MINGGU – BERSAMA DALAM KASIH

23 Juni 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Kisah Para Rasul 2:44-45

Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. (Kis 2:44-45)

Tantangan gereja di masa kini adalah bagaimana gereja (lokal) patut menjadi model di dalam konteks hidup bersama dalam kepedulian yang mendalam diantara sesama anggotanya. Pertemuan banyak orang tidaklah sama dengan persatuan, karena orang-orang bisa saja berkumpul dalam frekuensi waktu pendek sampai dengan frekuensi waktu panjang tetapi tidak membangun kesatuan yang sejati. Tetapi jika kumpulan orang memulai dengan satu komitmen dalam kasih sejati yakni kasih Allah, maka pastilah akan terbentuk kesatuan sejati. Apakah kuncinya? Jawabannya hanya satu yakni Kasih Allah. Sumber kasih Allah adalah Allah yang mengalirkan kasihNya ke dalam hati orang yang percaya kepadaNya.

Jemaat mula-mula yang tersurat di dalam Kisah Para Rasul 2, adalah wujud kehidupan bersatu yang sarat dengan kasih Allah. Terlihat ada kekuatan yang sangat berdampak di dalam kehidupan mereka, diantaranya yang jelas adalah saling menolong untuk membantu anggota yang memiliki kekurangaan secara materil. Kekurangan yang satu ditutupi oleh kelebihan yang lain. Ini cara praktis menjalankan prinsip “Kasih menutupi segala sesuatu- I Korintus 13:7)”. Yang sangat menakjubkan adalah penyebab terjadi saling berbagi materi adalah : “…selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya…” (Kis 2:45). Kata ‘selalu’ merujuk pada aktivitas yang berulang dan mendekati pada makna ‘kebiasaan’. Bagaimana kebiasaan ini dapat terjadi? Perhatikanlah Kis 2:44 – “Semua yang telah menjadi percaya tetap bersatu,..” Kuncinya adalah iman keselamatan sebagai penggerak kasih Allah di dalam hati jemaat yang tak bisa dibendung untuk dihentikan oleh keterbatasan diri. Keterbatasan diri untuk memberi bukanlah terletak pada keterbatasan materi, tetapi keterbatasan dalam pikiran untuk berbagi kepada orang lain.

Secara kongkrit, prinsip “kasih menutupi segala sesuatu” adalah membantu jemaat yang berkekurangan. Tantangan kita di tengah situasi dan kondisi perekonomian Indonesia yang sulit adalah kesempatan berlatih untuk saling berbagi materi. Mari teruslah ciptakan kebiasaan ini.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo