26 April 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
1 Petrus 2:18-25
A. PENGANTAR
Tema besar dari surat rasul Petrus adalah mengenai Menderita bagi Kristus dimana suratnya ditujukan kepada “orang-orang pendatang yang tersebar” di seluruh propinsi Asia Kecil kekaisaran Romawi (1Pet 1:1). Beberapa di antara mereka ini mungkin adalah orang bertobat yang menanggapi khotbahnya pada hari Pentakosta dan telah kembali ke kota masing-masing dengan iman yang baru (bd. Kis 2:9-11). Orang percaya ini disebut “pendatang dan perantau” (1Pet 2:11) (sumber : Pengantar Kitab Petrus sabdaweb.sabda.org/study/).
Tampaknya saat itu orang-orang Kristen pendatang dan perantau ini sedang mengalami hambatan dan penganiayaan. Mereka sebagai pendatang/perantau sering dianggap/difitnah sebagai orang durjana oleh penduduk sekitar (1 Petrus 2:12).
Diperkirakan Petrus menulis suratnya ini disekitar tahun 60-63 Masehi, sebelum pertumpahan darah yang mengerikan oleh kaisar Nero dimulai (tahun 64 Masehi) dimana Nero mengejar dan menganiaya orang-orang Kristen. Tuhan melalui Roh KudusNya mengilhami Petrus untuk menulis surat ini bukan hanya untuk mereka (orang-orang Kristen pendatang/perantau) menghadapi penderitaan dan fitnahan yang saat itu mereka alami, tapi bahkan untuk menyiapkan mereka menghadapi penganiayaan yang lebih dahsyat yang akan dilakukan oleh Nero.

PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Dalam surat Petrus kita bisa menemukan beberapa judul perikop dengan tema penderitaan seperti di 1 Petrus 2:18-25 dengan judul perikop Penderitaan Kristus Sebagai Teladan, kemudian di 1 Petrus 3:13-22 dengan judul perikop Menderita dengan Sabar. Dan juga di 1 Petrus 4 :12-19 dengan judul Menderita sebagai Kristen. Hal ini sesuai dengan pengantar kitab Petrus bahwa tema besar dari surat rasul Petrus adalah mengenai Menderita bagi Kristus.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Sangatlah menarik bahwa panggilan untuk “Menguduskan Kristus sebagai Tuhan” disampaikan ditengah-tengah konteks jemaat Kristen yang waktu itu sedang mengalami penderitaan baik secara mental dan spiritual pada awalnya dan kemudian juga penderitaan secara fisik saat kaisar Nero mulai mengejar-ngejar dan menganiaya orang-orang Kristen pada tahun 64 Masehi.
Artinya bahwa ditengah-tengah penderitaan yang kita alami, kita dipanggil untuk menguduskan Kristus dalam hati kita sebagai Tuhan. Kita memberikan tempat yang seharusnya kepada Kristus sebagai pemilik kehidupan kita. Bahwa baik dalam keadaan suka maupun duka karena melakukan kebenaran kita harus tetap mengkhususkan/memisahkan Kristus dalam hati kita. Hati, dalam konsep teologi umat Israel dipahami sebagai pusat kehidupan umat manusia. Sehingga makna “menguduskan Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan” ingin menyatakan bahwa hanya Kristus saja yang berhak menentukan, mengatur dan mengendalikan seluruh kehidupan kita.
B.3. MELAKUKAN (M3)
Saat ini penderitaan sebagian besar kita mungkin bukan secara fisik. Walaupun mungkin masih ada orang-orang Kristen dibelahan bumi yang lain benar-benar mengalami penderitaan secara fisik karena mereka Kristen. Penderitaan kita seringkali penderitaan secara mental dan rohani/spiritual.

Kita menderita karena tidak bisa mengikuti keinginan daging kita, kita harus mati kepada setiap keinginan daging kita. Hal ini tidak mudah, dan perlu berjuang dengan sungguh-sungguh untuk bisa mati terhadap setiap keinginan daging kita. Ketika orang-orang dunia bisa menikmati segala kesenangan dunia ini, kita tidak bisa. Orang-orang dunia bisa larut dalam segala hal yang mereka sukai dan senangi. Kita tidak bisa, karena kita harus menjadikan Kristus sajalah kesukaan dalam hidup kita. Orang-orang dunia bisa membalas orang-orang yang menyakiti mereka dengan sesuka hati mereka baik lewat perkataan, sikap maupun perbuatan. Kita tidak bisa, karena kita harus belajar meneladani kehidupan Kristus. Orang dunia bisa hidup seenak mereka sendiri tanpa ada yang mengatur, kita tidak bisa. Kita sangat menderita, karena dunia menyerang kita terus-menerus, non-stop menawarkan berbagai kesenangan dan berbagai ajakan yang memikat namun kita harus terus bertahan dan berjuang mempertahankan iman kita.
Inilah penderitaan yang kita saat ini sebagai orang-orang Kristen harus alami. Dan dalam semuanya itu kita harus tetap teguh menjadikan Kristus sebagai Tuhan dalam hati kita, menjadi Dia sebagai pusat kehidupan. Bahkan jikapun nantinya kita diijinkan juga mengalami penderitaan secara fisik, iman kita tidak boleh goyah sedikitpun.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Bagikan dan kuatkan saudara seiman yang menurut anda sedang goyah imannya ditengah-tengah kehidupan dunia yang semakin jahat ini.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

