17 Oktober 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Amsal 27:6
A. PENGANTAR
“Sahabat adalah seseorang yang menghampiri Anda, menemani Anda, di saat orang lain meninggalkan Anda.” Artinya seorang sahabat yang sejati itu bukan hadir di kala senang saja, melainkan juga saat susah. Alkitab lebih jelas menyatakan bahwa “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,” Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang berada di ‘bawah’ atau jatuh. Karena di dasari oleh kasih yang tulus, seorang sahabat akan tetap berada di sisi sahabatnya di segala keadaan dan mau menerima keberadaannya secara utuh apa adanya.
Selain itu sahabat adalah orang yang tidak hanya sekedar menyenangkan hati sahabatnya semata, tetapi juga mau menegor dan ditegor, mau mengoreksi dan dikoreksi, yang kesemuanya itu demi kebaikan bersama. Tidak seperti Yudas, meski secara kasat mata mencium Yesus, namun sesungguhnya ia menikam dari belakang dan mengkhianati Dia. “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” (Amsal 27:6). Sikap yang ditunjukkan Yudas adalah bentuk persahabatan yang palsu, penuh kepura-puraan karena ada motivasi dan agenda yang terselubung. Kasih yang tulus itu “…tidak mencari keuntungan diri sendiri.” (1 Korintus 13:5). Sahabat yang sejati juga akan menjaga komitmennya untuk tidak membuka rahasia pribadi sahabatnya ke orang lain demi kepentingan diri sendiri. Kasih itu “…Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:7).

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1).
*Bacaan : Amsal 17:9, Amsal 19:22, Amsal 27:6 , 1 Korintus 13:5-7
Oleh karena itu “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 17:9). Kasih yang tulus identik dengan kesetiaan! Tanpa kasih mustahil seseorang akan menunjukkan kesetiaan dengan sungguh. Itulah sebabnya “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;” (Amsal 19:22). Kasih seorang sahabat tak lekang oleh waktu, penuh komitmen dan teruji kesetiaannya,; semua dilakukan bukan karena terpaksa atau motif mencari keuntungan diri sendiri, tetapi penuh kerelaan.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Dengan pemahaman persahabatan sejati ini, seharusnya kita sebagai orang Kristen harus senantiasa mengasihi sahabat dengan kualitas persahabatan sejati yang dilandasi dengan ketulusan dan kebenaran Firman.
B.3. MELAKUKAN (M3)
Tetaplah melakukan sesuatu dengan ketulusan atau kemurnian dan lakukan dengan kualitas yang sama, tidak berubah dalam situasi apapun. Kasih yang tulus (pure) sekali lagi bukan hanya diperkatakan tetapi dipraktekkan atau diaplikasikan di dalam kehidupan kekristenan (orang percaya). Mulailah dengan perkara-perkara yang ringan, Misalnya tidak membicarakan sahabat dibelakangnya alias menggosip. Jika seorang sahabat itu bersalah atau gagal, tegurlah dia dengan kasih dan ketulusan dengan menggunakan bahasa yang positip serta di waktu yang tepat dan penuh penerimaan. Pakailah sahabat lain untuk menjadi saksi dan tidak memakai orang lain untuk menggosipkannya atau memojokanya.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Mari kita berfokus pada kualitas persahabatan sejati yaitu kasih yang tulus. Tulus memuji, tulus menasehati, tulus menegur dan tulus dalam memberi dukungan atau sokongan.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4

