31 Agustus 2023
Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan: Matius 22:34-40
PENGANTAR
”Kebetulan ada seorang imam (priest) turun melalui jalan itu, ia melihat orang itu tetapi ia melewatinya”
PEMBELAJARAN
MENEMUKAN (M1)
“Apa yang sedang dilakukan oleh imam itu?” Ia sedang dalam perjalanan ke bait suci untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang imam. Karena seorang imam harus melayani di Bait Suci, jadi dia haruslah tetap tahir (suci). Hukum taurat mengatakan bahwa jika ia menjadi najis, ia tidak diizinkan untuk melayani di Bait Suci. Atau mungkin juga sang imam harus buru-buru karena ada urusan peribadatan yang penting di bait suci sehingga ia tidak menganggap bahwa menolong orang adalah sesuatu yg penting.

MERENUNGKAN (M2)
Sebagai informasi dari Hukum Taurat, salah satu cara untuk menjadi najis adalah menyentuh orang mati. “Bagaimana kalau orang di pinggir jalan itu sudah mati?” “Bagaimana ia (imam) tahu tanpa menyentuhnya?” Imam perlu memeriksa nadinya untuk memastikan apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. Jika orang ini sudah mati, maka imam itu akan menjadi najis dan tidak dapat berfungsi sebagai seorang imam pada hari itu. Maka mungkin ia mempertimbangkan semua hal itu, lalu memutuskan untuk tidak mengambil risiko dan meninggalkan orang ini di pinggir jalan. Ia harus segera melanjutkan tugas keimamannya. Ada banyak hal yang lebih baik yang perlu dilakukan demi Tuhan Allah dari pada merepotkan diri dengan seseorang yang terbaring di pinggir jalan yang bagaimanapun barangkali telah mati.
“Apa pendapat kita?” Ia mempunyai alasan yang bagus, bukan?” Imam itu mempunyai alasan yang wajar dan masuk akan bukan? Lebih dari itu, ia ada istri dan anak-anak untuk dipertimbangkan. Seandainya ia menjadi najis dan oleh karenanya tidak dapat melaksanakan tugasnya sebagai seorang imam, ia tidak akan menerima persepuluhan yang dipersembahkan di Bait Suci. Dan jika ia tidak menerima persepuluhan dari Bait Suci, maka istri dan anak-anaknya akan kelaparan (factor ekonomi).
Terdapat begitu banyak pertimbangan. Kehidupan ini begitu rumit! kita tidak bisa menyederhanakan kehidupan ini secara berlebih-lebihan. Setelah memberikan hal ini beberapa pertimbangan, Imam memutuskan, “Nah, bagaimanapun, pekerjaan Allah harus diutamakan.” Apakah itu pekerjaan Allah? Pekerjaan Allah ialah melayani di Bait Suci. Oleh karena itu, ia harus tetap tahir. Makanya, ia buru-buru ngeloyor dan ia pun pergi.
Kemungkinan besar pertimbangan dia meninggalkan, karena pekerjaan atau jabatan ia sebagai imam untuk sangat penting dan untuk tidak melanggar hukum adat istiadat. Yesus mengingatkan kita, bahwa kita sering kali kita lebih mementingkan status atau jabatan dan ketaatan atas aturan atau hukum secara lahiriah. Kita lupa bahwa intisari dari semua hukum Taurat dan kitab para nabi adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Ulangan 6:9, Matius 22:37), jadi diatas segala ketaatan akan hukum taurat adalah Kasih. Diatas semua aturan “boleh dan tidak boleh” adalah Kasih. Salah satu ekspresi kasih adalah menolong orang lain.
.

MELAKUKAN (M3)
Diatas segala ketaatan kita terhadap hukum Tuhan, diatas segala pelayanan kita dan diatas segala ibadah dan apapun yang kita lakukan, hendaklah kita melakukan atas dasar kasih, kasihlah yang mendasari semua perkara-perkara yang kita lakukan. 1 Korintus 16:14 lakukan segalanya dengan kasih.
MEMBAGIKAN (M4)
Marilah kita hidup dalam kasih dan menghidupi kehidupan kita dengan kasih serta berbuah dalam kasih karena Allah adalah Kasih (1Yohanes 4:8) Salah satu bukti hidup dalam kasih yaitu memandang manusia bukan dari latar belakang dan statusnya.
Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47

