihan. Percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata, bahwa dalam jemaat ada kelebihan dan kekurangan dari setiap orang, kemampuan yang berbeda-beda. Mari kita terus percaya dan berdoa agar jemaat terus mempraktekkan cara hidup yang benar dengan kasih percaya segala sesuatu.
Tetap percaya oleh kasih, kasih percaya segala sesuatu, akan membuat kita bisa bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan jemaat akan hidup maksimal dalam karunia yang berbeda-beda.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo

