KAMIS – KASIHNYA SEMPURNA

14 Maret 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : 1 Yohanes 4:12

1 Yohanes 4:12  “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita “.

Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa kasih Tuhan itu sempurna. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), kata sempurna memiliki arti utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela); lengkap, komplit; selesai dengan sebaik-baiknya, teratur dengan sangat baiknya; baik sekali dan terbaik.  Itulah arti sempurna yang dapat diterjemahkan oleh kemampuan bahasa manusia.  Kesempurnaan yang Tuhan maksudkan lebih dari kesempurnaan yang dapat dipikirkan oleh kemampuan kita yang terbatas ini.  Sempurna yang Tuhan maksudkan haruslah sempurna sesuai dengan pandangan Tuhan. Selanjutnya dikatakan bahwa kasihNya yang sempurna itu ada didalam kita.  Bisakah kita bayangkan hal yang sempurna ada didalam kita yang tidak sempurna ini.  Hal yang begitu mulia ada di dalam kita yang penuh dengan kehinaan ini? Itulah kasih yang kekal yang Tuhan berikan kepada kita.

Jangan pernah mengukur kesempurnaan kasih Tuhan dengan cara berpikir kita yang terbatas, atau keadaan atau situasi yang sedang kita alami, juga jangan dibatasi dengan pengalaman atau pendapat orang lain.  Jangan pernah mengukur kasih Tuhan dengan apa yang dilakukan oleh siapapun kepada kita.  Jika kita mau mengukur kasih Tuhan kepada kita, mari pandanglah kepada pengorbanan Kristus di kayu salib, salib-Nya adalah bukti yang sempurna akan kasih yang kekal, kasih yang sempurna buat kita.  Tuhan tidak mengasihi kita dengan setengah hati, tetapi Dia mengasihi kita dengan sepenuh hati, bahkan nyawanya Dia berikan sebagai ganti segala akibat dosa yang kita perbuat.  Dia tidak pernah berhenti untuk mengasihi kita karena kasihNya sempurna.

Selanjutnya dikatakan para murid atau orang percaya agar saling mengasihi.  Murid-murid harus mengasihi dan saling mengasihi satu dengan yang lain, ketika itu terjadi Alah tetap di dalam kita.  Ini harus kita praktekkan dalam kehidupan di rumah, komunitas dan jemaat Tuhan. Tetapi terkadang tindakan untuk saling mengasihi bukan menjadi satu gaya hidup dalam komunitas orang percaya, yang sering terjadi malah sebaliknya, misalnya tuntutan untuk dikasihi, menunggu untuk diperhatikan dari pada memperhatikan.  Mari kita mulai dengan aktif untuk perduli memberi uluran tangan kepada mereka yang membutuhkan kasih itu.  Ketika orang percaya proaktif untuk mengasihi maka mereka akan saling mengasihi satu dengan yang linnya dan Allah tetap di dalam mereka.

Mari sebagai keluarga Allah, mari bangun budaya saling mengasihi dengan kasih yang kekal,kasih yang sempurna, sebagai penghormatan kita atas kehadiran Allah dalam kita.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4