JUMAT – NYANYIAN KEMENANGAN KARENA TUHAN

10 Desember 2021

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
1 Samuel 18:6-7 (TB)

Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin, perempuan-perempuan dari segala kota Israel datang menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing mereka menari-nari dan menyanyi berbalas-balasan: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa;” Suatu NYANYIAN KEMENANGAN yang menyebabkan hati Saul jadi sebal, iri dan marah, karena merasa dirinya dibanding-bandingkan dengan Daud; dan sejak saat itu Saul menjadi dengki dan marah kepada Daud sampai akhir hayatnya.

MENEMUKAN (M1):

~ 1 Samuel 18:6-7 (TB), 6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; 7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”

Pertanyaan:

  1. Seperti apakah ekspresi orang-orang perempuan Israel menyongsong raja Saul pada waktu kembali bersama Daud sesudah mengalahkan orang Filistin?
  2. Kata-kata apakah yang dinyanyian perempuan yang menari-nari itu berbalas-balasan?

MERENUNGKAN (M2)

Mari belajar dari respon Saul yang merasa jengkel, marah, iri dan benci karena pada saat pulang berperang mengalahkan Filistin, perempuan-perempuan Israel lebih memuji-muji Daud daripada Saul yang adalah raja Israel; Hal seperti ini bisa diibaratkan seperti ketika di sekolah seorang guru memuji-muji muridnya yang pintar secara berlebihan, tanpa memperhatikan perasaan murid lain yang secara nilai mata pelajaran masih ketinggalan; sesuatu yang bisa berdampak buruk, siswa yang disanjung jika tidak dewasa akan menjadi sombong, dan bagi yang masih kurang pandai bisa menjadi minder, cemburu sosial, iri hati, bahkan jadi patah semangat;

Padahal SUMBER kemenangan dan yang MEMBERIKAN kemenangan kepada bangsa Israel dalam peperangan melawan Filistin adalah TUHAN, sehingga seharusnya bukan nama Daud atau Saul yang dinyanyi-nyanyikan, ditinggikan dan dimuliakan, TETAPI TUHAN, Tuhanlah PAHLAWAN perang yang layak menerima tari-tarian, nyanyian kemenangan dan sukacita ditengah-tengah kemenangan bangsa Israel atas bangsa Filistin itu;

MELAKUKAN (M3):

Seringkali di zaman inipun kita masih bisa menjumpai situasi seperti itu, dimana setelah selesai melakukan kegiatan/pelayanan rohani, yang lebih memberikan puji-pujian dan penghormatan yang berlebihan kepada manusia/pelayan/hamba Tuhan (lebih dari kepada Tuhan), sehingga menimbulkan efek respon yang tidak tepat, yang tanpa kita sadari dapat menjadi candu atau kebutuhan, merasa kurang dihargai kalau tidak ada (atau sedikit) yang memberi ucapan “terimakasih,” tanda “Jempol atau Like,” sesuatu yang MENYENANGKAN bagi daging kita, tetapi MENYEDIHKAN bagi Allah, SERTA dapat memicu rasa jengkel, marah atau iri hati bahkan perseteruan diantara kita, karena membuat kita LUPA bahwa kita hanyalah “hamba-hamba” atau “anak-anak” Tuhan, yang Tuhan layakkan mengambil bagian dalam perkerjaanNya yang mulia;

Temukanlah dalam diri kita, saat kita MELIHAT orang lain atau diri kita MELAKUKAN pelayanan/kesaksian atau kemenangan atas Dosa/Masalah, kepada siapakah puji-pujian dan nyanyian kemenangan pertama kali kita berikan? (Mari pastikanlah pertama-tama untuk selalu memberikan puji-pujian dan nyanyian kemenangan kepada Tuhan, dan setelah itu bersyukur karena Tuhan telah melayakkan kita/orang lain mengambil bagian dalam pekerjaanNYA).

MEMBAGIKAN (M4)

Ceritakanlah pengalaman saudara yang dalam segala keadaan, pertama-tama untuk selalu memberikan puji-pujian, pengagungan dan nyanyian kemenangan kepada Tuhan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47