RABU – BERPEGANG PADA KEBENARAN DALAM KASIH

12 Juni 2024

Penerbit : Departemen Pengajaran GKKD Bogor
Bacaan : Matius 7:1-5,Efesus 4:15, I Petrus 4:8

Dalam hubungan kita dengan sesama, baik dalam komunitas gereja maupun bukan, kita pasti bekerja sama dengan banyak orang. Persilangan hubungan ini berpotensi melahirkan beragam masalah. Kita dapat saling memperhatikan, saling menilai, bahkan saling mengkritik. Ketika ada sesuatu yang salah, kita bertanggung jawab menegur atau mengingatkan mereka.

Di sinilah sering timbulnya konflik. Saat kita mengatakan kebenaran, seseorang bisa saja tersinggung, marah-marah, atau menganggap kita mempermalukan mereka. Akibatnya, hubungan mungkin menjadi tidak baik.
Rasul Paulus menasihati jemaat Efesus tentang hal ini, (Efesus 4:15), dalam berbagai perbedaan, kita harus “berpegang kepada kebenaran di dalam kasih”. Frasa ini diterjemahkan dari bahasa Yunani “alētheuontes de en agapē”, yang lebih tepat diterjemahkan sebagai: “mengatakan kebenaran di dalam kasih”. Jadi saat kita mengatakan kebenaran, hendaknya kita melakukannya dengan kasih Allah. Mengapa perlu mengatakan kebenaran dengan kasih?

Kasih banyak sekali menutupi dosa (1 Petrus 4:8)

Ayat di atas bukan berarti kita setuju dengan dosa atau perbuatan dosa. Hal ini berbicara tentang motivasi atau alasan mengapa kita mengatakan kebenaran. Bukan demi kepentingan sendiri, cari nama, hendak menjatuhkan, atau mempermalukan orang lain.

Melainkan karena kita mengasihinya, maka kita pun ingin ia hidup berkenan kepada Tuhan dan berubah untuk menjadi lebih baik lagi. Sehingga hidupnya dapat menjadi kesaksian bagi banyak orang dan nama Tuhan dipermuliakan. Dan perlu diingat bahwa kita sedang menuju proses pada kesempurnaan memiliki karakter seperti Tuhan Yesus.

Kasih tidak menghakimi (Matius 7:2)

Ini berbicara tentang cara kita mengatakan kebenaran tersebut dengan tulus tanpa ada terselip tujuan-tujuan tertentu seperti menghakimi atau menyudutkan. Tuhan Yesus pernah diperhadapkan kepada seorang wanita yang kedapatan berbuat zina. Ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang juga ada pada saat itu ingin agar Tuhan Yesus juga menghakimi bahkan dan menyetujui agar wanita tersebut dirajam batu sampai mati.

Namun dengan penuh hikmat, Tuhan Yesus menuliskan sesuatu di tanah yang intinya bahwa Tuhan Yesus tidak menghakimi bahkan memberikan kesempatan untuk hidup dan berubah. Mari kita menyatakan kebenaran dalam kasih, dan mengsihi dalam kebenaran.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo