27 April 2022
Penulis : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
1 Petrus 3:15-16
A. PENGANTAR
Menguduskan Kristus didalam hati bukanlah sebuah sikap yang pasif, sebaliknya justru harusnya itu adalah sebuah sikap yang aktif dan praktis. Jadi karena ada kata “hati” disitu, bukan kemudian semuanya menjadi tidak kelihatan karena hanya dilakukan didalam hati seperti berdoa, menyembah Tuhan dan membaca Firman. Itu baru sebagian saja dari menguduskan Kristus didalam hati.
Ingat pelajaran kita kemarin bahwa “hati” dalam konsep teologi umat Israel dipahami sebagai pusat kehidupan umat manusia. Sehingga makna “menguduskan Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan” ingin menyatakan bahwa hanya Kristus saja yang berhak menentukan, mengatur dan mengendalikan seluruh (bukan sebagian) kehidupan kita.
PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Mari baca 1 Petrus 3:15-16
3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
3:16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

B.2. MERENUNGKAN (M2)
Menguduskan Kristus sebagai Tuhan harus dinyatakan dalam kesiap sediaan kita memberikan pertanggungan jawab rahasia iman dan keselamatan kita kepada orang-orang disekitar kita. Dan itu berarti kehidupan kekristenan kita selalu terbuka untuk dinilai oleh siapapun juga. Apakah hidup kita sungguh terbukti benar dan saleh?apakah kita bisa dipercaya? Bagaimana dengan integritas kita?bagaimana dengan moralitas kita? Jika kita konsisten menguduskan Kristus sebagai Tuhan, maka seharusnya semua itu bisa terlihat oleh orang-orang disekitar kita.
B.3. MELAKUKAN (M3)
Pertanggungan jawab yang dimaksud bukanlah kepintaran atau keahlian kita dalam bersilat lidah, berteologia, beradu argumentasi, membenarkan diri sendiri dan menyudutkan orang lain, dsb. Melainkan apakah secara moral dan spritual kita mampu membuktikan bahwa hidup kita bersih dan lurus dihadapan Tuhan maupun sesama. Sehingga orang-orang disekitar kita dapat meilhat Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita (pribadi, pekerjaan, keluarga, pergaulan, dsb).

Dan semuanya itu kita lakukan dengan hati yang tulus dan murni bukan dengan munafik. Orang yang munafik bisa terlihat bersih hidupnya dimata orang, tapi disatu sisi seringkali menampilkan wajah yang berbeda pula.
Harusnya kita sudah terbiasa hidup bersih, dengan moralitas yang sesuai standar Allah bukan manusia, integritas ilahi dan juga bisa dipercayai. Bukan hanya musiman atau kagetan. Tapi harusnya itu sudah jadai gaya hidup kita. Itulah sebabnya dikatakan kita harus siap sedia di segala waktu. Jika kita sudah terbiasa melakukannya, berarti kita sedang menyiapkan diri kita berlatih untuk selalu siap sedia dimintai pertanggungan jawab oleh orang-orang disekitar kita.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Saling berbagi ceritalah dan saling menguatkan dengan rekan komsel/saudara seiman tentang topik renungan hari ini.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

