16 Maret 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: Yakobus 5:15, 17-18
A. PENGANTAR
Di dalam Alkitab, Yesus mengajarkan satu prinsip yakni Doa adalah cara untuk berjaga-jaga yang menghindarkan diri dari pencobaan (Taman Gersemani – Matius 26:36-44). Doa adalah kekuatan untuk mengalahkan peluang pencobaan dengan cara menaikkan doa yang penuh iman dalam setiap waktu. Ketika kita berdoa, maka ruang kegagalan dapat diantisipasi dan dihindarkan. Namun jikalau kita sudah mengalami kegagalan, doa adalah satu bentuk penyerahan dan keterbukaan diri terhadap Tuhan sehingga kita diberikan hikmat untuk keluar dari permasalahan.
Fenomena sering muncul di dalam kehidupan anak-anak Tuhan tentang ketahanan diri saat berdoa atau menantikan jawaban doa. Seringkali faktor emosi diri melebihi iman sejati sebagai orang Kristen. Iman bukanlah emosi manusia semata, sekalipun memang ada unsur emosi di dalam tindakan iman orang Kristen. Emosi adalah bagian yang merupakan energi untuk melanjutkan pemahaman seseorang tentang prinsip kebenaran ke fase tindakan. Firman Tuhan sebagai perkataan Kristus adalah bahan yang suci dan berkuasa untuk membangkitkan semangat atau emosi sehingga memunculkan kehendak seorang untuk menjalankan perintah Tuhan dengan baik dan benar. Jadi ketika kita berdoa, pastikanlah bahwa kita sudah memahami firman Tuhan dan meminta roh hikmat dan roh wahyu untuk bertindak. Ciri kebenaran yang berkuasa dalam menghidupkan doa adalah seperti yang tertulis di dalam Filipi 3:9 –
dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Buah doa yang dialami Elia (dalam teks bacaan Alkitab) adalah hasil dari iman yang sungguh-sungguh. Iman yang muncul sebagai akibat dari kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah berdasarkan kepercayaan Elia kepada Tuhan, sehingga berdaya guna sampai pada realitas jawaban doa. Elia adalah manusia biasa, seperti kita, hanya saja yang bisa membedakannya dengan kita adalah imannya. Iman akan turunnya hujan dan iman akan meminta tidak turun hujan. Dengan kata lain, kunci doa yang terjawab terletak pada kehidupan iman pendoa, bukan pada kalimat doa yang disampaikan atau bukan juga karena suasana musik atau faktor lain yang mendukung suasana doa. Tuhan selalu berusan dengan kehidupan anak-anakNya. Sebab, Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan mendidik mereka untuk hidup dalam kebenaran selama di dunia. Jangan salah. Tuhan sangat jelas mengajarkan bahwa semua anak-anak Tuhan harus memiliki kualitas iman yang benar sehingga doa-doa mereka tentu terjawab. Bukan emosi saat berdoa yang membuat Tuhan menjawab doa kita. Tetapi iman yang benarlah sebagai prasyarat doa Anda dijawab oleh Tuhan.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacaan: Yakobus 5:15, 17-18
- Doa seperti apakah yang menyelamatkan orang sakit? (ayat 15)
- Apakah yang dilakukan Elia dalam berdoa sehingga hujan bisa tidak turun dan hujan juga bisa turun pada waktunya? (ayat 17-18)
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Sejenak ambil waktu yang khusus. Bagaimana jika Anda menjadi seperti Elia? Bagaimana Anda menata emosi Anda dalam berdoa? Dimana peran Firman Tuhan yang Anda tahu dalam setiap sesi doa yang Anda ikuti atau jalankan?

B.3. MELAKUKAN (M3)
Bangunlah budaya merenungkan firman Tuhan sampai menjadi kekuatan kuat untuk percaya. Lalu gunakanlah itu di dalam setiap permohonan doa Anda.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Adakah doa Anda yang dijawab Tuhan dalam (satu) minggu belakangan? Saksikanlah kepada rekan-rekan terdekat Anda.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

