26 Agustus 2021
By : Pdt. Santoso S. Hutabarat
Matius 22:37-39
A. PENGANTAR
Faktor penghambat dalam diri manusia untuk menumbuh kembangkan belas kasihan adalah emosi. Emosi adalah bagian terintegrasi dengan perilaku manusia. Manusia tanpa emosi adalah seperti robot, adanya kekakuan dalam relasi. Manusia yang berkelebihan emosi adalah tak beraturan atau liar. Kondisi ini berdampak pada relasi yang terganggu dengan orang lain. Ia seperti api yang sanggup menghanguskan akal sehat. Emosi juga bagaikan air bah yang mampu menghanyutkan seluruh niat melakukan kebenaran. Tidak heran sering kali kita begitu mudah diamuk emosi. Perasaan tersinggung, tertekan, tertolak, putus asa, dan sulit mengendalikan diri. Semua itu akibat dari sikap emosi yang rentan. Dan tentu situasi yang menstimulasi adalah ketika manusia hidup dalam komunitas. Emosi yang baik akan menciptakan kerukunan dalam komunitas, sebaliknya emosi yang tidak baik atau berlebihan akan merusak kerukunan.
Belas kasihan dapat melibatkan emosi dalam prakteknya. Tetapi emosi yang buruk seperti di atas tidak akan menghasilkan tindakan peduli orang yang tulus dan ikhlas. Survei membuktikan ada 80% manusia cenderung bersikap emosional. Diperlukan keputusan untuk berdamai dengan emosi kita. Karena pada dasarnya emosi diciptakan untuk kebaikan. Belas kasih adalah sifat Allah selain menjadi faktor pendorong untuk menyelamatkan jiwa-jiwa terhilang, belas kasih juga menjadi satu karunia bagi orang Kristen, agar selalu dapat melihat saudara seiman yang mengganggu hati dan pikiran kita dengan cara pandang mengasihi dan mengampuni mereka. Belas kasihan menjadi kekuatan orang Kristen untuk membantu saudara seiman agar keluar dapat menang dari emosi yang berlebihan dalam relasi.

Ada 2 cara praktis membangun belas kasihan yakni :
- Mengembangkan seni mendengarkan
Bukan sekedar mendengar, tapi menyimak dengan seksama. Mendengarkan
suara hati orang lain dan teriakan mereka yang tertekan masalah. Mendengar
yang tidak terdengar. Itulah cara efektif. - Sikap hati yang melegakan
Kelapangan hati dapat muncul ketika kesesakan melanda persekutuan dengan saudara seiman. Kita dapat memilih, apakah kita akan berdamai dengan emosi atau tidak. Fokus bukan pada orang lain, tetapi bagaimana mengelola emosi yang berlebihan.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacalah : Matius 22:367-39
- Apakah dasar relasi antara anak-anak Tuhan? (ayat 39)
- Apakah ukuran Anda mengasihi orang lain? (Ayat 39)
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Apakah kasih Allah sebagai kekuatan untuk membangun relasi yang menghasilkan kerukunan diantara anak Tuhan?

B.3. MELAKUKAN (M3)
Mulailah membangun kebiasaan mengelola emosi tatkala Anda sedang mendapatkan berkat dan tatkala Anda sedang tersinggung atau disakiti oleh orang lain.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Sampaikanlah kepada orang lain bahwa kasih Allah kunci terbaik dan cocok untuk menyelematkan kerukunan dari kehancuran.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

