11 Juli 2022
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Kejadian 1:26-27; 2 Korintus 5:17
A. PENGANTAR
Salah Satu hasil survei tentang kebutuhan mendasar seorang manusia adalah kebutuhan akan pengakuan diri (eksistensi diri). Kebutuhan akan diterima dan diakui tentang siapa diri seseorang menjadi satu bentuk ekspresi diri yang dapat dijadikan bukti bahwa aktualisasi diri adalah salah satu strategi manusia untuk menunjukkan kekuatan atau bakat atau potensi diri di hadapan banyak orang. Tentu juga terkandung ekspresi titik kritis atau kelemahan seseorang yang diekspresikan. Di dalam aktualisasi diri juga terdapat arti keberhargaan diri. Inilah fenomena umum yang terjadi.
Bagaimana pandangan Alkitab terhadap keberhargaan diri? Jauh sebelum kejadian demi kejadian tentang aktulisasi diri yang hari-hari ini semakin banyak dan luas, terutama di dalam media social baik secara dunia maya (online) ataupun dalam dunia nyata, Alkitab telah menunjukkan satu standar tentang keberhargaan diri, yang dimulai pada saat penciptaan manusia pertama di muka bumi. Di dalam Kejadian 1:26-27 dijelaskan satu kebenaran yakni manusia diciptakan segambar atau serupa dengan Allah. Artinya, ada rancangan tentang keberhargaan diri yang ukurannya adalah gambaran Allah yang sempurna. Apakah ada ukuran keberhargaan diri seseorang selain dari kebenaran ini? Tentu tidak ada. Hanya saja ketika dosa menguasai alam bawah sadar manusia, terjadi satu kehilangan akan gambar diri yang berharga di dalam alam bawah dasar setiap manusia. Yang pada gilirannya menyebabkan setiap orang membangun satu konsep tentang keberhargaan diri yang terbentuk dari standar-standar manusia dan cenderung dikaitkan dengan kepemilikan materi atau status social dimana mereka hidup. Kecenderungan manusia mengukur dirinya dengan apa yang mudah terlihat atau yang dimiliki dan bahkan dijadikan standar umum tentang keberhargaan diri. Misal, ukuran seorang yang berhasil jika memiliki nilai kekayaan yanag besar atau jika seseorang berada di status sosial yang terpandang di tengah masyarakat.

Tantangan standar keberhargaan diri adalah kebenaran Allah yakni satu perubahan identitas diri dari identitas sebagai pendosa menjadi seorang yang diselamatkan dan menjadi anak Allah (2 Kor 5:17; 1 Yoh 3:1). Ketika terjadi perubahan identitas pribadi ini, maka ukuran keberhargaan diri itu adalah identitas tertinggi dan sempurna yakni Pribadi Allah sendiri. Marilah kita mengenakan dan menyatukan pola pikir dan semua kehendak kita dalam mengekspresikan diri sehari-hari baik diantara keluarga, anggota gereja maupun kepada orang-orang di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Tak perlu ragu dan bimbang, bahwa sesungguhnya setiap anak Allah adalah pribadi yang sangat berharga dan bernilai sangat mulia di mata Allah dan dunia.
B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Bacalah : Kejadian 1:26-27; 2 Korintus 5:17
- Diciptakan segambar dengan siapakah manusia diciptakan? (kej 1:26-27)
- Siapakah yang dsiebut ciptaan baru? (2 Kor 5:17)
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Sejauh apakah pengertian Anda tentang nilai harga diri yang didasarkan pada gambaran Allah (Kej 1:26-27)

B.3. MELAKUKAN (M3)
Bentuklah pola pikir keberhagaan diri yang benar sebagai ciptaan Allah dan penerapan di dalam setiap tugas yang Anda emban setiap hari.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Ceritakanlah tentang ada keberhargaan diri yang terbaik yang Anda yakni kepada teman-teman Anda yang memiliki kerapuhan dalam harga diri.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

