21 Juni 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Zakaria 4:6
PENGANTAR
Sistem nilai dunia mengajarkan kita untuk menjadi pandai, hebat, berpengaruh, sukses, kaya. Dunia berkata, senjatamu yang terpenting adalah kelebihanmu atau kekuatanmu. Sistem nilai ini tentu telah memasuki gereja. Itu sebab tidak jarang kita dengar, “Kamu menjadi orang hebat, supaya nanti Tuhan bisa pakai kamu dengan heran!” sepintas kalimat ini netral aja bahkan baik, tetapi jika dikaji lebih dalam dan tidak hati-hati akan bermakna dan membuat kita, umatnya lebih menitik-beratkan pada kekuatan kita.
PEMBELAJARAN
MENEMUKAN (M1)
Sepanjang Perjanjian Lama dan Baru, kita melihat sebuah pola yang sangat kuat – Allah bekerja dengan ajaib justru melalui orang-orang yang tampak lemah. Ia melengkapi orang yang dipanggil, bukan memanggil orang yang lengkap. Abraham (dan istrinya Sara) adalah kakek-nenek yang sudah sangat tua, tak lagi mampu untuk melahirkan keturunan saat Allah memanggil mereka. Allah tidak memilih bangsa Mesir yang gagah perkasa untuk menjadi bangsa pilihan Allah, melainkan bangsa Israel, bangsa budak yang keras kepala. Allah memilih Musa yang sama sekali tidak percaya diri bicara di depan orang, apalagi di depan Firaun! Daud, seorang remaja ingusan, dipilihNya untuk melawan Goliat. Dan seterusnya. Kita berpikir bahwa Allah memakai kita melalui kelebihan kita? Tidak, Ia memakai kita justru melalui kelemahan kita. Alasannya hanya satu. Agar tidak ada seorangpun yang memegahkan diri di hadapan Allah (1 Kor 1:29). Ia tidak memilih orang yang kuat, namun menguatkan orang yang lemah, agar tidak ada yang dapat mencuri kemulianNya.

MERENUNGKAN (M2)
Kalau kita jeli, kita mungkin segera protes, “Bukankah Paulus adalah seorang yang pandai, berpendidikan, berpengaruh? Yang jelas, ia bukan orang yang lemah!” itu benar! Tetapi, Paulus sadar bahwa ia telah mengalami kuasa kasih karunia Allah saat dimana ia dibawa kepada sebuah titik dimana kekuataannya lenyap dan ia menjadi lemah. Itu sebab Paulus menulis, _“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (1 Korintus 12:9)
Kita merasa diri kuat, namun ingin dipakai Allah dengan heran? Kita perlu siap dibawa oleh Allah ke dalam pengalaman kehilangan, kehancuran, kelemahan. Saat itulah Allah dapat memakai kita, dan mendapat seluruh kemuliaan. Allah ingin kita mengalami “bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan melainkan dengan roh-Ku (Zakaria 4:6)
Ingat ketika kita merasa lemah dan tak berdaya justru kekuatan Allah itu nyata, tetapi sebaliknya ketika merasa kuat dan gagah, sering kali kita merasa tidak membutuhkan Tuhan, maka hancurlah hidup kita.

MELAKUKAN (M3)
Saat ini kita harus menyadari bahwa dalam segala kelemahan kita, justru kuasa Allah bekerja dengan dasyat, bahkan apa yang tidak dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, maka Allah akan sediakan bagi kita
Kekuatan kita bukan pada kehebatan dan kekuatan manusia, tetapi ada roh Allah yang ada di dalam kita.
MEMBAGIKAN (M4)
Katakan dan kuatkan kepada banyak Saudara kita yang sedang mengalami tantangan dan persoalan hidup atau masalah ketidakpercayaan diri, bahwa di justru dalam kelemahan aku menjadi kuat! (didalam Kristus Yesus)
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

