13 Agustus 2024
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Yohanes 3:16, Efesus 5:23-33
Lanjutan renungan Senin, Kidung Agung termasuk kitab yang unik. Kisah cinta Raja Salomo yang diungkapkan dalam romantic puisi ini mengandung makna berlapis. Secara harfiah, kitab ini memaparkan keintiman hubungan antara suami-istri secara elok dan puitis dengan bumbu cinta yang indah.
Namun, jika hanya berhenti di situ, maknanya sangat terbatas. Kitab Kidung Agung sendiri sebenarnya menggambarkan _(metaphora)_ kasih Allah bagi umatNya Israel. Dan kita umat Tuhan perjanjian baru melihatnya sebagai gambaran Kasih Kristus bagi gereja *(Efesus 5:23-33)* dan bagi orang beriman secara individu (Yoh. 14:21-24).

Dan, betapa dahsyat kasih Kristus itu! The Message (versi MSG) menerjemahkan nats kasih yang digambarkan Kidung Agung (kidung Agung 8:6) adalah secara menggelora, “Kasih itu tangguh (tak terkalahkan) menghadapi bahaya dan maut. Kegairahan tertawa disaat menghadapi gertakan (terror) neraka. Api cinta pantang mundur, dan menyapu habis segala sesuatu yang merintanginya. Air bah tak mampu menenggelamkannya, hujan badai tak mampu memadamkannya. Kasih tidak dapat dibeli, tidak dapat pula dijual—kasih tidak akan ditemukan di pasar mana pun.”
Itulah kasih Kristus yang ditunjukkan-Nya dengan karyaNya mati di kayu salib, dikuburkan, dan dibangkitkan dari antara orang mati.
Bagaimana kita merespons kasih seagung itu? Dengan memercayainya—sehingga kita beroleh keselamatan (Yoh. 3:16). Dengan menyadari keagungan kasih-Nya, dan dengan mengingat kasih itu sudah dicurahkan ke dalam hati kita (Roma. 5:5), kasih itu akan menggerakkan kita untuk mengasihi dengan sepatutnya—dengan kasih ilahi. Begitulah kita mensyukuri dan merayakan kasih-Nya. Jika Tuhan mengasihi kita dengan kasih yang bergairah yang tak kunjung padam, bukankah kita tidak akan takut dan gentar dengan apapun dihadapan kita.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo

