07 Juni 2022
Penerbit: Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Matius 10:32-33, Roma 1:8-17 (NKJV)
PENGANTAR
“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 10:32-33)
MENEMUKAN (M1)
Kitab Roma 1:16 dalam versi bahasa Inggris (NKJV) tertulis “for I am ashamed of the gospel of Christ….aku tidak malu pada injil Kristus. Rasul Paulus mengungkapkan bahwa ia tidak malu karena injil, karena oleh injil (Yesus) itulah ia mengalami pengampunan, diterima apa adanya, mengalami pemulihan dan dilayakkan untuk menjadi mitra/partner/sahabat/rasulnya Yesus Kristus Tuhan.
Saya ingat waktu saya kecil, tinggal ditengah-tengah agama mayoritas, perasaan berbeda dengan orang lain (tetangga) adakalanya membuat saya malu— termasuk dalam soal iman/identitas diri sebagai orang beriman. “Apakah saudara pernah mengalaminya?” Saat saya masih kanak-kanak, setiap kali akan pergi ke gereja hari Minggu, saya malu jika saya ditanya akan pergi ke mana oleh orang lain. Kami minoritas di tempat kami tinggal saat itu. Saya malu untuk menyatakan identitas diri, padahal saya bukan pencuri atau penjahat loh.
Tetapi Ayat renungan kita mengatakan seharusnya kita tidak malu untuk injil dapat dinyatakan! karena injil adalah berita keselamtan dan ada kekuatan Allah di dalamnya.

MERENUNGKAN (M2)
Jemaat abad pertama di Roma jelas tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas. Mereka hanyalah komunitas baru yang kecil di tengah masyarakat Yunani dan Romawi yang sangat maju kebudayaan dan pengetahuannya. Dibenarkan karena iman terhadap Injil tentu terdengar sebagai sesuatu yang tidak masuk akal bagi kalangan terpelajar dan masyarakat di Roma saat itu. Tekanan perbedaan, dan minoritas itu bisa saja membuat iman jemaat pertama itu goyah, sehingga Paulus sangat ingin mengunjungi mereka untuk menguatkan iman mereka (Roma 1:11). Paulus menegaskan sikapnya, *“… aku tidak malu terhadap Injil.” ”Mengapa?” Sebab, di dalamnya terkandung kebenaran tentang kekuatan Allah yang menyelamatkan. Seperti utang yang harus dibayar, Paulus ingin agar semua orang, baik terpelajar, atau tidak terpelajar di Roma, memahami berita yang menyelamatkan ini *(Roma 1:14). Dalam pasal-pasal selanjutnya, kita melihat bagaimana Paulus menjelaskan berita Injil dengan sangat detail. Kebenaran sejati tidak ditentukan oleh berapa orang yang memercayainya, tetapi dari siapa sumber kebenaran tersebut. Sejarah kemudian mencatat, bahwa kekuatan Allah itu nyata, bukan hanya orang Roma diselamatkan tetapi seluruh Eropa bahkan bangsa-bangsa.

MELAKUKAN (M3)
Mulai hari ini, janganlah kita pernah minder dengan identitas dan dengan apa yang kita imani. Karena bagi Allah, injil yang kita percayai itu sudah cukup untuk mengoncangkan suatu komunitas bahkan bangsa-bangsa. _“Adakah situasi-situasi saat ini, yang membuat kita malu untuk menyatakan diri sebagai orang kristen?” Jika ya, periksalah kembali keyakinan kita terhadap kebenaran Injil. Selidikilah kebenaran. Tetapi saya yakin, kita semua percaya, dan kepercayaan kita kepada injil itu akan membawa kekuatan perubahan bukan hanya pada kita sendiri, tetapi juga atas keluarga kita bahkan bagi banyak orang (komunitas dan bangsa).
MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakanlah pada semua saudaramu/pada banyak orang, bahwa ketika kita menghidupi prinsip-prinsip bahwa injil adalah kekuatan Allah, maka pasti akan terjadi pemulihan dan kemenangan yang besar.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

