RABU – Bicara Seperlunya

23 Juni 2021

By : Hendrik Yulianto
Efesus 4:29, Amsal 10:19, Amsal 25:11
A. PENGANTAR

Bicara seperlunya bukan berarti sedikit/irit bicara. Bicara seperlunya berarti dari segi waktu adalah bicara disaat perlu bicara, kemudian dari segi content/isinya adalah bicara yang diperlukan saja. Bicara seperlunya ini menjadi hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Bagi ibu-ibu/wanita, kebanyakan jika sedang marah baik kepada anak, suami, pasangan atau orang lain seringkali bicara diluar konteks yang sedang dihadapi atau istilahnya merembet kemana-mana. Ini jadi masalah, karena apa yang harusnya tidak dibicarakan jadi dibicarakan yang bisa saja melukai atau membuka luka lama. Bagi bapak-bapak/pria, kebanyakan jika sedang marah seringkali berkata kasar, tajam atau“pedes” yang sebenarnya tidak perlu diucapkan karena berpotensi menyakiti dan bahkan meninggalkan luka yang mendalam bahkan dendam. Ini juga jadi masalah bahkan jadi masalah yang besar. Apalagi bapak-bapak/pria yang punya temperamen keras atau merasa punya kedudukan tinggi, merasa berada, seringkali meluapkan amarahnya baik secara verbal maupun fisik dengan tanpa memikirkan perasaan orang lain yang penting dirinya puas.

Bicara seperlunya juga berarti kita menjadi orang yang berhati-hati dalam bicara dan juga mengandalkan tuntunan Tuhan melalui Roh Kudus. Ini sulit, terutama bila kita dalam posisi disakiti, difitnah, dijelek-jelekan. Pasti pikiran manusia kita ingin sekali membalas, mengklarifikasi atau mempertahankan harga diri kita. Tapi kita bisa belajar dari kehidupan Tuhan Yesus yang dalam penderitaanNya, Dia tidak sibuk mengklarifikasi, Dia tidak sibuk mempertahankan harga diriNya, tapi tetap yang menjadi fokus utamanya adalah bagaimana menyelesaikan kehendak Bapa. Bahkan dalam Yesaya 53:7 dikatakan Dia seperti domba yang kelu yang hanya diam. Dia tidak bicara untuk apa yang Bapa tidak kehendaki Dia bicara, Dia hanya bicara apa yang Bapa kehendaki.
Sebagai pengikut Kristus, kita harus belajar untuk mengekang/mengendalikan lidah kita. Kita bicara yang diperlukan saja dan memang disaat kita perlu bicara, itupun harus dengan menggunakan kata-kata yang baik untuk membangun agar itu berguna bagi orang yang mendengarnya.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari kita baca Efesus 4:29, Amsal 10:19, Amsal 25:11

  1. Sebagai anak-anak Tuhan, kata-kata seperti apa yang seharusnya kita pakai dalam berkomunikasi? Efesus 4:29
  2. Semakin banyak bicara akan semakin besar pula kemungkinan terjadinya apa? Amsal 10:19
  3. Orang yang bisa menahan bibirnya disebut orang yang apa? Amsal 10:19
  4. Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya seperti apa? Amsal 25:11
B.2. MERENUNGKAN (M2)

Coba renungkan masing-masing, apa yang bisa menjadi penghalang untuk kita menjadi pribadi yang cakap dalam menahan bibir, cakap dalam mengucapkan perkataan-perkataan yang tepat pada waktunya?

B.3. MELAKUKAN (M3)

Mari kita terus belajar dan bertekun untuk bijak dalam berkata-kata termasuk mengontrol emosi, bicara seperlunya saja yaitu tepat waktu dan tepat isinya. Bijak dalam berkata-kata artinya bisa memilah-milah mana yang perlu diucapkan dan mana yang tidak. Dalam doa dan permohonan kita minta tuntunan Tuhan untuk kita menjadi orang-orang yang bijak dalam berkata-kata. Tidak mudah tapi dengan pertolonganNya pasti kita bisa.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Ceritakan pengalaman atau pergumulan anda dengan rekan komsel, untuk bisa menjadi pribadi yang mampu menahan bibir atau berbicara seperlunya saja.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47