Renungan firman

RABU – TUNGGU, JANGAN MENGHAKIMI (WAIT, DON’T JUDGE YET)

15 November 2023

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Yakobus 4:11

Relasi (hubungan) sosial manusia umumnya diwarnai oleh dinamika. Ada kalanya kita terperangkap dalam sebuah hubungan yang rumit, baik dengan sesama anggota keluarga, teman, atau saudara seiman. Situasi ini dapat memberi kita pandangan yang subjektif atau bias terhadap seseorang.
Katakanlah, kita mendengar ujaran negatif tentang seseorang. Atau, kita pernah melihat orang tersebut melakukan hal tercela. Terlepas dari pandangan subjektif kita (umpamanya, sejak dulu kita memang kurang menyukai perilakunya), janganlah kita langsung “memvonis” orang tersebut dengan julukan tertentu (labeling) . Alkitab mengatakan kita tidak boleh menghakimi orang lain menurut apa yang tampak dari luar, sekilas pandang, atau berdasarkan kata orang.


Dengan menuduh seseorang tanpa mengetahui jelas duduk perkaranya berarti kita sudah menghakiminya secara sepihak. Sama halnya dengan diam-diam melabeli seseorang dalam hati atau sengaja menggiring pendapat orang lain agar setuju dengan tuduhan kita.
Sesuatu terjadi pasti karena sebuah alasan. Alangkah baiknya kita cari tahu lebih dahulu alasan apa yang mendorong orang tersebut berbuat demikian. Mungkin masa lalu membentuknya menjadi pribadi yang demikian. Atau, orang itu sedang bergumul dengan masalah yang berat. Bisa jadi, ia sedang membutuhkan pertolongan. “Jujur kita banyak ngomongan orang tetapi tidak nolongin” (jleb banget pernyataan ini)
Lebih cepat bagi kita untuk menilai keburukan seseorang ketimbang kebaikannya. Dengan ringannya kita menunjuk kesalahan orang lain, tetapi tidak kesalahan sendiri.

REFLEKSI :

Coba kita balikkan situasinya : “Bagaimana perasaan kita ketika kita dihakimi—dicap pemalas, penipu, pencuri, sok tahu, tukang bohong, mulut ember, bebal, murahan, pecandu, tidak bisa mengurus suami/anak, bukan Kristen sejati—hanya karena sebuah peristiwa, yang barangkali tidak seperti yang kelihatannya?
Ingatlah bahwa kita semua adalah pelaku firman, dan Tuhan tidak mengangkat atau menetapkan kita sebagai hakim atas hukum-Nya. Jika kita ragu mengenai suatu perkara, janganlah terlalu cepat menjatuhkan vonis terhadap seseorang. Sebaliknya, serahkan perkara itu kepada Allah. Biarkan Tuhan sendiri yang menyatakan kebenaran-Nya kepada kita, supaya kita tidak berdosa karena main hakim sendiri, yaitu dengan menutup pikiran kita terhadap seseorang. (baca Yeremia 11:20)
“Mengapa KITA menghakimi orang lain?” Apakah untuk membuktikan bahwa KITA lebih sempurna dan lebih baik daripada mereka? Padahal, sebagai manusia, KITA pun tidak luput dari kesalahan yang sama. Dan, saat ini terjadi, yang KITA butuhkan tentunya bukanlah penghakiman.
Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. – Roma 2:1

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo4