02 September 2021
Penerbit : Dep. Pengajaran GKKD Bogor
Kejadian 12 – Kejadian 24
A. PENGANTAR
Menghormati Tuhan berarti belajar percaya kepada DIA seperti Abraham percaya.
Seperti yang sudah kita ketahui Abraham adalah tokoh didalam Alkitab yang luar biasa. Dia disebut sebagai sahabat Allah dan juga bapa orang beriman. Jika kita mengaku orang beriman, maka kita harus memiliki kualitas iman seperti bapanya orang beriman yaitu Abraham. Sangat bisa kita pahami jika Allah memanggil Abraham sebagai sahabat-Nya, karena kepercayaan Abraham kepada DIA sangat luar biasa. Tidak semua orang-orang yang dekat dengan kita bisa kita sebut sahabat bukan?hanya orang-orang yang kita percayai dan juga sebaliknya orang tersebut percaya kepada kita maka orang itu akan menjadi sahabat kita.
Kepercayaan Abraham kepada Allah sangat luar biasa. Dimana berkali-kali imannya diuji tapi berkali-kali pula Abraham bisa melaluinya dengan cemerlang. Dimulai dari Allah menyuruhnya untuk keluar dari Ur-Kasdim tempat dimana dia tinggal dimana menurut sejarah Ur-Kasdim adalah kota yang makmur dan subur karena didekatnya mengalir sungai Efrat. Allah menyuruhnya keluar ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya. Apakah tujuannya sudah Allah beritahukan? Belum. Apakah negeri yang Allah akan tunjukkan itu sama maju dan makmurnya seperti Ur-Kasdim? Abraham tidak tahu. Apakah perjalanannya akan mudah? Apakah jaraknya jauh atau dekat? Abraham tidak tahu. Tapi Abraham tetap berangkat juga seperti yang Allah kehendaki. Dimana-mana, orang pergi dari satu kota ke kota lain atau dari desa ke kota adalah demi mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi tidak halnya dengan Abraham, dia seolah-olah tidak mempedulikan apa yang akan dia dapati nanti, yang terpenting adalah dia mentaati apa yang Allah perintahkan. Abraham dia harus meninggalkan negerinya yang nyaman, dia harus berangkat bersama-sama dengan keluarganya, ternaknya dan semua harta bendanya. Abraham bisa dikatakan hidup mengembara sepanjang hidupnya. Dari Ur-Kasdim ke Haran, dari Haran ke Sikhem, dari Sikhem ke Betel, dari Betel ke tanah Negeb, ke Mesir, Hebron dan banyak tempat lainnya. Dan menurut penelitian tempat-tempat itu bukan tempat yang jaraknya dekat. Ur-Kasdim ke Haran jaraknya sekitar 950 KM, lalu dari Haran ke Sikhem jaraknya 625 KM. Jadi bisa dibayangkan perjalanan seperti apa yang Abraham alami, pasti banyak bahaya yang mengancam, banyak kerepotan-kerepotan, kelelahan, dsb.

Abraham juga begitu percaya kepada Allah bahwa Allah pasti akan memelihara hidupnya. Sehingga Abraham memilih untuk tidak berselisih dengan Lot mengenai tempat tinggal dan dia membiarkan Lot memilih tempat yang lebih baik yang lebih subur. Abraham juga tetap percaya kepada Allah dan tidak kecewa sekalipun Allah akan memberikan negeri yang dijanjikan itu bukan kepada dia melainkan keturunannya (Kis 7:5). Dan yang luar biasanya saat janji itu diberikan bahwa negeri itu akan diberikan kepada keturunannya, Abraham belum memiliki keturunan dan bahkan usianya sudah 75 tahun! Tapi lagi-lagi Abraham tetap percaya. Dan puncak dari ujian iman Abraham adalah disaat Allah meminta dia untuk mengorbarkan Ishak satu-satunya anaknya yang tunggal yang dia dapatkan dimasa tuanya. Sesaat setelah mendengar perintah tersebut, keesokan harinya Abraham langsung berangkat ke tanah Moria dengan tanpa ragu-ragu dan memang dengan niat untuk mempersembahkan Ishak. Dan bahkan Abraham sudah siap untuk menyembelih Ishak, namun tepat dimomen itulah Allah menyediakan domba jantan sebagai penggantinya. Sungguh iman percaya yang luar biasa kepada Allah. Patutlah bila Abraham disebut sebagai sahabat Allah karena dia selalu mempercayai Allah dengan tanpa ragu-ragu. Dan patutlah bila dia juga disebut bapa orang beriman, karena kualitas imannya menjadi acuan iman seperti apa yang diinginkan oleh Allah.
PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca perjalanan hidup Abraham dari Kejadian 12 – Kejadian 24 agar kita mendapat gambaran yang utuh mengenai Abraham. Temukan poin-poin yang bisa didapatkan dari perjalanan hidup Abraham yang mungkin tidak terangkum didalam renungan ini.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Apa yang bisa kita pelajari dan renungkan dari kepercayaan Abraham kepada Allah?
Pertama, percayanya Abraham adalah percaya yang bukan hanya dibibir saja. Dia menunjukkannya dalam tindakan. Dia benar-benar membawa Ishak ketempat yang Allah perintahkan. Dia rela mempersembahkan Ishak. Kedua, percayanya Abraham adalah bergantung sepenuhnya kepada Allah. Dia percaya Allah akan memelihara sehingga dia tidak berkelahi dengan Lot ketika Lot memilih daerah yang lebih subur untuk ditinggali. Ketiga, percayanya Abraham adalah dia tidak ragu-ragu kepada janji Allah. Sekalipun dia harus meninggalkan negeri yang nyaman ke negeri yang Abraham tidak ketahui kondisinya, sekalipun dia belum mempunyai anak diusia 75 tahun, Abraham tetap percaya.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Mari kita sama-sama terus praktekkan dalam kehidupan kita percaya yang seperti Abraham percaya.
Percaya yang bukan hanya dibibir saja tapi juga dalam tindakan kita. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Kemudian kita belajar bergantung sepenuhnya kepada Allah. Sekalipun mungkin kita punya harta benda, kekayaan, anak-anak yang berhasil, kedudukan, pangkat, dsb kita harus belajar menggantungkan hidup kita hanya kepada Tuhan saja. Terakhir jangan pernah ragu dengan janji Allah. Jika DIA berjanji membawa kita kerumahNya nanti ke negeri yang tidak ada duka dan air mata, maka kita harus menaruhkan pengharapan kita kepada janji itu dan tidak meragukannya.
Hanya dengan benar-benar memiliki kepercayaan yang benar kepada DIA saja maka kita benar-benar menghormatiNya.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Saksikan pergumulan saudara untuk memiliki kepercayaan seperti yang Abraham miliki.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

