SABTU – RELA MEMBERI

25 Mei 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: 2 Kor 8:1-5

1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia . 2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan i mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.

Rela memberi adalah satu karakter dari orang percaya yang menyadari kasih karunia Tuhan, memberi lebih berbahagia dari pada menerima. Sifat ini sangat sulit kita temukan di akhir zaman ini, manusia lebih senang menerima dari pada memberi “seolah-olah lebih baik menerima daripada memberi”. Bisa jadi jarang orang berdoa dan merencanakan untuk bisa memberi, lebih banyak isi doanya untuk mendapatkan atau menerima, ketika dia menerimanya baru bersyukur dengan luar biasa. Banyak tantangan untuk memiliki sifat memberi, karena kondisi kehidupan yang semakin sulit dan bisa jadi banyak contoh di masyarakat atau komunitas yang terlihat, didominasi oleh kebanyakan yang tidak terbiasa dengan memberi atau mementingkan diri sendiri.

Terkadang dalam pertemuan dengan saudara seiman (komunitas orang percaya), lebih sering terlihat sifat yang lebih senang menerima “apa yang saya dapat, bukan apa yang akan saya beri”, kesaksian lebih banyak kita dengar “bersyukur untuk apa yang diterima, bukan apa yang diberi/dipersembahkan”.

Bisa jadi kita kita memiliki persepsi yang salah tentang memberi, memberi yang dimaksud bukanlah memberi dari kelebihan, tetapi memberi dengan ketulusan tanpa mengharapkan imbalan. Memberi sebagai ucapan syukur tindakan iman bukan karena aturan tetapi sebagai bukti bahwa Tuhan pelihara hidup kita dan kita ditetapkan untuk menjadi saluran berkatNya kepada yang lain. Memberi berarti oleh anugrah Tuhan kita menyalurkan berkat yang kita terima dari Tuhan kepada sesama, agar sesama kita juga bisa mengalami berkat Tuhan dan kita sendiripun diberkati, karena melakukan Firman atau perintah Tuhan. Memberi bukan karena sudah berlebih atau tanpa masalah, tetapi karena ketaatan kepada Tuhan.

Jemaat di Makedonia, bukanlah jemaat yang berlebihan secara jasmani, mereka dikatakan berkekurangan (miskin) dan mengalami pencobaan dan penderitaan, tetapi mereka punya hati memberi yang luar biasa. Oleh kemurahan Allah mereka memberi untk mendukung pelayanan. Mereka bukanlah jemaat yang kaya tetapi mereka rela untuk memberi dan memberkati yang lain.

Memberi merupakan sikap hati, memberi bukan karena emosi, bukan karena keinginan dihormati dan menjadi terkenal, merekapun tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan akan dicatat dan masuk menjadi bagian Alkitab dan diingat sepanjang sejarah. Jemaat yang sederhana menjadi berkat sampai saat ini, karena mereka memberi dari kekurangan mereka. Seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 20:35, Rasul Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus, “…. sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Apa yang kita pelajari dari jemaat Makaedonia ini, memberi bukan dari kelebihan, memberi bukan menunggu sampai kita kaya, tetapi memberi karena ketaatan kepada Tuhan, memberi untuk ambil bagian dalam keraajan Allah, memberi untuk sebagai syukur kepada Tuhan. Bagaimana jika dalam satu keluarga, satu komunitas orang percaya, mereka menerapkan prinsip yang rela memberi (dalam bentuk materi, waktu, tenaga, doa, mereka akan bahagia, menjadi kuat dan bertumbuh, menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo