16 Februari 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Kejadian 1:26-27; Kejadian 3:21-23
A. PENGANTAR
Mari kita sejenak untuk merenungkan kembali tentang keberhargaan pribadi ciptaan Tuhan yakni manusia. Ukuran keberhargaan diri manusia diukur dari ukuran Allah terhadap manusia. Apakah itu? Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Kualitas itu dikukuhkan oleh Allah melalui pemberkatan suci satu rumah tangga yakni Keluarga Adam dan Hawa. Lalu dosa merusak keluarga ini, namun keberhagaan diri untuk manusia tidak akan pernah terhapus atau hilang sama sekali. Sebab setiap karya Allah, sama halnya dengan semua ciptaan Allah dari hari ke 1 sampai hari ke 5 yang sudah ada dan siap dikembangkan oleh manusia di bumi adalah sungguh amat baik (Kejadian 1:31).
Dosa menyebabkan manusia tidak dapat atau tak berdaya memandang manusia sebagai ciptaan yang sangat berharga. Kenapa demikian? Dosa merusak kesucian cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri. Tersirat ada daya pengaruh iblis kepada manusia tatkala mereka sedang berada di Taman Eden. Pesan tersebut jelas terlihat dalam Kejadian 3:4-5 berikut ,
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
Dosa membuat mata jasmani manusia dapat melihat hal yang baik dan yang jahat, karena seolah-oleh menjadi seperti Allah. Inilah potensi dosa yakni dalam hal kemampuan untuk menentang Allah karena merasa dirinya seperti Allah, lewat perubahan cara pandang terhadap dirinya yakni menilai rendah keberhargaan Allah dalam diri manusia. Sebagai wujud nyatanya adalah menusia menjadi lebih menghargai dirinya dan atau ciptaan Allah daripada Allah sendiri sebagai penciptanya. Semangat negatif inilah yang terus bertumbuh semakin membara dalam hati manusia sehingga, setiap kali manusia direndahkan oleh manusia lain maka rasa ingin membalas bahkan meniadakan seseorang telah menguasai hati manusia.

Manusia sulit menghargai satu pribadi manusia, sebaliknya lebih mampu melihat dosa manusia itu sebagai alasan untuk tidak mampu menerima dan tidak mampu memaafkan, karena telah dimulai cara pandang yang salah terhadap keberhagaan diri manusia. Itulah sebabnya kasih manusia masuk dalam kecenderungan pada kasih bersyarat kepada sesama. Kasih bersyarat itu menjebak manusia kepada kondisi yakni selalu memilih orang-orang yang dapat menghargainya agar kasihnya dapat disalurkan kepada orang baik dan berkenan tersebut.
Marilah kita belajar kepada teladan Allah dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan, perihal satu kekuatan dan kecakapan untuk menerima orang lain yang bersalah dan berdosa kepada kita atau dari seseorang kepada orang lain yang Anda kasihi, tetapi tidak menyetujui kesalahan atau dosanya. Sebagai orang Kristen yang telah dianugerahkan firmanNya sebagai pedoman kasih, seyogyanya kita berfokus pada kesalahan untuk dimaafkan daripada kepada pribadinya. Menghargai manusia sebagai pribadi, apakah anak, pasangan hidup, saudara seiman atau orang-orang bukan Kristen sekalipun, adalah kunci penerimaan tanpa syarat. Penerimaan tanpa syarat adalah pintu berkat kepada terjadinya pemulihan hubungan dan yang pada gilirannya menjadikan kita sebagai orang Kristen yang dewasa dalam penerapan kasih Allah kepada semua orang.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacalah Kejadian 1:26-27; Kejadian 4:14-15
- Apakah ukuran manusia diciptakan oleh Allah? (Kejadian 1:26-27)
- Apakah tindakan Allah kepada Adam dan Hawa sebelum mereka diusir ke luar Taman Eden? (Kejadian 4:14-15)

B.2. MERENUNGKAN (M2)
Temukanlah pemaknaan penghargaan Allah kepada manusia berdosa (seperti kisah Adam dan Hawa)? Apakah Allah kompromi terhadap dosa? Atau Allah ingin memberikan kesempatan Adam dan Hawa untuk bertobat dari perbuatan yang jahat?
B.3. MELAKUKAN (M3)
Setelah Anda mencoba memahami makna “pembiaran Allah terhadap Adam dan Hawa”, apakah langkah praktis Anda tatkala Anda menghadapi seseorang yang sangat dekat dengan Anda, tiba-tiba berubah sikap dan tindakan yang melukai hati Anda?
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Tindakan kasih Allah adalah lebih kuat dari sekedari kata-kata tentang kasih Allah. Tunjukkanlah kasih Allah dalam diri Anda kepada orang lain.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

