22 Desember 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: 1 Kor 13:4-7
PENGANTAR
Pernahkah kita merasakan bahwa begitu sulitnya untuk mengasihi orang tertentu, karena sikapnya menjengkelkan, kata-katanya sering menyakitkan, atau gayanya kita tidak sukai. Terkadang kesulitan seperti ini membuat kita sulit untuk mempraktekkan kasih terhadap sesama, kita terjebak mengasihi dengan syarat. Praktek kasih semacam ini tampaknya kurang sesuai dengan konteks bacaan kita hari ini yang mengatakan bahwa kasih menutupi menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Hal ini jelas merujuk pada hubungan kita dengan sesama yang penuh kasih. Orang yang mengasihi akan bersabar dengan orang lain yang menjengkelkan maupun keadaan yang tidak menyenangkan.
Penjelasan diatas bukan berarti bahwa ketika kita mengasihi maka kita harus menerima apapun yang dikatakan oleh orang tersebut. Paulus mengingatkan bahwa kasih tidak bisa dipisahkan dari kebenaran, kasih harus bisa membedakan orang dengan perbuatannya, perbuatannya kita tidak setuju, tetapi orangnya tetaplah kita kasihi.
Percaya segala sesuatu lebih mengarah pada sikap yang tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Ini berarti kita mau mengharapkan hal-hal yang baik dari dan bagi orang lain. Kita melihat harapan yang baik melampaui keburukan seseorang. Bagaimana jika orang lain ternyata memang tidak bisa dipercaya? Yesus Kristus sendiri disakiti dan dikecewakan oleh banyak orang, termasuk murid-murid yang bertahun-tahun menikmati kedekatan dan kebaikan-Nya.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
1 Kor 13:4 Kasih itu sabar ; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Menurut ayat diatas bagaimana sifat kasih itu?
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Dalam Ayat 5-7: Apa yang dikatakan tentang kasih?
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Berprasangka buruk terjadi ketika kita sudah tidak percaya. Sering sekali hal ini menguasai pikiran kita ketika berhadapan dengan orang yang menjengkelkan atau orang yang tidak kita sukai. Apapun yang dia lakukan baik atau buruk semuanya menjadi buruk bagi kita, hal ini karena kita telah sulit untuk percaya. Percaya adalah satu perwujudan kasih, tidak berprasangka buruk tetapi percaya. Dengan percaya kepada Tuhan, kita punya pengharapan bahwa Tuhan sanggup mengubahkan setiap hati manusia, termasuk hati kita agar tidak terikat atau tertawan dengan peristiwa yang menjengkelkan. Oleh kasih Tuhan kita bebas dari prasangka yang buruk dan percaya kepada sesame kita. Hati-hati ketidakpercayaan kepada Allah ini juga membuat kita akhirnya kehilangan harapan.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Buatlah keputusan pada hari ini, bahwa kekecewaan karena mempercayai dan mengharapkan orang lain tidak boleh membatalkan atau menghancurkan keyakinan dan pengharapan kita kepada Tuhan. Percayalah Tuhan pasti bertindak sesuai dengan kebenaran dan keadilanNya. Dia akan memberikan kekuatan kepada kita, pertolonganNya tepat pada waktunya. Dia akan membuat semuanya baik.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Coba ceritakan bagaimana akibat dari prasangka buruk kepada seseorang? Dan bagaimana memulihkannya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

