WASPADA DENGAN MARGIN KEHIDUPAN KITA

Suatu Refleksi KeEsaan Tuhan Dalam Karir, Keluarga, Kreativitas & Panggilan 

Margin adalah bahu jalan, lajur putih di sekeliling halaman buku, kelonggaran dalam tali hidup (Jhonson, Brett).Dengan kata lain margin adalah jarak yang aman antara bahaya dengan kendaraan yang ditandai dengan garis putih tebal tanpa putus-putus. Perhatikanlah bahu jalan raya yang ditandai dengan garis putih. Garis tersebut sebagai peringatan bahwa ada titik kritis di pinggir jalan raya yang bisa berakibat buruk atau berakibat baik. Bahaya selalu ada dalam setiap bidang kehidupan, seperti berkendaraan di jalan raya.

Di sebelah garis putih tebal tanpa putus-putus tersebut ada area yang disebut bahu jalan, yang gunanya untuk tempat pemberhentian kendaraan atau parkir. Itu dapat disebut juga area margin. Jika seorang supir tidak memperhatikan dengan seksama dan memahami garis dan area margin, maka akan terjadi penyalahgunaan fungsi area margin alias bahu jalan. Yang sering terjadi adalah bahu jalan digunakan untuk area gerak kendaraan. Ketika seorang sopir melakukan hal tersebut maka sesungguhnya dia sedang menantang maut. Menantang maut adalah keputusan tidak bijak dan dapat mengancam nyawa. Ketika waktu dan tempat untuk beristirahat digunakan untuk bekerja atau beraktivitas lain, maka sesungguhnya kita sedang mempersempit dan mengurangi penyediaan energi kehidupan, baik stamina rohani (Keintiman dengan Tuhan) maupun energi jasmani (pemulihan tubuh dari kelelahan).

stress-girl

Fenomena sosial di dunia kerja telah terjadi, dimana banyak orang merasa kekurangan waktu dalam dalam berbagai bidang, sebutlah ada 4 bidang besar yang pernah diklasifikasi oleh penulis dan konsultan yakni Karir (Career), Komunitas (Community), Kreativitas (Creativity) dan Panggilan (Calling) (Jhonson, Brett). Karir adalah suatu pekerjaan atau profesi yang membutuhkan satu pelatihan khusus, yang diikuti sebagai bagian dari hidup seseorang. Komunitas mengacu pada keluarga inti, keluarga jauh, persekutuan/gereja, kumpulan-kumpulan sosial. Kreativitas adalah daya cipta/potensi untuk menciptakan sesuatu. Panggilan adalah fungsi khusus di suatu bidang dalam kehidupan seseorang yang berasal dari Tuhan. Keempat bidang tersebut tentu menuntut waktu kita agar proses di dalamnya bisa terjadi. Keempat bidang itu punya tujuan dan kepentingannya tergantung dari setiap pelaku di dalamnya. Sesungguhnya pada awal Sang Pencipta mendesain Karir, Komunitas, Kreativitas dan Panggilan, semua dalam kondisi harmonis secara potensi dan bertujuan untuk memuliakan Tuhan Sang Pencipta. Keempat bidang tersebut menjadi area perjuangan manusia untuk mengakui KeEsaan Sang Pencipta dalam keempat bidang tersebut.
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Ge 1:27-28;Gal 3:20)

Namun sayang disayang, ketidakberdayaan manusia memahami konsep Keutuhan atau KeEsaan Tuhan ini menyebabkan manusia mengalamiketidakharmonisan antara Karir, Komunitas, Kreativitas dan Panggillan. Wujud ketidakharmoni adalah terjadinya tekanan satu sama lain yang semakin hari semakin kuat dan bahkan berpotensi dan sudah terjadi dimana tekanan pada karir yang begitu tinggi menyebabkan tidak sedikit komplain dari anggota keluarga (komunitas). Dengan sistem kerja masa kini yang menyita waktu lebih dari standar waktu kerja resmi (8 jam sehari-Versi Dinas Ketenagakerjaan RI) serta menguras energi jasmani yang tidak sedikit, belum lagi energi emosi positif yang berkurang karena ketidakharmonisan hubungan dan sinergi yang tidak maksmal dengan rekan kerja, menyebabkan para pekerja mengalami persoalan demi persoalan.

