KAMIS – NYANYIAN SYUKUR DAN PERMOHONAN

02 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Mazmur 144:1-15

A. PENGANTAR

Coba masing-masing kita ingat-ingat seberapa sering kita meminta sesuatu kepada Tuhan, lalu ingat-ingat juga seberapa sering kita bersyukur kepadaNya? Apa yang anda temukan? Apakah mengejutkan karena ternyata kita lebih sering meminta daripada bersyukur? Ya itulah nature manusia bahkan termasuk orang Kristen, kita seringkali mudah untuk meminta daripada bersyukur kepadaNya. Kenapa demikian? karena kita mudah lupa. Rasa bersyukur timbul dari kesadaran akan kebaikan Allah dalam hidup kita. Kita jarang bersyukur karena kita mudah lupa dengan kebaikan Allah dalam hidup kita.
Kisah keluarnya bang Israel dari tanah Mesir adalah kisah yang mengherankan dimana kita membaca ada banyak mujizat-mujizat yang dashyat yang Allah kerjakan. Tapi tidak kalah mengherankan ketika kita melihat betapa cepatnya bangsa Israel bersungut-sungut dan mengeluh ketika menghadapi tantangan. Mereka mudah sekali lupa dengan mujizat-mujizat dahsyat yang Allah sudah kerjakan didepan mata mereka. Kita pun seringkali demikian. Saat pertama kali bertobat kita penuh ucapan syukur, menangis terharu, tertawa penuh sukacita, dsb. Tapi apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Sikap menggerutu yang sama seperti bangsa Israel itu tanpa sadar meresap dalam diri kita. Mungkin tidak ekstim menggerutu tapi kita mulai hilang kepercayaan kepada Tuhan.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)

Mari baca Mazmur 144:1-15
Dibacaan hari ini, kita temukan bahwa Daud berjanji akan menyanyikan nyanyian baru kepada Tuhan (ayat 9) . Nyanyian baru yang seperti apa? Seperti yang kita sudah pelajari di hari senin lalu bahwa nyanyian baru adalah nyanyian yang lahir dari perspektif yang baru tentang Allah. Juga dikhotbah hari minggu lalu kita mendengar bahwa nyanyian baru adalah nyanyian yang lahir dari hati yang baru yang sudah diperbaharui. Dan di hari ini kita menemukan bahwa Daud menyanyikan nyanyian yang baru kepada Tuhan dengan didahului sikap hati yang benar yaitu sikap hati yang bersyukur. Dau mengucap syukur dengan mengingat kebaikan Tuhan dalam hidupnya (ayat 1-
2). Juga Daud mengucap syukur dengan mengagumi perbedaan keagungan Tuhan dengan keadaan manusia yang tiada artinya (ayat 3-4). Setelah mengakui terlebih dahulu betapa rendahnya manusia, baru setelah itulah dia memohon pertolongan (ayat 5-8, 10-15).

B.2. MERENUNGKAN (M2)

Apakah boleh meminta pertolongan kepada Tuhan? Tentu saja boleh, tidak ada yang salah dengan itu. Di bacaan Alkitab kita hari ini pun kita baca Daud juga meminta pertolongan kepada Tuhan. Tapi kita belajar bahwa hendaknya terlebih dahulu kita miliki sikap hati yang benar yaitu dengan memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur itu merupakah sebuah pengakuan bahwa siapa kita, dan apapun yang ada pada kita, berasal dari Dia. Bersyukur itu bukan sesuatu yang dibuat-buat karena kita berharap ada pertolongan Tuhan tapi sebagai ungkapan tulus rasa terimakasih kita kepada Tuhan. Biasanya ketika kita mengucapkan terimakasih kepada seseorang, kita menundukkan kepala sedikit, membungkukkan badan sedikit, atau dengan mengatupkan 2 tangan didepan dada kita. Ketika kita mengucap syukur kepada Tuhan pun seharusnya kita juga melakukannya dengan sikap hati yang penuh hormat. Sebelum kita meminta pertolongan kepada Tuhan, sudahkah kita bersyukur kepadaNya? Jangan sampai kita seperti orang-orang yang tidak tahu berterimakasih. Ada sebuah pepatah yang mengatakan “ Hewan yang tahu berterimakasih itu lebih baik daripada manusia yang tidak tahu berterimakasih”.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Mari kita belajar mengembangkan kebiasaan bersyukur. Bersyukur adalah kebiasaan yang bisa dikembangkan melalui latihan. Kita bisa melakukannya setiap hari, setiap pagi. Belajar juga untuk tidak mengucapkan syukur secara umum-umum saja, tetapi secara spesifik. Kita bisa mulai mendaftarkan satu persatu hal-hal yang kita syukuri dan kita belajar bersyukur dalam segala hal (1 Tesalonika 5:18). Semakin sering kita bersyukur, kita akan semakin banyak menemukan hal lain untuk disyukuri. Tapi semakin sering kita menggerutu atau komplain maka semakin banyak pula kita menemukan hal lain untuk dikomplain.

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Mulailah ajak anggota keluargamu (pasangan, orangtua, dan anak-anak) untuk belajar bersyukur dalam segala hal.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47