JUMAT – Kata-kata Pengampunan

25 Juni 2021

By : Hendrik Yulianto
Lukas 23:34, Kisah 7:60
A. PENGANTAR

Saat-saat menjelang kematianNya dikayu salib, Tuhan Yesus masih sempat memberikan teladan yang luar biasa kepada kita yaitu Dia mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia dengan mengucapkan kata-kata pengampunan kepada mereka. Perkataan orang yang akan meninggal biasanya adalah perkataan yang sangat penting untuk dituruti. Begitu juga dengan perkataan Tuhan Yesus ini, merupakan perkataan yang sangat penting bagi kita karena memuat teladan dan pelajaran yang begitu berharga bagi kita orang-orang yang percaya kepadaNya. Jika kita mengaku percaya kepadaNya maka kita harus mengikuti teladanNya.
Stefanus dalam Kis 7:60 juga memberikan contoh bagi kita, bagaimana dia meneladani apa yang Tuhan Yesus ajarkan yaitu mengampuni orang-orang yang merajam dia dengan batu. Bisa kita bayangkan dalam keadaan mungkin sakit yang tidak tertahankan ada keteduhan dan kesabaran yang luar biasa dari Stefanus. Dia masih sempat mengucapkan kata-kata pengampunan untuk musuh-musuhnya. Kita seringkali baru direndahkan lewat kata-kata saja reaksi kita atau amarah kita sudah seperti orang yang hendak melempari batu dalam arti serangan balik dalam bentuk kata-kata yang lebih telak atau lebih menyakiti.
Jadi seperti halnya Stefanus kita juga harus berani dan mau memberikan pengampunan kepada orang-orang yang menyakiti kita. Ya pastinya ini tidak mudah dilakukan. Apalagi jika orang tersebut sepertinya membusukkan nama dan harga diri kita, atau orang itu menipu kita sehingga membuat kita rugi puluhan bahkan ratusan juta, atau kata-katanya sangat merendahkan kita sehingga itu melukai hati kita, atau mungkin juga menyakiti secara fisik (KDRT, Orang tua yang keras dan main fisik, dsb). Kita harus belajar melepaskan kata-kata pengampunan kepada orang yang menyakiti kita.

Kata-kata pengampunan yang dimaksud bukanlah kata-kata yang sekedar di bibir saja tapi juga lahir dari hati yang tulus dan penuh kasih seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Tidak mungkin Tuhan Yesus yang dalam rupa manusia yang sedang mengalami penderitaan hebat seperti itu atau Stefanus yang sedang dilempari batu mengucapkan perkataan yang hanya pura-pura saja. Pastinya kata-kata pengampunan yang Tuhan Yesus dan Stefanus ucapkan adalah kata-kata pengampunan yang tulus dan lahir dari kasih yang luar biasa.

B. PEMBELAJARAN
B.1. MENEMUKAN (M1)
  1. Apa alasan Tuhan Yesus meminta Bapa mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia? Lukas 23:34
  2. Apa yang Stefanus minta kepada Tuhan untuk orang-orang yang melemparinya dengan batu? Kis 7:60
B.2. MERENUNGKAN (M2)

Mari renungkan bahwa seharusnya tidak ada kesakitan, penderitaan, kehinaan yang hebat sekalipun yang bisa menghalangi kita untuk melepaskan kata-kata pengampunan kepada orang yang menyebabkan itu semua. Teladan Tuhan Yesus mengajarkan kita bahwa mengampuni adalah sesuatu yang bisa dan mungkin dilakukan bahkan kepada orang-orang yang menyebabkan kita menderita hebat (fisik ataupun non fisik) sekalipun seperti yang dialami Tuhan Yesus. Radikal memang, tapi memang seperti itulah kasih Tuhan kita sangat radikal.

B.3. MELAKUKAN (M3)

Kata “ampunilah” di Lukas 23:34 selain berarti maafkan juga bisa berarti tinggalkan, untuk menghilangkan, mengabaikan, membiarkan, melepaskan. Jadi kalau hari ini masih ada luka hati yang mengendap dalam hati dan hidup kita, kita harus belajar untuk melepaskan, meninggalkan, menghilangkan itu semua. Jangan mau tersandera oleh sakit hati, dendam dan akar pahit. Karena semua itu hanya membawa kita kepada kebinasaan dan kita bukanlah anak-anak Bapa jika tidak bisa mengampuni. Katakan kata-kata pengampunan kepada orang-orang yang pernah, dan mungkin saat ini sedang menyakitimu. Bahkan kepada orang-orang yang mungkin akan menyakiti kita yang kita tidak tahu, kita harus sudah siap untuk mengampuni. Artinya kita sudah harus punya cadangan hati untuk mengampuni. Jika kita perhatikan dengan seksama Lukas 23:34 dan Kis 7:60, Tuhan Yesus dan Stefanus bukan hanya mengampuni orang-orang yang menyakiti mereka tapi juga mengharapkan yang baik/mendoakan yang baik kepada orang-orang yang menyakiti mereka. Tuhan Yesus dan Stefanus tidak mau orang-orang itu terhukum dan menanggung kesalahan mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Jadi pengampunan yang sejati bukan hanya bicara kita melepaskan kata-kata pengampunan dan mengampuni orang-orang yang menyakiti kita tapi juga kita mengharapkan yang baik untuk orang-orang itu. Jika kita bisa melakukannya, patutlah kita disebut anak-anak Bapa disurga. Halleluya!

B.4. MEMBAGIKAN (M4)

Saksikan kepada saudara seiman pengalamanmu melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang menyakitimu dan betapa pengalaman itu membuatmu semakin bertumbuh dalam kasihmu kepada Tuhan.

Link pembaca renungan: https://forms.gle/fXYnEWDbH8gqjwo47