Di California, jumlah klaim kompensasi pegawai untuk stres mental meningkat hampir sebanyak 700% dalam kurun waktu 8 tahun dan 90% berhasil mendapatkan rata-rata $ 15,000 dibandingkan dengan rata-rata nasioanal yang hanya sebesar $ 3,240. Banyak studi cenderung berfokus pada lingkungan dan organisasi sebagai penyebab utama dari stres. Dalam beberapa studi orang-orang melaporkan bahwa 37% dari pekerjaan yang mereka lakukan adalah tidak berarti, membuang-buang waktu saja. Kenyataannya adalah ketika pekerjaan itu terasa hampa tujuannya, kita menjadi stres. Apakah seberapa lama kita bekerja menjadi lebih kurang penting dan bagaimana perasaan kita pada saat kita bekerja adalah yang lebih penting? Sebuah studi terhadap 3.020 orang karyawan maskapai penerbangan menunjukkan bahwa para karyawan yang mengatakan “hampir tidak pernah” menikmati pekerjaan mereka 2,5 kali lebih mungkin untuk melaporkan cedera punggung dibandingkan dengan mereka yang mengatakan “hampir selalu” menikmati pekerjaan mereka (Bigos, S.J.; Battle, M.C; Spengler, D.M.; Fisher, L.D.; Fordyce, W.E.; Hansonn, T.H; Nachemson, A.L.; dan Wortley, M.D. A Perspective study of work perceptions and psychosocial factors affecting the report of back injury, Spine, 1991).

Will Hutton , Chief Excecutive dari Work Foundation di Inggris mengatakan, “Banyak organisasi mengalami kesulitan untuk merekonsiliasikan kultur jam kerja yang fleksibel ke dalam kultur kerja yang sudah tertanam sekarang ini dimana penekanannya adalah kehadiran di tempat kerja dari jam 9 – 17.00. Memang bangsa Inggris mempunyai jam kerja yang paling lama di benua Eropa- akan tetapi Inggris tetap ketinggalan dalam tingkat produktivitasnya; cara kerja yang kita pegang erat-erat tidak memberikan hasil tetapi tetap saja kita tidak mau mengubahnya. (Jhonson, B).

Data dan fakta di atas menjelaskan kepada kita bahwa tekanan dunia kerja di Amerika begitu kuat terhadap sistem sosial dan merembet kepada kesehatan mental dan fisik para karyawan. Ditambah data di Inggris dengan kedisiplinan menjalani jam kerja 8 jam sehari ternyata produktivitas tetap ketinggalan. Aspek psikososial dalam dunia kerja sangat berpengaruh pada produktivitas kerja. Ketika ruang sosial seseorang dibatasi maka hubungan dengan orang-orang terdekat atau kolega dekat menjadi terganggu dan terancam. Ancaman terberat adalah ketika suami dan istri dengan anak-anak menjadi tidak akrab lagi dan sudah tidak memiliki waktu berkualitas lagi. Ketika disharmoni terjadi, maka celah-celah konflik akan terbuka. Ketidakberdayaan karena penyitaan waktu kerja, tenaga dan emosi yang tidak kecil menyebabkan konflik demi konflik yang muncul tidak mampu untuk diselesaikan. Kalaupun bisa diatasi, dibutuhkan tambahan energi emosi dan pikiran sehat dan bijak.

Hampir-Hampir Situasi Di Atas Mempertipis Area Margin Kita. Waktu Istirahat Berkualitas (Resting Time) Telah Dimakan Oleh Tekanan Karir. Harga Area Margin Terasa Menjadi Sangat Mahal Dan Berarti, Padahal Margin Itu Sendiri Sudah Tersedia Baik Dari Awalnya. Disharmoni Antara Karir Dan Komunitas Telah Terjadi Hampir Dimana-Mana. Area Margin Sudah Terpakai Dengan Prosentase Yang Tidak Sedikit. Waktu Terbaik Bagi Setiap Kita Mulai Menipis Untuk Bersekutu Kepada Tuhan Sang Pencipta Dan Pemilik Hidup. Waktu Berkualitas Keluarga Digantikan Dengan Transaksi Bisnis Tanpa Batas Waktu, Dimana Siang Terasa Menjadi Lebih Panjang, Sedangkan Malam Menjadi Lebih Pendek. Komunikasi Alakadarnya Terjadi Antara Suami Dan Istri, Orangtua Dengan Anak-Anak, Apalagi Mungkin Suami Sebagai Seorang Anak Dengan Orangtuanya. Lemburan Kerja Mengusik Pikiran Sehat Manusia Tentang Hukum Waktu Yang Bersifat Tetap Dan Bergerak Maju. Pikiran Sehat Seolah-Olah Terdorong Secara Terpaksa Untuk Berpikir “Seandainya Satu Hari Menjadi 25 Jam….”. Kesibukan Tanpa Tujuan Dan Batasan Yang Jelas Menyudutkan Sebagian Besar Para Pekerja Ke Sudut Ring Pertandingan Hidup, Dan Ketika Mau Bergerak Ke Tengah Arena Pertandingan, Sang Petanding Tak Bisa Bergerak Karena Area Margin Telah Terkunci Oleh Kesibukan Dan Tuntutan Karir Di Salah Satu Sudut Ring Pertandingan Tersebut.

