01 Oktober 2022
Penerbit: Departemen Pengajaran GKKD Bogor
1 Samuel 1 :1-20
A. PENGANTAR
Saya mengantar renungan pagi ini dengan kisah legenda, ada seorang pemuda berhasil menangkap seekor ikan yang sangat cantik ketika ia memancing di sungai. Dengan semangat ia segera membawa ikan itu ke rumahnya untuk dimasak. Tiba-tiba ikan itu berubah menjadi seorang putri yang cantik. Putri itu bersedia menikah dengan pemuda tersebut, asalkan dia berjanji tidak akan menceritakan asal usulnya kepada siapa pun. Singkat cerita, mereka akhirnya menikah dan memiliki seorang anak yang dinamai Samosir. Suatu hari, Samosir disuruh ibunya untuk membawakan bekal makan siang bagi ayahnya. Namun, Samosir justru memakan bekal itu dan bermain bersama teman-temannya. Sang ayah yang mengetahui perbuatan anaknya sangat marah. Ia segera menghampiri Samosir, menjewer telinganya dan berkata, “Dasar ‘kau anak ikan!” seketika itu juga terjadi hujan besar yang menenggelamkan desa itu dan membentuk danau yang sekarang kita kenal dengan nama Danau Toba. Jangan terlalu serius ya, ini memang hanya kisah legenda rakyat mengenai asal usul terciptanya Danau Toba.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
Memegang janji bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesadaran, kesabaran, dan kesetiaan untuk bisa menepati janji yang pernah dibuat. Oleh karena itu, orang yang dapat memegang janjinya mendapat kepercayaan dari sesama. Hana juga membuat janji di hadapan Tuhan. Ia berjanji, jika Tuhan memberikannya seorang anak laki-laki, maka anak itu akan menjadi pelayan Tuhan. Sebuah janji yang tidak mudah untuk dilakukan. Bayangkan, Hana sudah lama sekali menantikan kehadiran seorang anak, tetapi ia berjanji menyerahkannya kepada Tuhan! Meskipun sulit, Hana menepati janjinya. Ia menyerahkan anak yang sudah lama dinantikannya menjadi pelayan Tuhan.
B.2. MERENUNGKAN (M2)
Apakah doa Hana dikabulkan karena nazarnya itu? Sebenarnya, bukan itu yang terjadi. Fokus nya bukan pada dirinya dan permintaanNya tetapi fokusnya pada Allah semata, dan Hana hanya ingin menyenangkan hati Allah bukan hanya hatinya, Hana tidak memaksakan untuk bernegosiasi dengan Tuhan (semacam “jika Tuhan memberikan ini, maka saya akan melakukan itu”). Apapun yang Allah berikan ia berjanji untuk menepati janjinya untuk memberikan yang terbaik. Ia berani untuk menepati nazarnya! Terlepas dari hasilnya.

B.3. MELAKUKAN (M3)
“Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. (1 Sam. 1:18) Hana menepati janji untuk melakukan terbaik dengan bersukacita, terlepas hasilnya ia punya anak atau tidak.
B.4. MEMBAGIKAN (M4)
Sampaikan kepada banyak teman dan saudara untuk jangan melihat hasil baru setia kepada Allah, sampaikan ia hatimu, dan tepati janjimu, terlepas apapun hasilnya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

