17 April 2024
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Keluaran 20:5; 2 Korintus 11:2
Keluaran 20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu , yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya , kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku
2 Korintus 11:2 Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.
Jika membaca Keluaran 20:5 sepertinya berlawanan dengan 1 Kor 13:4 “kasih tidak cemburu”, bagaimana Tuhan yang adalah kasih bisa disebut Allah yang cemburu, demikian juga jika kita baca 2 Korintus 11:2, bagaimana Paulus menasihati jemaat di Korintus jangan cemburu sementara dia sendiri cemburu.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa maksud dari cemburu itu ada yang positif dan ada yang negative tergantung konteksnya. Bahwa Tuhan disebut adalah Allah yang cemburu, maksudnya hubungan kita dengan Tuhan adalah KUDUS dan kesetiaan kita kepadaNya adalah satu keharusan, kita tidak bisa menduakan-Nya. Dia sudah menyediakan yang terbaik bagi kita dan punya Dialah kita. Kita tidak boleh menyembah yang lain selain Dia.

Dia cemburu, Dia marah kepada kita, kalau kita berpaling kepada illah yang lain yang akan mencelakakan kita. Dia sangat mengasihi kita dan kasihNya itu KUDUS. Demikian juga dengan Paulus, dikatakan bahwa dia cemburu dengan cemburu ilahi. Artinya Paulus cemburu dengan maksud yang sama seperti cemburunya Tuhan, Paulus punya kerinduan yang besar agar jemaat di Korintus tidak goyah imannya atau tidak berpaling dari kasih Kristus oleh berbagai ajaran sesat pada saat itu. Paulus dikatakan cemburu dengan cemburu ilahi. Inilah cemburu yang positif, yang benar yaitu keinginan agar orang lain bisa semakin mengalami kasih Kristus.
Jauh berbeda dengan cemburu atau iri hati yang dimaksudkan dalam 1 Kor 3:4, dikatakan kasih itu tidak cemburu, makna cemburu disini bisa dikatakan bersifat negative atau merusak. Karena perilaku cemburu disini berarti dengki, iri hati, penuh persaingan, sirik dll, atau kata orang di jaman sekarang “susah melihat orang lain senang, atau senang melihat orang lain susah” satu sifat yang benar-benar buruk.
Jadi memaknai cemburu harus benar-benar sesuai dengan konteksnya. Misalnya sebagai anak pastilah kita cemburu jika orang tua kita lebih memperhatikan orang lain dari pada kita, atau seorang istri cemburu melihat suaminya lebih sayang kepada yang lain dari dirinya.
Cobalah renungkan, kapan cemburu ilahi dengan maksud baik ini saudara alami dan kapan cemburu dengan maksud negatif saudara alami.
Mari belajarlah terus agar kita tidak terjebak oleh cemburu yang negatif atau merusak. Siapapun kita, apapun status yang kita miliki, sepintar atau sekaya apapun kita, apapun karunia rohani dan pengalaman rohani yang kita miliki, jika tidak berasal dari KASIH yang tidak cemburu semuanya itu tidak berarti. Sekali lagi Kasih itu tidak cemburu.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo

