06 Juni 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Kisah Para Rasul 4:33-35
A. PENGANTAR
Sekali lagi tentang kasih karunia.Kasih karunia adalah sama dengan rahmat Allah, yakni satu keistimewaan dari Allah untuk anak-anak Tuhan untuk membangun gaya hidup sebagaimana harusnya anak-anak Tuhan hidup di bumi. Apakah itu? Yakni satu kemampuan tingkat tinggi dalam hal memberikan bantuan yang nyata kepada sesama anak-anak Tuhan. Secara logika manusiawi, memberikan bantuan materi kepada orang yang membutuhkan adalah satu keputusan yang luar biasa. Apalagi di dalam ketidakmampuan, ada orang yang tetap dapat memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.
Melihat kebutuhan dan memberikan bantuan adalah karakter Kristus. Karakter ini menjadi satu kekuatan berespon yang baik dan benar ketika Yesus Kristus menghadapi kehidupan demi kehidupan yang penuh krisis yang dihadapi oleh banyak orang pada waktu itu. Kini saatnya, ketika seseorang dipenuhi oleh kasih karunia Allah, maka keputusan untuk memberikan bantuan materi adalah keputusan ilahi, karena kekuatan kasih karunia adalah kunci dasar dan alasan dasar untuk menolong sesama anak Tuhan. Perhatikanlah bagaimana dampak kuasa kasih karunia di dalam kehidupan jemaat mula-mula. Mereka memberikan apa yang mereka punya bukan karena mereka kaya atau berlebihan dengan kekayaan. Perhatikan juga apa yang dimengerti oleh jemaat di Makedonia di dalam 2 Korintus 8:2-4. Adanya kasih karunia mereka dapat memberikan bantuan melampaui kemampuan mereka dan mengambil bagian dalam pelayanan orang kudus (2 Kor 8:3-4).

Kemampuan memberi yang bersifat supralami, yakni keputusan untuk menolong dalam bantuan materi kepada saudara seiman yang melampaui perhitungan untung rugi di balik proses memberikan bantuan tersebut. Tidak salah kita memberikan kelebihan dari harta kita. Tetapi fenomena di dalam jemaat mula-mula dan jemaat di Makedonia, adalah satu kemampuan memberi di luar kemampuan mereka demi pemenuhan kebutuhan sesama anak Tuhan agar tercipta keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, adalah realita dari kekuatan kasih karunia. Mereka memberikan dengan sukacita, bukan sesekali, tetapi menjadi gaya hidup. Kenapa bisa terjadi demikian? Sumbernya adalah karena mereka berlimpah dengan kasih karunia (Kis 4:33). Bertumbuh dalam kasih karunia adalah kekuatan untuk bertumbuh dalam sikap dan tindakan memberi. Bagaimana dengan komunitas Anda saat ini? Apakah terlihat atau bahkan sudah menjadi kebudayaan dalam saling memberikan bantuan materi?
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1).
Bacaan: Kisah Para Rasul 4:33-35
- Apakah yang menyebabkan jemaat mula-mula dapat menjual tanah atau rumah demi membantu jemaat yang membutuhkan bantuan materi? (ayat 33)
- Kenapa disebutkan “tidak seorangpun berkekurangan diantara mereka?” (ayat 34)
B.2. MERENUNGKAN (M2).
Perhatikanlah ayat berikut :
Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (Kis 4:34-35)
Apakah arti “tidak seorangpun berkekurangan diantara mereka” menurut Anda? Apakah benar karena dampak kasih karunia yang melimpah di dalam jemaat, sehingga jemaat tidak seorangpun berkekurangan? Menurut Anda, bisakah kebiasaan ini terjadi di dalam komunitas Kristen Anda ?

B.3. MELAKUKAN (M3)
Sadarilah bahwa kasih karunia Allah yang sudah Anda peroleh itu memiliki kekuatan edukasi untuk melatih kita dapat bertumbuh dalam saling membantu pemenuhan kebutuhan ekonomi saudara/I seiman di sekitar Anda. Rencanakanlah siapa yang akan Anda bantu saat ini.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakanlaha kepada komunitas Kristen Anda, tentang kepuasaan jiwa sebagai bukti Anda memberikan bantuan kepada orang lain karena kesadaran Anda akan kuasa kasih karunia Allah yang bekerja.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