Dalam kehidupan orang-orang muda, kekaburan arti dan pendalaman Keesaan Tuhan dalam pendidikan dan pergaulan. Seringkali terjadi pemisahan antara Tuhan yang dipercayai dengan jodoh. Adakalanya kesungguhan beribadah dialami orang-orang muda, tetapi adakalanya juga ketika masuk ke dalam perkara jodoh, mereka berupaya dengan pemahaman dan cara tersendiri. Tuhan tersandera dengan kesempitan berpikir orang muda. Seolah-olah ibadah adalah bagian untuk Tuhan, perjodohan adalah bagian “saya”. Ditambah dengan berbagai macam aktivitas sosial orang muda, menyebabkan munculnya rasa kekurangan waktu. Yang cenderung ditinggalkan pada saat kesibukan sebagai orang muda begitu banyak adalah hal beribadah kepada Tuhan dan interaksi dengan keluarga inti (ayah, ibu dan saudara). Inilah disebut pemisahan bagian-bagian kehidupan. Waktu yang sangat banyak diisi dengan berbagai ragam aktivitas, berpotensi menjauhkan orang muda dari Tuhan dan hadiratNya.

Apakah refleksi diri buat kita hari ini? Seberapa pahamkah anda tentang margin kehidupan? Seberapa penting area margin kehidupan buat anda? Isitilah margin kehidupan yang menjelaskan kepada kita bahwa setiap orang membutuhkan Tuhan yang Esa untuk mengatur dan menghubungkan semua bagian kehidupan kita yakni karir, komunitas, kreativitas dan panggilan (Career, Community, Creativity & Calling) sehingga tercipta keharmonisan hubungan antara keempat bidang besar kehidupan tersebut. Ketika kita memahami tentang KeEsaan Tuhan, maka kita akan mengerti bahwa sesungguhnya tidak akan pernah ada fragmentasi kehidupan atau pembagian atau sekat-sekat kehidupan antara karir, komunitas, kreativitas dan panggilan, tidak akan ada pemikiran untuk membuat prosentasi pembagian waktu yang dianggap seimbang antara karir, komunitas, kreativitas dan panggilan. Jika kita membuka diri dengan percaya akan Kekuatan KeEsaan Tuhan, maka integrasi kehidupan itu pasti terjadi pada waktunya Tuhan. Semuanya adalah tentang Tuhan. Pepatah mengatakan “Do your best, God do the rest” (Lakukan bagianmu yang terbaik, maka Tuhan akan melakukan bagianNya).

convergence

Inginkah anda kembali meraih waktu berkualitas dengan orang-orang yang disayangi dan tanpa anda mengabaikan karir anda sebagai sumber pendapatan keluarga? Itulah sebabnya kita membutuhkan banyak waktu bersaat teduh, waktu khusus dengan Tuhan setiap saat, bukan hanya bersifat situasional (hanya pada waktu bangun pagi, saat beribadah di rumah ibadah). Margin atau waktu istirahat untuk Tuhan harus diperbesar, agar kita mengalami penyegaran dan penajaman kembali , arti dan tujuan hidup sehingga kita mengalami kebahagiaan hidup seumur hidup kita. Kita tidak perlu lagi tertekan, kecewa atau putus asa diantara karir, komunitas, kreativitas dan panggilan. Jangan perbanyak aktivitas anda tanpa anda mengerti tujuannya. Sebab anda akan merasa waktu sangat terbatas dan anda bisa kehilangan fokus kepada Tuhan. Kalaupun Anda memiliki jadwal aktivitas baru (sebagai orang muda, karyawan, pengusaha, ibu rumah tangga, pegawai negeri), berusahalah bertanya, apakah aktivitas ini menyebabkan saya semakin dekat kepada Tuhan dan melakukan kehendakNya atau sebalikya hanya menambah kesibukan yang menjauhkan kita dari persekutuan dengan Tuhan.

Lakukanlah beberapa langkah praktis berikut :
1. Buatlah batasan anda tentang karir (Career), komunitas (Community), kreativitas               (Creativity) dan panggilan(Calling)!
2. Perhatikanlah keempat bidang tersebut, apakah ada pertalian diantaranya? Jika ada, gambarkan dan ceritakan kepada orang terdekat anda, keluarga atau sahabat anda. Jika tidak, ambillah waktu sejenak untuk bersaat teduh kepada Tuhan, dan bertanyalah apakah arti semua ini?
3. Tuliskan jawaban anda di buku pribadi anda. Suatu saat anda tentu akan membukanya kembali selama anda masih hidup dan beraktivitas.
(SSH)
nai-sepeda

Testimoni :

Sesudah disesatkan karena mempercayai bahwa keseimbangan dalam hidup adalah sebuah konsep yang Alkitabiah, saya merasa sangat lega untuk diperkenalkan kepada konvergensi. Saya selalu banyak menghabiskan waktu untuk mengendalikan konflik antara karier dan komunitas (keluarga, teman2 kantor, kumpulan sosial) sehingga saya mempunyai sedikit waktu yang tersisa untuk berfokus pada panggilan saya dan kreativitas saya. Hal ini membuat saya selalu berada dalam keadaan frustrasi dan membuat saya tidak bisa bersukacita. Lewat pemahaman saya tentang konvergensi dan mulai melakukannya, saya tidak hanya bisa menggabungkan aktivitas pelayanan saya dengan bisnis saya, tetapi Tuhan juga telah membuatnya menjadi mungkin untuk menggabungkan keluarga saya ke dalam bisnis saya. Bisnis saya menjadi lebih baik, pernikahan saya lebih baik, pelayanan saya lebih kuat dan anak-anak saya belum pernah sebahagia seperti sekarang ini. Baru-baru ini saya menghabiskan delapan bulan di Eropa untuk sebuah proyek klien. Pada saat yang sama, saya membimbing seorang pemimpin dan membantunya memulai sebuah kegiatan rohani di Kansas City, saya adalah seorang suami dari istri saya, dan seorang ayah dari anak-anak berumur enam belas, dua belas dan sembilan tahun. Tapa konvergensi , Skype dan anugerah Tuhan yang Maha Kuasa, hal ini tidak mungkin bisa terjadi. Saya tidak bisa membayangkan kembali kepada kehidupan yang terpisah-pisah. Sekarang saya memprioritaskan  segala aspek hidup ke dalam satu ember, mengutamakan hanya satu prioritas pada tiap waktunya. (Sumber : Mike Cheeves adalah Presiden dari Kairos Global. www.inkairos.com).

Cerita apakah ini? Apakah kisah nyata ini menjadi satu hal aneh atau rasanya tidak mungkin bisa terjadi? Bagaimana hal demikian bisa terjadi dalam hidup kita?

Bisa saja muncul pertanyaan yang penuh tanda tanya atau rasa ingin tahu yang dalam. Atau sebaliknya bisa juga pertanyaan dengan muatan sinis alias rasanya itu hanya cerita yang penuh rekayasa. Saya adalah seorang yang sangat tertarik dengan makna dan penerapan konvergen dalam hidup manusia. Sebelum saya mengikuti shortcourse Convergence , memang muncul ragam pertanyaan yang juga bernada sinis dan tidak percaya. Dengan melihat tekanan yang saling tarik menarik antara Karir, keluarga/komunitas, kreativitas dan panggilan hidup, membuat saya hampir menutup diri terhadap pelatiihan ini. Kesimpangsiuran permasalahan  yang tak terselesaikan membentuk benang kusut yang akhirnya hampir-hampir tidak dapat menemukan ujung dan pangkal permasalahan. Dengan Konsep Convergence ini, ternyata secara perlahan-lahan dapat menolong saya menemukan pangkal dan ujung dari kompleksitas permasalahan yang saya hadapi.

Penulis: Pdt. Santoso S. Hutabarat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *