09 Desember 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Roma 12:9-10
Dalam praktek kasih, menerima kesalahan orang lain – apakah seorang sahabat atau keluarga atau rekan-rekan Anda – adalah tindakan kasih. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka itu bukanlah kasih sejati, tetapi kasih semu atau kasih bersyarat. Untuk dapat menerima kesalahan orang lain, diperlukan sudut pandang yang benar dan tepat berdasarkan Alkitab.Perhatikanlah ayat-ayat berikut ;
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:10-11)

Yesus sedang mengajarkan kepada banyak orang di saat kejadian itu, tentang betapa penting dan harus untuk memahami siapa orang yang bersalah dan berdosa dan menimbulkan empati atau belas kasihan yang benar terhadap orang yang bersalah di dalam dirinya. Yesus tahu perempuan itu bersalah dan berdosa, sebagaimana banyak orang yang hadir pada saat kejadian tersebut, tetapi Yesus tidak menghukumnya dan bahkan mendidiknya dengan kata-kata nasehat tentang hidup yang tidak berdosa.

Tahukah Anda seberapa kuat hati Yesus saat itu? Bagaimanakah Yesus memiliki respon kasih seperti itu? Bisakah Anda bersikap seperti Yesus tatkala di depan mata Anda ada saudara seiman atau sahabat atau keluarga inti Anda yang menyakiti hati Anda sepanjang waktu lamanya. Kasih itu dilakukan, tidak bisa dihafal atau dipelajari secara teori saja. Anda harus selalu ber-praktek menerima orang yang bersalah terhadap Anda setiap saat, agar kepekaan dan respon otomatis untuk mengampuni dapat menjadi kebiasaan rohani di dalam hidup Anda. Belajar menerima pribadi yang bersalah dan membenci dosanya adalah prinsip Alkitab yang sangat penting.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4

