09 Mei 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan :Matius 16:15 -17
A. PENGANTAR
Para murid Yesus Kristus selalu bersama-sama dengan Yesus Kristus selama Dia melayani di bumi. Kebersamaan Yesus dan para murid sedikitnya membuat para murid mendapatkan banyak pengajaran dari Yesus. Namun demikian, masih banyak hal yang sangat mendasar tentang Yesus Kristus yang belum mereka pahami. Secara mayoritas murid-murid tidak begitu mengenal siapakah Yesus itu sesungguhnya. Di bagian lain, dalam Yohanes 6, satu persatu murid Yesus Kristus meninggalkan Yesus karena pengajaran Yesus Kristus tentang roti hidup yang sangat berat dan tidak masuk akal para murid.
Dari kisah perjalanan Yesus Kristus dengan para murid, kita dapat memetik dan menyimpulkan bahwa yang sedang Yesus bangun dalam kehidupan para MuridNya yakni satu ukuran kehidupan dalam iman. Segala sesuatu yang Yesus ajarkan haruslah diresponi dari sudut pandang iman, bukan dengan akaliah manusia. Kelemahan beberapa murid Yesus adalah kecenderungan melihat realita kehidupan dengan nalar atau logika manusia. Termasuk ketika Yesus bertanya kepada para murid, tentang siapakah Yesus Kristus di mata mereka. Petrus menyambut dan menjawab pertanyaan Yesus, dengan kata-kata : “…”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16)’. Kali ini salah satu murid yang bernama Petrus, menjawab pertanyaan Yesus dengan iman. Seperti yang diungkapkan Yesus, dalam Matius 16:17 , “…”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”(Mat 16:1). Jawaban Petrus adalah jawaban rohani dan ilahi yang terucap bukan karena rekayasa Petrus, tetapi perkataan yang jawaban yang diberikan atau dianugerahkan oleh Bapa di Sorga. Jadi, iman Petrus adalah karunia Allah atau kemampuan berkata-kata yang berasal daripada Tuhan.

Itu sebabnya, syarat mutlak untuk dapat berjalan dalam kasih karunia atau karunia Allah adalah memiliki iman yang benar dan tahan uji kepada Allah dan firmanNya. Rentang waktu hidup bersama dengan Yesus Kristus, tidak menjamin murid-muridNya mengenal Allah melalui Yesus Kristus secara tepat dan benar. Pemahaman yang benar diperoleh murid Yesus seperti Petrus, ketika dia memiliki iman yang benar kepada Yesus Kristus. Tanpa iman sebagai karunia Allah semua pengenalan dan perbuatan kekristenan menjadi sia-sia. Pola hidup ini seperti ini adalah pola hidup orang Farisi. Hidup di luar iman atau kasih karunia Allah adalah gaya hidup orang Farisi atau Saduki. Oleh karena itu berusahalah kita untuk selalu memiliki iman di dalam semua bagian kehidupan, secara khusus pengenalan kita kepada Yesus Kristus sebagai Mesias atau Juru Selamat dan Tuhan. Iman yang benar tentang Anak Allah akan melahirkan berkat yang benar dan tepat.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1).
Bacaan: Matius 16:15-17
- Apakah pertanyaan Yesus kepada muridNya? Apakah jawaban Petrus? (ayat15-16)
- Apakah yang dikatakanNya kepada Petrus? (ayat 17)
B.2. MERENUNGKAN (M2).
Adalah satu kebahagiaan ketika seorang manusia dapat menyebut Tuhan sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Karena jawaban itu adalah dikaruniakan Bapa di Surga (Mat 16:17). Menurut Anda, bagaimana Petrus bisa menjawab pertanyaan Yesus Kristus? Kenapa Petrus dapat beriman melalui jawaban yang diberikan Petrus?
B.3. MELAKUKAN (M3)
Bukalah hati dan keluarkan jawaban dengan perkataan iman Anda tentang segala sesuatu yang ditanyakan oleh orang lain terhadap Anda yang menyangkut identitas Yesus Kristus.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Bersaksilah tentang Yesus Kristus melalui karunia Allah atau iman, sehingga kesaksian Anda berpengaruh nyata mengubah kehidupan orang lain.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

