SELASA – DARI MANA ASALNYA “MENCARI KEUNTUNGAN DIRI SENDIRI”

21 Mei 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Kej 3:11-14; Kej 4:9

Kejadian 4:9 Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel,  adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu!  Apakah aku penjaga adikku?”

Sejak semula Tuhan menciptakan manusia untuk tujuanNya Tuhan, untuk kepentingan Tuhan yaitu untuk menghadirkan kerajaanNya di bumi. Bumi akan dipenuhi dengan manusia segambar serupa dengan Allah. Manusia memerintah bersamaNya. Pelanggaran perintah Tuhan dan mengikuti godaan iblis di Taman Eden oleh Adam dan Hawa, menjadi awal dari manusia mementingkan diri sendiri, mencari keuntungan untuk diri sendiri, ingin mencapai/memperoleh yang lebih “untung “ dengan caranya sendiri.

Manusia bukannya meraih untung, malah mengalami kerugian yang besar “manusia itu mati” tidak bisa lagi berhubungan dengan Allah, mengalami ketakutan, menjauh dari Tuhan serta bersembunyi. Adam dan hawa mencari alasan mengapa mereka melanggar perintah Tuhan, mereka tidak mau bertanggungjawab dan mencoba mencari jalan keluar dengan dalih masing-masing, cari jalan selamat masing-masing dengan menyalahkan orang lain.

Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan si Ular. Orang yang memencari keuntungan sendiri akan selalu menyalahkan orang lain atau merugikan orang lain. Tidak memandang siapa yang dirugikan tersebut. Lihatlah Adam dengan teganya menyalahkan istrinya dihadapan Tuhan untuk kepentingannya sendiri, dia kehilangan “KASIH” kepada Hawa. Hati-hati, dosa membuat kita menjadi pribadi yang mementingkan diri sendiri.

Sikap mencari keuntungan atau mementingkan diri sendri ini menurun kepada keturunan mereka yaitu Kain. Kain sebagai anak sulung seharusnya memperlakukan adiknya dengan baik sebagai penjaga adiknya Habel. Tetapi tidaklah demikian, Kain justru marah kepada Habel karena merasa dirugikan, Habel dianggap sebagai saingan, Tuhan berkenan atau mengindahkan korban persembahan Habel sementara korban persembahan Kain, Tuhan tidak mengindahkannya, hati Kain panas dan mukanya muram. Dia merasa tidak diuntungkan dalam kejadian “korban tersebut” dan akhirnya membunuh Habel adiknya sendiri.

Sungguh dosa membuat Kain benar-benar menjadi egois dan merpusat kepada dirinya sendiri, ketika Tuhan bertanya kepada Kain,” dimana Habel adikmu itu, dengan mudahnya dia menjawab aku tidak tahu, apakah aku penjaga adikku”.Orang yang sudah dikuasai oleh keinginannya sendiri tidak lagi perduli dengan siapa dia berbicara, dia hanya fokus kepada tujuannya dan tidak perduli apakah orang lain itu dirugikan. Lihatlah keegoisan dan ingin mendapatkan keuntungan, diakui, dihormati atau diindahkan membuat Kain kalap dan membunuh adiknya sendiri.

Tuhan mau mengembalikan cara hidup kita kepada yang semula yaitu hidup sesuai perintah Tuhan, sesuai dengan keinginan Tuhan, yaitu untuk membangun kerajaanNya. Tuhan mau menyelamatkan kita dari cara hidup dengan keinginan kita sendiri, mengembalikannya kepada cara hidup sesuai dengan keinginan Tuhan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo