Rabu – Kebiasaan Mengucap syukur

22 September 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Roma 14:6-8

A.PENGANTAR

Sejak kecil kita tentu telah diajarkan satu atau banyak kebiasaan oleh orangtua kita. Misal, kebiasaan berdoa sebelum makan atau sebelum tidur, kebiasaan mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu kepada kita dan banyak lagi lainnya. Itulah hati nurani manusia yang tahu manakah kebiasaan yang baik dan tidak baik. Di dalam kehidupan kekristenan, Tuhan Yesus telah memberikan satu benih kehidupan kekristenan, yakni benih Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga.

Sesungguhnya benih tangguh menghadapi keadaan senang dan susah adalah sudah diberikan kepada anak-anak Tuhan yakni benih Kristus. Kebenaran ini memberikan cara pandang yang selalu positif atau selalu melihat hikmah dibalik setiap peristiswa. Orientasi cara pandang kita adalah berfokus pada Kristus Tuhan. Sebab tidak seorangpun hidup untuk dirinya sendiri atau mengambil keuntungan atau kemuliaan untuk dirinya sendiri. Jika seseorang hidup, maka dia hidup untuk Tuhan, dan jika ia mati, maka ia mati juga untuk Tuhan. Hidup dan mati atau susah dan senang, adalah dalam penghormatan dan takut akan Tuhan. Ketika kita dapat memandang setiap peristiwa sebagai bagian pelatihan dari Tuhan, maka tentu kita akan terbiasa mengucap syukur.

Membangun kebiasaan mengucap syukur, dimulai dari cara pandang yang benar yakni bahwa Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu. Iman yang teguh kepada ayat Roma 14:7-8, maka akan menjadi motivasi yang mendorong kita untuk bertindak selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Ketika tindakan demi tindakan dilakukan secara kontinyu , maka dalam kurun waktu tertentu, kita akan memiliki respon otomatis di dalam pikiran bawah sadar kita yakni, ketika mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan maupun menyenangkan. Respon mengucap syukur lah yang akan keluar dari hati dan mulut kita. Kebiasaan ini jika dijaga dalam iman, maka tentu kita tidak akan pernah berniat untuk memprotes kepada Tuhan tatkala kerugian datang menguasai kita. Mari bangunlah kebiasaan mengucap syukur dalam segala keadaan. Tidak perlu memperbesar masalah, sebaliknya perkecilah masalah dan perbesar iman sebagai benih jalan keluar dari permasalahan kita.

B.PEMBELAJARAN

B.1. MENEMUKAN (M1)

Bacalah : Roma 14:6-8
1.Bagaimana respon ketika seseorang makan atau ketika seseorang tidak makan? (ayat 6)
2.Jika kita hidup, hidup untuk ….. dan jika mati, mati untuk….. (ayat 8)

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Apakah arti hidup dan mati untuk Tuhan? Bagaimana Anda dapat menghubungkannya dengan kebiasaan mengucap syukur dalam segala keadaan?

B.3. MELAKUKAN (M3)

Catatlah dalam 1 hari, berapa kali Anda mengucap syukur dan berapa kali Anda tidak mengucap syukur tatkala Anda mengalami kegagalan! Rencanakanlah untuk memperbesar ucapan syukur.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Bersaksilah kepada orang-orang terdekat Anda, tentang komitmen Anda untuk memulai kebiasaan selalu mengucap syukur kepada Allah.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47