01 Agustus 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: Lukas 10:15-37
PENGANTAR
_“Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu, ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan” (Lukas 10:32)
PEMBELAJARAN
MENEMUKAN (M1)
Kemudian, seorang Lewi datang ke tempat itu. Seorang Lewi bukanlah seorang imam tetapi merupakan seorang awam yang melakukan tugas keimaman (pelayan). Ia juga bekerja di Bait Suci tetapi bukan sebagai seorang imam. Ia semacam seorang pengurus gereja, atau pelayan/pekerja bergantung pada apa tugasnya di Bait Suci. Mereka diberi tugas yang berbeda-beda. Beberapa dari mereka adalah pemain musik (tim puji sembah) di Bait Suci. Beberapa dari mereka itu seperti anggota paduan suara gereja yang diberikan tugas tertentu dalam gereja. Dan yang lain mengurus berbagai macam departemen dan bangunan bait suci. Ada juga bagian yang memperhatikan detil-detil seperti menyediakan kayu untuk membakar korban bakaran. Mereka adalah petugas-petugas Bait Allah.
Orang Lewi tersebut datang ke tempat itu dan melihat orang yang terluka ini. Dan karena ia juga harus tetap tahir atas alasan yang sama seperti imam itu (saat teduh kemaren), ia berpikir dengan cara yang sama seperti imam itu. Setelah mempertimbangkan hal itu, ia juga melewatinya dari seberang jalan.

MERENUNGKAN (M2)
Sekarang kita baca renungan Matius 15:1-9. “Apa yang lebih penting?” “Apakah prioritas kita? Apakah perintah-perintah Allah? Apakah ada yang lebih penting dari belas kasihan? Imam berpikir demikian. Ia pikir ada hal-hal lain yang lebih penting daripada menolong orang yang terbaring di pinggir jalan itu. Ia mendahulukan adat istiadatnya. Adat istiadat mencegahnya dari menolong orang itu. Itulah maksud perkataan Tuhan, “firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” “Apakah firman Allah?” Firman Allah adalah kita mengasihi Allah dengan segenap keberadaan kita, dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Itulah perintah Allah. Tetapi imam dan orang Lewi itu telah menyatakan firman-Nya tidak berlaku karena mereka lebih prihatin tentang ketahiran dan kenajisan daripada firman Allah itu sendiri. Dan begitu, mereka meninggalkan orang itu. Mereka menyangkal perintah Allah demi adat istiadat mereka sendiri.
MELAKUKAN (M3)
Sekarang mari kita mempertimbangkan orang Samaria. Orang Samaria ini datang dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Orang itu adalah seorang Yahudi dan sebagai seorang Samaria, ia tidak bergaul dengan orang Yahudi. Ia bisa saja berpikir kepada dirinya sendiri, “Ia orang Yahudi dan orang Yahudi tidak pernah berbaik kepada kami. Mereka itu sombong dan congkak. Kami tidak mau berhubungan apa pun dengan orang Yahudi.” Ia bisa saja cuek dan jalan melewatinya tetapi, kasih menyentak hatinya. _“Ah, tidak. Aku tidak bisa.” Maka ia berpaling kembali dan melihat. Sebenarnya secara manusia ia ingin melewatinya, tetapi, kasih dalam dirinya menariknya kembali. Terjadi suatu pergumulan kasih di dalam hatinya. Pada akhirnya, ternyata belas kasihannya lebih kuat. Belas kasihan adalah KASIH ALLAH. Kasih bekerja di dalam hatinya. Sangat indah! Itulah inti kasih. Kasih memberikan diri orang Samaria untuk bertindak, tanpa memperhitungkan bahaya kepada dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan perasaan pribadi terhadap orang itu, dan tanpa memperhatikan apakah ia akan menerima kompensasi bagi tindakannya Begitu indah sekali!

MEMBAGIKAN (M4)
Sampaikan ke banyak Saudara seiman, ingatlah bahwa kebenaran mengatakan, “Demikianlah terangmu bercahaya didepan orang supaya mereka melihat perbuatanmu (motif kasih) yang baik dan memuliakan Bapa di sorga (Matius 5:16).
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

