02 Januari 2024
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Ayub 16:7-19
Merenungkan kitab Ayub menjadikan kita tidak hanya sekedar tahu Ayub sebagai orang kaya (diberkati), yang suatu kali karena ketidaksukaan Iblis maka ia mengalami derita dan kehilangan, lalu melompat cerita bahwa Ayub dipulihkan. Menyelami kitab Ayub menjadikan kita tahu : Ayub bergumul, bahkan dalam pergumulannya, Ayub marah kepada Tuhan (Ayub 16: 7-17). Lalu Ayub sadar bahwa hidupnya hanyalah bisa ditujukan kepada Tuhan (Ayub 16:20-22) Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis, supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya. Karena sedikit jumlah tahun yang akan datang, dan aku akan menempuh jalan, dari mana aku tak akan kembali lagi.
Kesadaran bahwa ia tak bisa lain hanya bergantung kepada Tuhan, dan bertekun di dalam Dia itulah yang menjadikan Ayub bertobat dan kembali kepada Tuhan. Sama dengan Ayub, hidup orang percaya tidaklah selalu mulus. Ada waktunya hidup penuh dengan pergumulan. Ada kalanya tak ada sesuatu di tangan, atau tak ada sesuatu untuk dimakan. Di saat itulah kita bertanya: “Bagaimana Tuhan?’ Yang patut diingat adalah: jangan sampai pergumulan kita mengingkari keberadaan dan kuasa/otoritas Tuhan, terlebih jangan sampai menghujat Tuhan dalam hidup kita, atau bahkan memilih beriman/percaya kepada yang lain (di dunia ini) karena menganggap beriman kepada yang lain lebih menjanjikan. Sebagai orang percaya, (Matius 24:45-46) “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

REFLEKSI DIRI : Jadi, bertekunlah dalam iman, memang kehidupan tidak selalu mendatangkan kebaikan, tetapi Tuhan sanggup membuat segala sesuatu mendatangkan kebaikan.

(Roma 8:28)
YANG HARUS DILAKUKAN : Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan jangan bersandar kepada pengertian kita sendiri. (Amsal 3:5)
HIKMAT HARI INI Duduk atau tinggal diam dan percaya itulah letak kekuatan kita. (Yesaya 30:15)
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4

