18 Oktober 2021
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Kejadian 14:1-24
A. PENGANTAR
Ada yang menarik jika kita teliti mencari kata “Mahatinggi” didalam kitab Perjanjian Lama. Kata atau sebutan ini baru muncul di Kejadian 14:18, dan lalu berturut-turut muncul di ayat 19,20 dan 22. Pasti ada maksud Tuhan, kenapa sebutan ini baru muncul di Kejadian 14:18 dan dikisah tentang bagaimana Abraham yang saat itu masih bernama Abram berhasil membebaskan Lot dari tawanan raja Kedorlaomer dan sekutunya hanya dengan 318 orang. Saat itu, Kedorlaomer adalah penguasa dari banyak bangsa. Dikatakan dia menjajah negeri Sodom, Gomora, Adma, Zeboim dan Bela selama 12 tahun. Baru di tahun ke 13 kelima raja dari negeri-negeri tersebut bersekutu untuk melawan Kedorlaomer dan 3 orang sekutunya. Dikatakan 5 raja (ayat 2) melawan 4 raja (ayat 1), tapi 5 raja tersebut tetap kalah dengan Kedorlaomer dan sekutunya. Bahkan ketika pulang dari peperangan itu, Kedorlaomer masih berhasil menaklukan orang Amalek dan orang Amori (Kej 14:7). Artinya, memang Kedorlaomer adalah seorang raja yang sangat tangguh dan kuat. Bisa dikatakan Kedorlaomer adalah ‘maharaja’ atau raja dari raja-raja lain dijaman itu.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Melalui siapa sebutan yang Mahatinggi ini diperkenalkan (ayat 18) ? Dan siapa yang pertamakali mengucapkan sebutan ini (ayat 19) ? Melkisedek. Siapa Melkisedek? Banyak yang menafsirkan dan setuju Ia adalah wujud kehadiran Allah sendiri berdasarkan Ibrani 7:1-3. Artinya Allah sendiri yang memperkenalkan sebutan ini. Jika demikian sebutan ini pasti sangat penting. Lalu apa yang Melkisedek coba sampaikan diayat 20?Dia ingin memberitahu Abraham bahwa karena campur tangan Allah Yahweh lah Abraham menang.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Jika kita baca kisah Abraham dari mulai Kejadian 12, kita temukan bahwa peristiwa pembebasan Lot ini adalah peristiwa ajaib pertama yang Abraham alami. Seolah-olah peristiwa ini sebagai bekal perjalanan iman Abraham yang berikutnya. Melalui kemenangan ini Allah ingin menyampaikan bahwa Dia lah Maha raja yang sebenarnya dan dia lah yang tertinggi (Mahatinggi) diantara semuanya. Ditengah budaya kafir saat itu atau tidak mengenal Allah yang benar, Allah Yahweh ingin menunjukkan kepada Abraham bahwa DIA lah Allah yang benar dan tidak salah Abraham mempercayai DIA dan taat kepadaNya untuk dia keluar dari ur-kasdim menuju ke negeri yang dia tidak ketahui.
Jika saja setelah Abraham berhasil mengalahkan Kedorlaomer, Melkisedek tidak datang dan mengucapkan ayat 20. Mungkin Abraham akan merasa bahwa kemenangannya adalah karena kemampuan dan keterampilan dia semata-mata. Namun perkataan Melkisedek tersebut rupanya menyadarkan Abraham bahwa semuanya bisa terjadi karena campur tangan Allah. Kesadaran Abraham ditunjukkan dalam ayat 22-24, dimana Abraham berkomitmen dengan bersumpah dengan menggunakan sebutan yang Mahatinggi untuk tidak mau sedikitpun mengambil barang-barang rampasan dari hasil membebaskan Lot, dan juga mempersembahkan sepersepuluhnya kepada Melkisedek sebagai tanda bahwa segala sesuatunya adalah milik Allah. Karena dia ingin tetap menjaga hatinya tetap percaya kepada Allah Yahweh, Allah yang tertinggi yang dari padaNya lah semua berasal.

B.3. MELAKUKAN (M3)
Sama seperti Abraham, mari kita tetap menjaga hati kita untuk tetap percaya kepadaNya dengan sepenuh hati. DIA lah yang tertinggi dari semuanya dan dari DIA lah semuanya berasal. Kita tidak boleh sombong dan jumawa terhadap segala keberhasilan atau kemenangan yang kita raih.
Selain itu, pesan dari kisah ini juga, mari jangan pahami kemenangan yang Allah berikan kepada Abraham secara dangkal. Bahwa seolah-olah Tuhan lah yang menyediakan kemenangan lalu kita manusia tidak perlu melakukan apapun dan hanya menunggu. Kita pahami dari kisah ini bahwa Abraham tetap harus berperang, dia tetap harus bertaruh nyawa, dia tetap harus mengatur strategi dan membekali dirinya dengan ketrampilan dan kemampuan yang bisa dipelajari. Kita lakukan bagian kita semaksimal mungkin, dan selebihnya kita berserah kepada Dia yang tertinggi. Karena itulah cara kerja Tuhan, kita mengerjakan bagian kita. Jika kita percaya kepadaNya dan sudah melakukan bagian kita semaksimal mungkin, maka tidak ada yang kita perlu takutkan. Kita juga harus memiliki mental seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego bahwa “sekalipun sepertinya Tuhan tidak menolong, kita tidak akan berpaling dariNya sedikitpun”.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakan kepada rekan komsel dan saudara seiman, apa makna sebutan Allah yang Mahatinggi itu bagi anda.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

