By: Pdt. Freddy K. H. Siregar
Yes 60:19, Daniel 3:17-18
Yesaya 60:19, Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari. Karena semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, manusia menjadi terdorong untuk membuat dan membangun mengejar kemuliaan menurut pandangan kebenaran diri sendiri. Manusia berlomba-lomba membangun image kesan paling keren, paling hebat dan paling wow dari cara yang biasa sampai paling ekstrem, bahkan sampai kadang-kadang menghalalkan segala cara melakukan rekayasa (settingan/pura-pura) untuk menunjukkan apa yang dimiliki, yang dinikmati karena ingin mendapat pengakuan atau “like” dari orang-orang lain, yang oleh sebagaian orang telah dianggap sebagai ukuran keberhasilan dan kesuksesan dalam membangun kemuliaan diri sendiri.

Berbeda dengan yang terjadi di dunia, dalam membangun “image” gambar diri atau kemuliaan, Rasul Paulus menyampaikan kepada jemaat di Roma 12:1-2 (TB), demi kemurahan Allah menasihatkan supaya…:
1. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, sebagai ibadah yang sejati. Sebab tanpa kekudusan dan perkenanan Tuhan kita tidak akan bisa melihat Tuhan, dan kemuliaan yg dari Tuhan juga tidak akan bisa mengalir kepada kita.
2. Jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi, sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Daniel dkk oleh iman memilih yang sempurna dengan tidak mau kompromi sujud menyembah kepada patung berhala, serta memilih untuk mempercayakan hidupnya kepada keadilan dan kasih setia Tuhan dengan berkata:Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Daniel 3:17-18 (TB). Tuhanlah satu-satunya penerang kebenaran, keadilan dan kekudusan didalam kehidup kita, dan ketika kita telah menemukan terang yang abadi maka hidup kitapun akan dengan rela mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, dan memilih untuk tidak menjadi serupa dengan dunia oleh pembaharuan budi, bagaimana dengan hidup saudara? Apakah saudara sudah menemukan terang yang abadi itu?

