14 Maret 2021
By: Pdt. Santoso S. Hutabarat
Ayub 27:6
Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela seharipun dari pada umurku. (Ayub 27:6)
Situasi Ayub ketika menyampaikan pernyataan ini adalah sangat sulit. Secara hati dia teraniaya karena dia memiliki komitmen hidup sebagai orang yang saleh, jujur , takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Lihat Ayub 1:1). Tetapi keadaan sekarang menerpa Ayub, dimana satu per satu anak-anaknya meninggal , harta benda habis dan Ayub sendiri menderita satu penyakit. Ditambah lagi sahabat-sahabatnya tidak mendukung perjuangan imannya, malah membujuk Ayub untuk meninggal Allah yang dipercayainya. Bagaimana hal ini jika terjadi pada Anda? Tetapi ada teladan sangat baik dari Ayub yang patut kita contoh. Apakah itu?

Menemukan (M1)
Bacalah Ayub 27:6.
1.Apakah perkataan Ayub kepada dirinya? (Ayub 27:6)
Merenungkan (M2)
Bagaimanakah cara Anda memiliki hati yang teguh ketika badai kehidupan menerpa atau menggoncang kehidupan Kekristenan Anda? Pikiran apakah yang pertama muncul ketika Anda ada di dalam satu situasi krisis?

Melakukan (M3)
Saatnya untuk melatih keteguhan hati dalam keadaan-keadaan yang menganggu (distraksi) baik keadaan yang menyenangkan maupun keadaan yang menyakitkan diri Anda. Catatlah dalam 1 minggu, hal-hal aps saja yang menjadi pengganggu dalam upaya Anda memiliki hati yang teguh!
Membagikan (M4)
Saksikanlah perubahan hati Anda kepada saudara seiman. Dan ceritakanlah kepada mereka bahwa Anda antusias untuk memiliki hati yang teguh setiap saat.

