24 September 2022
Penulis : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Ef. 4:2, Mat. 11:29
A. PENGANTAR
Hari-hari ini kita banyak sekali mendengar berita tentang kemarahan-kemarahan, emosi yang tidak terkontrol, dendam, dsb. Paling sering kita dengar adalah kejadian di jalan raya. Ada yang karena kesal kendaraannya didahului dengan kasar, sehingga akhirnya melakukan penganiayaan. Ada juga yang begitu marahnya sampai mengeluarkan senjata api hanya karena dia tidak diberi jalan untuk mendahului. Belum lagi jika itu dipicu oleh dendam, biasanya kejahatan yang dilakukan dan akibat yang ditimbulkan lebih buruk lagi. Juga cerita-cerita viral tentang kemarahan seseorang kepada pegawai restoran hanya karena pesanan makanan terlambat datang. Kemarahan yang disertai ancaman pelanggan sebuah toko peralatan olahraga kepada pegawai toko tersebut karena harga yang harus dibayar tidak sesuai. Dan masih banyak lagi cerita lainnya yang menghiasi halaman berita kita hari-hari ini.
Ya, memang masalah-masalah yang kita alami dalam hidup ini terkadang membuat kita mudah tersinggung dan lepas kendali. Namun, seharusnya kita tidak membenarkan apalagi menjadi pelaku dari perilaku buruk tersebut karena akan menghancurkan hati orang-orang yang kita kasihi dan menyebabkan kesengsaraan orang-orang yang ada disekeliling kita. Kita gagal menjadi berkat bagi orang lain ketika perilaku kita tidak menyenangkan bagi mereka.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Ef. 4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
Mat. 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

B.2. MERENUNGKAN (M2)
Efesus 4:2 dan Mat 11:29 menunjukkan kepada kita bahwa rendah hati dan lemah lembut itu tidak bisa dipisahkan. Orang yang rendah hati tidak mungkin dia perilakunya tidak lemah lembut. Begitu juga dengan orang yang lemah lembut yang benar pastilah lahir dari kerendah hatian. Artinya kita bisa mengenali apakah masih ada kesombongan dalam diri kita atau tidak yaitu dari apakah kita sudah memiliki sikap yang lemah lembut atau tidak. Jika kita masih menjadi orang yang suka dengan marah-marah, emosi tidak terkontrol, berbicaranya pedas cenderung menyerang, bisa dipastikan itu karena masih ada kesombongan dalam diri kita. Ams. 15:1 “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Allah tentunya tidak ingin mendengar dari kita sebuah nada yang menyinggung atau sepatah kata yang melukai hati orang lain. Yesus lahir untuk menebus kita dari dosa tersebut, sama seperti Dia juga menebus dosa-dosa lainnya.
Lemah lembut itu berarti dalam setiap perkataan dan perbuatan kita mengandung kelembutan. Meskipun mengandung kelembutan, tapi sebenarnya dia memiliki kekuatan yang tidak tertahankan. 2 Timotius 2:25 mengatakan sikap lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan untuk bertobat. Hal itu karena menjadi orang yang lembut berarti bahwa meski kita memiliki kekuatan dan potensi untuk menghancurkan melalui sikap dan tindakan, kita harus mengendalikannya sehingga kita memiliki sifat menenangkan pada orang lain.
“Tidak ada yang lebih kuat dari kelembutan.” – John Wooden
“Tidak ada yang lebih kuat di dunia selain sikap lemah lembut.” – Han Suyin
“Di mana kemarahan adalah nyala api yang meledak, kelembutan adalah hujan yang lembut.” – Fr. John Harden
“Kelembutan membawa kemenangan bagi yang menyerang, dan keselamatan bagi yang bertahan. Mereka yang akan diselamatkan oleh surga, akan dipagari dengan kelembutan.” – Lao Tzu
“Kekuatan terbesar yang bisa dicapai seseorang adalah kelembutan.” – Monty Roberts
“Kelembutan sejati didasarkan pada rasa utang kita kepada Dia yang menciptakan kita.” – Hugh Blair

B.3. MELAKUKAN (M3)
Kita harus meminta ampun kepada Tuhan karena seringkali kita gagal untuk bersikap lemah lembut. Itu karena masih banyak kesombongan dalam diri kita. Seringkali perkataan kita menyinggung orang lain. Bahkan rasanya puas jika itu bisa membuat lawan bicara kita malu atau terdiam. Seringkali kita masih arogan, merasa sok, merasa diri paling pintar, seringkali kita dengan bangga menunjukkan superioritas kita, dsb.
Dan bukan hanya meminta ampun, tetapi juga bertekad untuk kita belajar menjadi orang yang rendah hati dan lemah lembut dalam segala hal dan dimanapun kita berada. Kiranya Tuhan menolong kita dan Dia pasti menolong kita karena Dia telah memberikan roh yang lemah lembut dalam diri kita. Selama kita mau berubah dan diubahkan, Roh Nya pasti bekerja menyempurnakan kita. Halleluya!
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Bagikan pengalamanmu dengan rekan komsel/pelayanan tentang sikap lemah lembut. Dan diskusikan bagaimana agar kita bisa memiliki sikap yang lemah lembut dalam kehidupan kita.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

