20 April 2021
By: Hendrik Yulianto
1 Kor 6 :19
MENEMUKAN (M1)
Mari kita baca ayat FT dari 1 Kor 6 :19 “Kalian harus tahu bahwa tubuhmu adalah tempat tinggal Roh Allah. Roh itu tinggal di dalam kalian. Dan Allah sendirilah yang memberikan Roh itu kepadamu. Diri Saudara bukan kepunyaanmu. Itu kepunyaan Allah.” (BIS)
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (TB)
Mari temukan (dengan menanyakan kepada diri kita sendiri) apakah makna kalimat “Diri Saudara bukan kepunyaanmu. Itu kepunyaan Allah” bagi diri kita? Apa pengaruhnya/dampaknya kalimat tersebut bagi hidup kita?
MENERIMA & MERENUNGKAN (M2)
FT yang kita baca diatas mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah milik kita sendiri, melainkan kepunyaan Allah.
Salah satu penghalang untuk kita bisa mencintai Kristus dalam segala hal adalah perasaan berhak yang kita miliki. Kita merasa berhak dengan diri kita, merasa berhak menikmati hidup ini, merasa berhak dengan apa yang kita miliki. Kita merasa bahwa kita berhak untuk hidup semau kita sendiri. Kita merasa berhak menggunakan uang/harta yang kita miliki sesuai dengan keinginan kita yang mana biasanya hanya untuk memuaskan diri kita sendiri.

Perasaan berhak ini bukan hanya menjangkiti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tapi bahkan juga orang-orang yang mengaku mengenal Tuhan bahkan mungkin orang-orang didalam lingkungan gereja. Seringkali karena kita sudah memberikan perpuluhan, maka kemudian kita merasa berhak menggunakan yang 90% dengan suka-suka kita. Padahal 100% hidup kita dan yang kita punyai adalah milik Tuhan. Karena kita sudah melayani Tuhan dan mungkin sudah banyak berkorban untuk pelayanan lalu kita merasa bahwa kita berhak untuk diistimewakan oleh gereja atau bahkan Tuhan, dsb. Merasa berhak ini lah yang menyebabkan anak sulung dalam kisah anak yang hilang menjadi marah ketika adiknya yang bungsu Kembali. Anak sulung tersebut bukannya ikut bergembira dengan bapaknya karena adiknya yang hilang telah Kembali melainkan malah marah dan kecewa kepada bapaknya. Dan yang tragis adalah, sampai akhir kisah tersebut kita tidak mengetahui apakah anak sulung tersebut bertobat atau tidak. Seharusnya kita miliki mentalitas anak bungsu(setelah bertobat), yaitu asalkan masih bisa makan(hidup) dan boleh tinggal dirumah bapanya dan bahkan kalaupun dia hrs jadi pegawai bapanya maka itu sudah lebih dr cukup. Dia tdk lagi memikirkan haknya, tidak lagi memikirkan upahnya.
Dengan merasa berhak sesungguhnya berarti kita memberontak kepada Tuhan karena kita menyangkal bahwa diri kita adalah milikNya. Dengan merasa berhak kita tidak akan pernah bisa dibentuk oleh Tuhan menjadi pribadi seperti yang Dia mau. Dan dengan merasah berhak kita tidak akan pernah bisa mencintai Kristus lebih dari segala hal karena fokus kita bukanlah Dia lagi melainkan pengakuan manusia dan kepuasan daging semata.

MELAKUKAN (M3)
Jika kita ingin lebih mencintai Kristus, maka kita harus sungguh-sungguh belajar melepaskan rasa keberhakan kita. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang memberi teladan bagi kita, yang walaupun Allah tapi rela dalam segala hal disamakan dengan manusia. Mari kita introspeksi diri kita dan terus belajar untuk melepaskan rasa keberhakan kita. Kita terus tanamkan dan praktekkan bahwa diri kita bukanlah milik kita lagi. Jadi apapun yang kita lakukan semuanya harus berporos kepada Tuhan. Dia lah Tuan atas hidup kita, dan kita adalah hambaNya. Apa yang kita lakukan harus sesuai dengan titahNya.
Jika kita mengalami sesuatu yang menyakitkan bagi kita padahal menurut kita harusnya kita layak dan berhak menerima yang lebih baik, kita belajar untuk menerimanya dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Dia bentuk. Kita katakan kepada Tuhan bahwa segala kesakitan yang kita terima asalkan itu membuat kita semakin menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan maka kita rela menerimanya. Tentu tidak bisa 1, 2 hari kita melakukannya, perlu proses yang panjang dan bahkan mungkin seumur hidup kita. Dan mungkin bukan hanya sulit, tapi sangat sulit. Tapi jika Tuhan Yesus yang dalam rupa manusia mampu melakukannya dan menjadi teladan bagi kita, tentu kita juga bisa melakukannya selama kita memiliki tekad dan kesungguhan dan pastinya oleh tuntunan Roh Kudus. Halleluya!!
MEMBAGIKAN (M4)
Perbuatan (sikap, tingkah laku, tutur kata) adalah kesaksian terbaik yang bisa kita lakukan. Biarlah orang-orang disekitar kita melihat kehidupan kita yang berubah dari waktu ke waktu dan mereka melihat Tuhan dalam hidup kita.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

