14 Juli 2024
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Roma 5:3
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,(Roma 5:3)
Ada satu pemahaman yang mengatakan bahwa motivasi terdalam seseorang akan terlihat ketika orang itu berada dalam kondisi tertekan tatkala dia sedang mengerjakan satu tugas. Pernyataan ini didasarkan pada teori dalam ilmu psikologi. Penjelasan ini dapat dipahami dalam kisah Ayub di dalam Alkitab. Keyakinan Ayub dengan pernyataan dirinya tatkala dia mengalami masa perkabungan, yang berbunyi :
katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

Keyakinan Ayub akan pernyataan dirinya tersebut diuji melalui berbagai peristiwa di dalam keluarganya yang benar-benar menekan jiwa Ayub sampai pada satu titik Ayub hampir akan meninggalkan Tuhan. Dikenal sebagai seorang yang hidup saleh, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan di jamannya (Ayub 1), ternyata masih perlu pengujian dari Allah. Tekanan yang sangat berat sampai pada titik nadir terendah hidupnya, telah membuktikan motivasi terdalam dari hidup Ayub yakni mempercayai dan mengikuti Allah. Kesengsaraan besar telah dialami Ayub, dan berkat ganda pun selanjutnya diperoleh Ayub. Ketekunan yang berat dengan menjaga hati dan hubungan kepada Tuhan, adalah jalan sulit tapi menjanjikan kepastian kemenangan dan perolehan berkat yang besar di dalam hidup Ayub.
Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. (Ayub 42:10)
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo

