INTEGRITAS SEJATI : KEHARMONISAN PIKIRAN, PERASAAN DAN PERBUATAN

Kenalilah kekuatan dan titik kritis Anda, setiap hari. Klik Link berikut : https://www.fotokarakter.com/free-test

INTEGRITAS adalah aktualisasi keutuhan dari Personaliti, Karakter & Temperament  diri yang saling terkait satu dengan lainnya. Seringkali topik tentang INTEGRITAS hanya dikaitkan dengan pengembangan karakter semata. Mungkin hal ini bisa terjadi karena kurangnya pemahaman orang tentang komponen-kompenen yang membentuk sikap dan perilaku seseorang.

Gerakan Revolusi mental yang ditetapkan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo adalah satu gerakan fokus membangun INTEGRITAS masyarakat Indonesia. Dengan melibatkan lembaga dan para pendidik baik dalam lingkungan formal maupun lingkungan tidak formal, diharapkan gerakan fokus ini bisa terealisasi secara bertahap. Namun, proses penerapannya tidak berjalan lancar. Tidak sedikit komunitas atau lembaga baik formal maupun informal belum dipersiapkan dengan baik untuk mengakomodir pencapaian mentalitas diri yang sejati.

Apakah mentalitas ? Mentalitas adalah keadaan atau aktivitas jiwa (batin) , cara berpikir dan cara berperasaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dari sudut pandang analisa perilaku, mentalitas dibentuk oleh  pola pikir, yang dibangun oleh satu sistem kehidupan seseorang yang dipengaruhi  oleh system kepercayaan (Belief system), nilai-nilai kehidupan (values system), kebiasaan (habit), motivasi dan karakter (response). Gabungan dari unsur-unsur pembentuk ini akan membangun cara berespon seseorang terhadap orang dan situasi di luar kehidupannya. Proses ini terjadi di dalam pikiran bawah sadar seseorang (Sub-concious mind). Perannya sangat besar dalam membangun pola perilaku seseorang. Penelitian menunjukan bahwa 88% perilaku manusia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar.

POLA PIKIR (Cognitive)

Mentalitas diri menjadi komponen perilaku yang sangat penting. Ibarat dalam pasukan perang, mentalitas yang dibangun oleh pola pikir- menjadi komandan pasukan. Terhadap apakah pikiran menjadi komandan? Pikiran akan memimpin roh (spirit) dan tubuh. Spirit berbicara tentang semangat dari dalam diri karena keyakinan terhadap siapa yang dipercayainya secara spiritual. Sedangkan tubuh adalah bagian dari diri yang memiliki reseptor dengan peran untuk menerima dan merekam semua bentuk informasi baik dari apa yang dilihat, didengar dan disentuh. Pengambilan informasi demi informasi (Data Loading) yang dilakukan akan sangat mempengaruhi proses pembentukan dan pengembangan pola pikir diri. Ketika pikiran sadar menerima dan meneruskan semua bentuk informasi dari luar ke dalam pikiran bawah sadar dan dengan proses yang berulang dan berkesinambungan, maka mekanisme tersebutlah yang akan membentuk dan mendewasakan pikiran bawah sadar (sub conscious mind) seseorang. Sebagai contoh, ketika seseorang pernah mengalami kecopetan beberapa kali oleh laki-laki yang berpakaian hitam dan berkumis, maka bisa jadi orang tersebut menjadi trauma (Traumatic experience) sehingga terbentuklah satu defenisi tipikal seorang pencopet yakni laki-laki dengan berpakaian warna hitam dan berkumis. Alhasil pikirannya sudah memiliki konsep pencopet yang walaupun tidak selalu benar, sehingga respon autopilot (Autopilot responses) sudah terbentuk dan terekspresi ketika orang tersebut menghadapi sosok pria dengan cirri-ciri tersebut. Itulah cara kerja pikiran manusia sebagai pusat komando diri. Itu sebabnya, menjadi pekerjaan yang sangat strategis dan berat untuk setiap orang menata dan selalu memperbaharui cara berpikirnya. Jika tidak, maka kekerdilan dan tentu kekolotan wawasan akan menjadi kendala untuk meraih kesuksesan.

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. (Roma 8:5-6)

Perhatikanlah. Setiap orang diciptakan Tuhan adalah segambar dan serupa dengan Tuhan (Kej 1:26-27). Namun dosa telah meretakkan pemahaman manusia terhadap kesempurnaan gambaran Allah dalam pikiran manusia. Selain itu manusia juga diciptakan dengan mengandung kehendak bebas (Free will). Kehendak bebas disusun oleh pikiran (Cognitive) dan emosi (Affective). Manusia yang berkepanjangan hidup dalam dosa dirasuki oleh pola pikir dunia di dalam pikiran bawah sadarnya. Siapapun bisa terjerat dengan kondisi ini. Pikiran yang dirasuki oleh pola pikir dunia akan mencemari perasaan atau emosinya. Jikalau seseorang hidup dibuai dengan informasi-informasi dunia secara berkelanjutan, maka otomatis pikiran bawah sadar dikendalikan oleh keinginan-keinginan dunia dan alhasil emosinya pun terpengaruh. Tentu setiap keputusan hidupnya selalu mencerminkan hawa nafsu duniawi. Contoh, kebanyakan orang bilang hidup yang sukses adalah ketika telah meraih sejumlah kekayaan (to have everything). Jikalau ini sudah menjadi patokan sukses, bisa dibayangkan akan sangat banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi kaya, bahkan bisa melupakan cara yang bermoral untuk meraihnya. Atau sebaliknya orang-orang yang tidak mampu untuk meraih kekayaan akan merasa tertuduh dalam hidupnya karena dia merasa tidak sukses sebab dia tidak memiliki sejumlah kekayaan. Akibatnya emosi banyak orang akan menjadi kotor dengan nafsu demi nafsu dunia dan muncul banyak ragam kegaduhan dalam hidup ini.

Kondisi lainnya adalah ada orang yang memiliki pikiran yang benar dalam hidupnya. Firman Allah telah menjadi konsumsi pikirannya, sampai kepada emosinya. Tetapi tiba gilirannya untuk bertindak, yang terjadi malah tindakan berbuat dosa. Rasul Paulus pernah menjelaskan kondisi ini.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. (Roma 7:19-23)

Ketidakharmonisan pikiran dan emosi dengan perbuatan bisa dan sangat bisa terjadi, jikalau manusia kalah terhadap keinginan daging sehingga terjadi diintegrasi pikiran yang benar dengan tindakan yang benar. Kondisi ini disebut dengan apa yang dipikirkan tidak sama dengan apa yang diperbuat atau yang apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang diperbuat. Biasa disebut tidak jujur.

POLA RASA (Affective)

Ada pepatah mengatakan, “Dari mata turun ke hati”. Apa yang kita rasakan dan apa yang kita ekspresikan kepada orang lain atau sesuatu ditentukan oleh apa yang tersimpan di dalam pusat memori kita sebagai manusia. Perasaan adalah ekor dari buah pikiran. Sebagai contoh, jika Anda mengalami kekecewaan dengan seorang polisi karena tindakannya yang tidak sesuai peraturan yang berlaku, maka bisa saja Anda memasukkan pengalaman ini ke dalam pikiran Anda. Pengalaman yang tersimpan ini akan mampu terespresikan jikalau Anda bertemu dengan seorang yang mengenakan seragam polisi. Saat Anda bertemu dengan seorang polisi, maka perasaan Anda bisa tidak menyenangi profesi tersebut. Ini yang disebut respon yang reaktif. Respon reaktif dikendalikan oleh memori masa lalu (Traumatic experiences). Kalimat bijak mengatakan “Apa yang engkau lakukan adalah buah dari apa yang engkau pikirkan.”.

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. (Roma 1:24)

Mari kita lihat.

Setiap manusia mampu mengekspresikan dirinya dengan gaya yang berbeda-beda. Ekspresi setiap orang dibentuk oleh Personaliti, Karakter dan temparamen. Ketiga unsur pembentuk ekspresi sikap ini, bukan hanya menentukan gaya berekspresi tetapi juga mampu menunjukkan siapa jati dirinya yang sesungguhnya. Para ahli perilaku menemukan ada 3 jenis respon manusia dalam menanggapi lingkungannya. Jenis-jenis respon itu adalah ada respon terhadap lingkungan (Response to environment), respon terhadap tekanan (response to pressing) dan respon terhadap citra diri (Response to self image).

Terminologi lain menjelaskan tentang Personaliti, Karakter dan temparamen, secara detil.

Personality (P) dapat dipahami secara sederhana dengan memahami 3 ciri-ciri berikut :

  • Perilaku yang diekspresikan ketika di depan orang lain
  • Bisa bersifat topeng atau apa adanya
  • Bisa berubah-ubah

Karakter ( C ) dapat dipahami secara sederhana dengan memahami 3 ciri-ciri berikut :

  • Perilaku yang diekspresikan ketika situasi tertekan atau ditinggikan/dipuji
  • Respon yang muncul, bisa benar atau salah
  • Bisa diubah dan ditingkatkan

Temperamen (T) dapat dipahami secara sederhana dengan memahami 3 ciri-ciri berikut :

  • Perilaku yang diekspresikan pada situasi normal
  • Membawa dan mengandung dari gen pembawa sifat (faktor keturunan)
  • Bisa berubah secara temporary saja (berespon sementara terhadap lingkungan luar)

Jadi, bagaimana kita dapa membangun Integritas Sejati? Secara sederhana, sebagai jemaat mari kita ingat kembali, siapa identitas diri kita yang sesunggunya? Alkitab berkata,

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Kor 5:17)

Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. (Galatia 6:15)

Jadi, bagaimanakan membangun integritas jati?
1. Pikirkanlah bahwa Anda adalah ciptaan baru karena Kristus tinggal di dalam Anda.

Ukuran identitas sejati adalah Kristus sebagai penguasa hidup Anda, bukan gelar atau predikat atau asesoris lainnya (Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya…-Gal 6:15). Perhatikan sekali lagi, jangan melabel diri dengan segala sesuatu yang bersifat tambahan atau asesoris, tetapi label diri Anda karena Anda Anak Tuhan.

Mari budayakan : bangun pola pikir Anda secara sehat :

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. (Kolose 3:1-3)

2. Selaraskan emosi Anda dengan apa yang Anda pikirkan secara benar.

Belajarlah selalu berespon benar terhadap barang, orang dan situasi  yang tidak benar. Dunia memang selalu menawarkan hal-hal yang tidak benar. Tetapi Firman Tuhan selalu menawarkan hal-hal yang selalu benar. Emosi yang cerdas datang dari pikiran yang cerdas. Pikiran yang cerdas bersumber dari kebenaran

Firman Tuhan. Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. (Mazmur 19:7)

3. Buatlah keputusan yang benar
konsep decision making.png

Dalam membuat keputusan perhatikan 4 hal berikut yakni Logika, Kewaspadaan, Imaginasi dan emosi. Seperti seorang pemahan yang akan melesatkan anak panah ke target, maka sang pemanah haru memahami unsur-unsur yang berperan dalam sebuah alat pemanah, yanki busur dan tali. Busur haruslah elastic dan tali yang kuat. Busur mengandung logika (cara berpikir logis, disertai kewaspadaan- jangan sampai lengah, terpengaruh dengan nasehat-nasehat yang sepertinya rohani, tetapi duniawi. Logika dan kewaspadaan harus bekerja sama. Selain itu, keputusan Anda dipengaruhi oleh tali, yang mengandung Imaginasi, yakni membayangkan dalam alam pikiran Anda tentang akibat yang membahagiakan Anda karena Anda akan dan sedang melakukan perintah dan ketetapan Tuhan, maka Anda akan menjadi anak-anak Tuhan yang berhasil. Jangan lupa Anda juga punya emosi (tali). Keputusan Anda mengandung emosi. Jikalau logika dan kewaspadaan Anda benar maka emosi Anda pasti benar. Jangan terlalu berlebihan mengimajinasikan dan melibatkan emosi Anda dalam menjalan keyakinan Anda. Perhatikanlah Iman Anda!

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. ( I Kor 12:3)

Integrasikan keempat unsur di atas supaya keputusan Anda bijaksana dan hidup Anda akan berhasil dan beruntung . Jadilah berintegritas, maka Anda pasti sukses. (SSH)

(Penulis: Santoso S. Hutabarat)